Rabu, 15 April 2026
Amandit FM
Kesehatan

Ramadan Bukan Ajang Balas Dendam: Seni Tetap Waras dan Bugar di Bulan Suci

Hafizah Fikriah Waskan - Saturday, 21 February 2026 | 02:00 PM

Background
Ramadan Bukan Ajang Balas Dendam: Seni Tetap Waras dan Bugar di Bulan Suci
Buka puasa bersama (Pexels.com/RDNE Stock project)

Setiap kali hilal mulai terlihat, lini masa media sosial kita mendadak berubah. Isinya kalau nggak foto jadwal imsakiyah, ya meme-meme kocak soal sikat gigi yang katanya membatalkan puasa kalau ketelan bareng bakso. Tapi di balik euforia "war takjil" yang makin ke sini makin kompetitif itu, ada satu masalah klasik yang selalu berulang tiap tahun: badan lemas, perut kembung, dan mata yang beratnya minta ampun pas jam-jam kritis sore hari.

Banyak dari kita yang menganggap kalau puasa itu ya wajar kalau jadi zombi sebentar. Padahal, kalau ditarik ke belakang, masalahnya bukan di puasanya, tapi di kelakuan kita pas sahur dan buka. Kita sering kali menjadikan momen buka puasa sebagai ajang "balas dendam" paling brutal sepanjang sejarah hidup. Semua yang ada di meja makan disikat, mulai dari kolak yang manisnya melebihi janji manis mantan, sampai gorengan yang minyaknya bisa buat goreng satu kloter lagi.

Sahur Bukan Sekadar Formalitas Mi Instan

Jujur saja, siapa yang kalau bangun sahur mepet imsak langsung lari ke dapur buat bikin mi instan pakai telur? Enak sih, praktis banget malah. Tapi masalahnya, karbohidrat sederhana kayak gitu cuma bakal bikin kenyang sesaat. Dua jam setelah subuh, perut kamu bakal mulai konser dan badan rasanya kayak habis dikuras tenaganya. Ini nih yang bikin kita jadi kaum rebahan garis keras selama puasa.

Kuncinya sebenarnya ada di karbohidrat kompleks. Coba deh sesekali ganti nasi putih atau mi itu dengan nasi merah, oatmeal, atau ubi. Mereka ini sifatnya "slow release", alias energinya dilepas pelan-pelan ke tubuh. Jadi kamu nggak bakal ngerasa "anjlok" di tengah hari. Jangan lupa juga protein. Telur, tempe, atau dada ayam itu krusial biar otot kamu nggak ikutan lemas. Ingat, kita mau ibadah dan kerja, bukan mau jadi figuran di film The Walking Dead.

Satu lagi yang sering dilupakan: sayur dan buah. Serat itu fungsinya kayak rem. Dia menahan rasa kenyang lebih lama di perut. Kalau kamu sahur cuma pakai nasi dan kerupuk, ya jangan komplain kalau jam 10 pagi sudah bolak-balik nengok jam dinding.

Tragedi Takjil dan Jebakan Gula

Nah, sekarang kita bahas soal buka puasa. Momen paling membahagiakan sekaligus paling berbahaya. Begitu azan magrib berkumandang, rasanya semua dendam kesumat selama 13 jam pengen ditumpahkan saat itu juga. Es campur, gorengan lima biji, martabak, lalu disambung nasi padang. Wah, itu bukan buka puasa, itu namanya "food koma".

Secara medis, memasukkan gula dalam jumlah masif ke perut yang kosong itu bikin kadar gula darah melonjak drastis, lalu jatuh dengan kecepatan tinggi (sugar crash). Itulah kenapa habis buka puasa banyak yang bukannya segar, malah ngantuk berat sampai malas mau salat tarawih. Solusinya? Balik ke sunnah yang masuk akal: mulai dengan air putih dan sesuatu yang manisnya alami kayak kurma. Kurma itu isinya serat dan gula alami yang pelan-pelan balikin energi kamu tanpa bikin kaget sistem pencernaan.

Dan tolong, kontrol nafsu sama gorengan. Saya tahu, bakwan hangat dicocol sambal kacang itu godaannya lebih berat daripada godaan diskon belanja online. Tapi minyak yang berlebihan itu bikin pencernaan kerja keras dan sering kali jadi pemicu panas dalam atau radang tenggorokan. Boleh makan, tapi ya tahu diri, jangan satu piring dihabiskan sendirian.

Strategi Hidrasi 2-4-2

Masalah lain yang sering disepelekan adalah dehidrasi. Banyak yang merasa sudah cukup minum karena pas buka langsung tenggak es teh dua gelas besar. Padahal, kafein di teh itu sifatnya diuretik, alias bikin kamu makin sering kencing dan akhirnya cairan tubuh malah makin berkurang. Air putih tetap juaranya.

Gimana caranya minum 8 gelas sehari pas lagi puasa? Pakai rumus simpel 2-4-2. Dua gelas pas buka, empat gelas pas malam hari (bisa dicicil sebelum dan sesudah tarawih atau sebelum tidur), dan dua gelas lagi pas sahur. Kedengarannya gampang, tapi praktiknya sering lewat gara-gara kita lebih milih minum es sirup yang warnanya mencolok itu. Ingat, ginjal kamu butuh air putih buat "cuci gudang" sisa-sisa metabolisme selama puasa.

Tidur Itu Ibadah, Tapi Begadang Itu Musuh

Budaya Ramadan di kita itu unik, salah satunya adalah munculnya "kalong-kalong" baru. Banyak yang saking asyiknya ngobrol habis tarawih atau main game sampai subuh, akhirnya nggak tidur sama sekali. Padahal, kurang tidur itu musuh utama kesehatan saat puasa. Metabolisme jadi berantakan, dan hormon lapar (ghrelin) bakal naik tajam. Makanya orang yang kurang tidur pas puasa cenderung lebih cepat lapar dan emosian.

Kalau memang jadwal tidur malam berkurang gara-gara harus bangun sahur, coba manfaatkan "power nap" di siang hari. Tidur 15-20 menit pas jam istirahat kantor itu ampuh banget buat nge-reset otak. Jangan tidur kelamaan juga, karena nanti pas bangun malah pusing dan makin lemas. Intinya, manajemen waktu itu kunci biar wajah nggak kelihatan kuyu pas lagi diajak meeting atau ketemu klien.

Kesimpulan: Sehat Itu Pilihan, Bukan Kebetulan

Puasa itu sebenarnya momen detoksifikasi alami yang luar biasa buat tubuh kalau kita melakukannya dengan benar. Ini adalah waktu di mana organ pencernaan kita istirahat sejenak dari tugas beratnya mengolah makanan tanpa henti. Jadi, sangat disayangkan kalau momen emas ini malah kita rusak dengan pola makan yang berantakan.

Menjaga kesehatan saat puasa itu nggak perlu serumit nyusun skripsi. Cukup tahu porsi, tahu waktu, dan tahu diri. Jangan sampai pas Idul Fitri nanti kita bukannya tampil glowing dan segar, malah tumbang kena kolesterol atau asam lambung gara-gara pola makan yang nggak terkontrol. Yuk, jadikan Ramadan tahun ini sebagai pembuktian kalau kita bisa tetap produktif, tetap bugar, dan tentu saja tetap bahagia meski perut sedang berpuasa. Selamat berpuasa, para pejuang takjil yang tetap peduli kesehatan!

Tags