Selasa, 14 April 2026
Amandit FM
Kesehatan

Penyebab Ngantuk Berat Jam 2 Siang Saat Puasa dan Cara Mengatasinya

Hafizah Fikriah Waskan - Sunday, 01 March 2026 | 03:00 PM

Background
Penyebab Ngantuk Berat Jam 2 Siang Saat Puasa dan Cara Mengatasinya
Mengantuk saat puasa (Pexels.com/Yelyzaveta Martynenko)

Menyingkap Misteri Mata Berat Saat Puasa: Kenapa Sih Kita Jadi Zombi di Siang Bolong?

Pernah nggak sih kamu merasa kalau jam dua siang di bulan Ramadan itu rasanya lebih lama daripada nungguin balasan chat dari gebetan? Mata rasanya kayak ditempelin magnet yang kuat banget ke meja kerja, kepala mulai oleng, dan konsentrasi entah lari ke mana. Padahal, kalau dipikir-pikir, kita kan nggak habis lari maraton. Kita cuma duduk manis di depan laptop, tapi raga ini rasanya pengen banget rebahan sampai azan Magrib berkumandang.

Banyak orang bilang, "Ah, itu karena kurang makan aja." Tapi jujur deh, fenomena 'ngantuk berjamaah' ini sebenarnya lebih kompleks dari sekadar perut keroncongan. Fenomena ini semacam ritual tahunan yang dialami hampir semua orang yang berpuasa, mulai dari anak magang sampai bos besar. Nah, biar kita nggak cuma bisa mengeluh sambil nguap lebar-lebar, yuk kita bedah secara santai tapi berisi, kenapa sih tubuh kita hobi banget ngajak kompromi buat tidur siang pas lagi puasa.

Ritme Sirkadian yang Lagi 'Ngambek'

Penyebab paling utama dan paling logis adalah berubahnya pola tidur kita. Biasanya kita tidur jam 11 malam dan bangun jam 6 pagi. Tapi pas Ramadan? Jadwalnya berubah total. Kita harus bangun jam 3 pagi buat sahur—sebuah perjuangan yang luar biasa berat bagi kaum yang sulit melek di pagi buta. Setelah sahur, biasanya ada dua tipe manusia: mereka yang langsung lanjut tidur (dan biasanya bangun-bangun malah pusing) atau mereka yang maksa melek sampai jam kerja dimulai.

Perubahan mendadak ini bikin jam biologis atau ritme sirkadian tubuh kita bingung. Tubuh yang biasanya lagi dalam fase tidur paling nyenyak alias deep sleep, dipaksa bangun buat makan nasi padang atau mi instan. Akibatnya, kualitas tidur kita jadi berantakan. Tubuh merasa belum 'selesai' istirahat, sehingga dia menagih utang tidur itu di siang hari. Inilah alasan kenapa jam 10 pagi mata kamu sudah mulai sayu-sayu manja.

Otak yang Kekurangan 'Bahan Bakar' Instan

Mari kita bicara sedikit soal sains tanpa perlu jadi kaku kayak buku teks biologi. Tubuh kita itu butuh glukosa sebagai sumber energi utama, terutama buat otak. Saat tidak puasa, glukosa ini terus disuplai dari makanan yang kita konsumsi sepanjang hari. Tapi pas puasa, suplai itu terputus selama belasan jam.

Sekitar 6 sampai 8 jam setelah makan sahur, cadangan glukosa dalam darah mulai menipis. Di sinilah tubuh mulai memutar otak buat cari sumber energi cadangan. Sayangnya, proses transisi dari membakar glukosa ke membakar cadangan lemak itu nggak secepat membalikkan telapak tangan. Selama masa transisi ini, level energi kita bakal drop. Otak yang kekurangan 'bensin' instan ini akhirnya mengirim sinyal berupa rasa kantuk agar tubuh nggak melakukan banyak aktivitas dan menghemat energi yang tersisa. Jadi, ngantuk itu sebenarnya mekanisme pertahanan tubuh supaya kamu nggak pingsan di tengah jalan.

Dehidrasi: Si Pencuri Fokus

Nah, ini yang sering disepelekan. Banyak orang fokus ke rasa lapar, padahal rasa haus itu jauh lebih bikin ngantuk. Tubuh manusia itu sebagian besar isinya air. Kalau kita kekurangan cairan, volume darah kita bakal sedikit berkurang dan jadi lebih kental. Akibatnya, jantung harus kerja ekstra keras buat memompa darah ke seluruh tubuh, termasuk ke otak.

Kalau oksigen yang dibawa darah ke otak melambat, dampaknya cuma satu: kamu bakal merasa lemas, pusing, dan tentu saja... menguap terus-menerus. Kurang minum saat sahur atau terlalu banyak mengonsumsi kafein yang bikin sering buang air kecil (diuretik) justru bakal memperparah kondisi ini di siang hari. Jadi, jangan heran kalau sore-sore kamu merasa kayak zombi yang kehilangan arah.

Hormon Orexin yang Sedang 'Cuti'

Ada hal menarik di dalam otak kita yang namanya sel saraf orexin. Tugas sel ini adalah menjaga kita tetap waspada dan terjaga. Uniknya, aktivitas sel orexin ini sangat dipengaruhi oleh asupan nutrisi. Saat kita makan, sel ini aktif dan bikin kita merasa bugar. Begitu perut kosong dalam waktu lama, aktivitas orexin bakal menurun drastis.

Turunnya aktivitas orexin ini secara otomatis menurunkan tingkat kewaspadaan kita. Itulah kenapa kalau lagi puasa, rasanya susah banget buat diajak mikir keras atau diajak diskusi berat. Rasanya pengennya cuma scrolling media sosial atau bengong menatap cicak di langit-langit kantor. Ini manusiawi banget, kok. Memang sudah setelan pabriknya begitu kalau lagi nggak ada asupan nutrisi.

Gaya Hidup: Musuh Tersembunyi di Balik Rasa Kantuk

Selain faktor biologis, jujur aja deh, gaya hidup kita selama Ramadan juga berpengaruh besar. Siapa yang habis tarawih malah lanjut nongkrong sampai tengah malam? Atau siapa yang habis sahur bukannya baca buku malah asyik main game sampai matahari terbit?

Kebiasaan-kebiasaan ini sebenarnya yang bikin rasa ngantuk makin menjadi-jadi. Kita seringkali kompensasi waktu makan dengan mengorbankan waktu istirahat. Ditambah lagi, saat buka puasa kita sering 'balas dendam' dengan makan makanan yang tinggi gula dan karbohidrat (halo, gorengan dan es buah!). Lonjakan gula darah yang drastis setelah buka puasa (sugar rush) biasanya diikuti dengan penurunan drastis pula (sugar crash) yang bikin kita malah makin lemas keesokan harinya.

Gimana Biar Nggak Jadi Zombi Terus?

Oke, ngantuk memang normal, tapi bukan berarti kita harus pasrah gitu aja dan membiarkan produktivitas terjun bebas. Ada beberapa trik kecil yang bisa dicoba. Pertama, manfaatkan power nap. Tidur sebentar saja, sekitar 15-20 menit di jam istirahat kantor, bisa me-refresh otak secara ajaib. Tapi ingat, jangan kebablasan sampai dua jam, yang ada malah bangun dengan kondisi 'nyawa belum kumpul'.

Kedua, perhatikan asupan saat sahur. Kurangi makanan yang terlalu manis dan perbanyak serat serta protein supaya energinya dilepas perlahan oleh tubuh (slow release energy). Dan yang paling penting, tetaplah aktif bergerak. Walaupun rasanya pengen 'mager', jalan kaki ringan atau sekadar peregangan bisa membantu melancarkan aliran oksigen ke otak.

Kesimpulannya, rasa ngantuk saat puasa itu adalah gabungan antara protes biologis tubuh yang jadwalnya berubah dan cara tubuh kita menghemat energi. Nggak perlu merasa bersalah kalau sesekali mata terasa berat. Yang penting, tetap tahu batasan dan pintar-pintar mengelola waktu antara ibadah, kerja, dan istirahat. Semangat ya, puasanya tinggal sebentar lagi kok menuju kemenangan!

Tags