Jumat, 17 April 2026
Amandit FM
Kesehatan

Fenomena War Takjil Viral: Tradisi Berburu Menu Manis

Hafizah Fikriah Waskan - Monday, 23 February 2026 | 05:00 PM

Background
Fenomena War Takjil Viral: Tradisi Berburu Menu Manis
Berbelanja (Pexels.com/Jack Sparrow)

Antara Tradisi dan Sugar Rush: Dilema Makanan Manis Pas Buka Puasa

Bayangkan pemandangan ini: matahari mulai malu-malu bersembunyi di ufuk barat, jalanan mendadak macet total oleh lautan motor yang menepi di pinggir jalan, dan aroma santan serta gula merah mulai menyeruak dari gerobak-gerobak pinggir jalan. Ya, itulah keriuhan "war takjil" yang belakangan ini viral. Di tengah kerumunan itu, satu kalimat sakti biasanya terngiang di kepala kita semua: Berbukalah dengan yang manis. Seolah-olah, tanpa asupan gula yang nendang, ritual berbuka puasa kita belum sah secara adat maupun biologis.

Tapi, pernah nggak sih kalian berpikir dari mana asal-usul jargon itu? Atau kenapa kok lidah kita seolah-olah ditarik paksa untuk nyari es pisang ijo atau biji salak tepat saat beduk magrib bergema? Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, seharian kita sudah menahan lapar dan haus, tapi kok yang dicari malah yang bikin gigi linu? Mari kita bedah fenomena ini dengan gaya santai, sambil nunggu jam berbuka yang kadang terasa lebih lama dari masa tunggu jodoh.

Kenapa Otak Kita Mendadak Jadi "Sugar Craver"?

Secara sains yang nggak usah terlalu rumit, tubuh kita setelah puasa belasan jam itu ibarat baterai HP yang sisa satu persen dan logo merahnya sudah kedip-kedip minta dicolok charger. Selama puasa, kadar glukosa dalam darah menurun drastis. Glukosa ini adalah bahan bakar utama otak dan otot kita. Makanya, wajar banget kalau pas sore-sore kita merasa agak lemot, gampang emosi alias sumbu pendek, atau bahkan pusing. Tubuh kita sedang dalam mode hemat energi.

Nah, makanan manis adalah jalur ekspres untuk mengembalikan energi tersebut. Gula, terutama jenis sederhana, sangat cepat diserap oleh tubuh untuk diubah jadi glukosa. Jadi, dorongan untuk makan yang manis-manis itu sebenarnya adalah sinyal darurat dari otak yang teriak, "Woi, kasih gue bensin sekarang juga!" Masalahnya, sinyal darurat ini sering kali kita artikan sebagai lampu hijau untuk kalap. Kita merasa berhak melakukan balas dendam atas penderitaan menahan lapar seharian dengan mengguyur tenggorokan pakai sirup sedingin es kutub utara.

Kolak, Es Buah, dan Representasi Kebahagiaan Hakiki

Di Indonesia, makanan manis saat berbuka bukan cuma soal urusan perut, tapi sudah masuk ke ranah kultural. Lihat saja koleksi takjil kita. Ada kolak pisang yang kuahnya kental penuh santan dan gula aren, ada es buah yang warnanya lebih meriah dari pesta kembang api, sampai biji salak yang kenyalnya bikin nagih. Belum lagi martabak manis yang menteganya banjir sampai ke kotak kardusnya. Semua itu adalah "comfort food" yang memberikan kepuasan instan.

Secara psikologis, ada hormon dopamin yang dilepaskan saat kita mengonsumsi gula. Dopamin ini adalah hormon pemberi rasa senang. Itulah kenapa tegukan pertama es teh manis atau gigitan pertama kurma terasa begitu magis. Seolah semua beban kerjaan dan stres seharian itu luruh seketika. Tapi jujur saja, kita sering kali melewati batas tipis antara "memulihkan energi" dan "mabuk gula". Kita sering lupa kalau perut yang kosong itu butuh pemanasan, bukan langsung dihantam beban berat layaknya atlet angkat besi.

Jebakan Batman di Balik Rasa Manis

Jujur-jujuran aja ya, siapa di sini yang pernah merasa ngantuk luar biasa setelah berbuka sampai-sampai salat magrib pun rasanya berat banget, apalagi tarawih? Nah, itu dia efek samping dari yang namanya sugar rush yang diikuti oleh sugar crash. Ketika kita memasukkan gula dalam jumlah banyak secara mendadak, level gula darah kita melonjak drastis. Tubuh pun kaget dan memproduksi insulin secara besar-besaran untuk menyeimbangkannya.

Hasilnya? Kadar gula darah malah merosot tajam kembali. Efeknya ya itu tadi: lemas, mengantuk, dan rasanya pengen rebahan sampai subuh. Bukannya jadi bertenaga buat ibadah di malam hari, kita malah jadi "zombie" di atas sajadah. Belum lagi masalah kalori yang numpuk. Makanan manis yang kita anggap "cuma cemilan" itu seringkali kalorinya lebih besar dari sepiring nasi padang kalau kita nggak kontrol porsinya. Jadi jangan kaget kalau pas lebaran nanti, celana jin favorit mendadak jadi musuh bebuyutan karena nggak bisa dikancing.

Tips Biar Nggak Zonk Pas Berbuka

Terus gimana dong? Masa kita nggak boleh makan manis? Ya boleh banget, masa mau buka pakai air tawar dan kerupuk doang? Sedih amat hidupnya. Kuncinya ada di pilihan jenis manisnya dan cara makannya. Secara sunah dan medis, kurma sebenarnya adalah jawaban terbaik. Kurma mengandung gula alami (fruktosa dan glukosa) yang dikombinasikan dengan serat. Jadi, penyerapan gulanya nggak langsung "jederr" bikin kaget tubuh, tapi bertahap.

Kalau tetap mau es buah atau kolak, coba deh porsinya dikontrol. Jangan satu mangkok besar dihabiskan dalam sekali duduk sebelum makan nasi. Mulailah dengan minum air putih dulu buat rehidrasi, baru makan satu-dua buah kurma atau sedikit cemilan manis. Kasih jeda buat perut kita bernapas. Jangan langsung hajar martabak manis tiga potong sekaligus. Inget, perjalanan ibadah malam masih panjang, jangan sampai "tumbang" di rakaat awal gara-gara kebanyakan asupan sirup.

Pada akhirnya, menikmati makanan manis saat berbuka itu adalah bentuk apresiasi diri setelah berjuang menahan hawa nafsu. Sah-sah saja kalau mau jajan takjil yang lucu-lucu di pinggir jalan. Tapi ya itu, jangan sampai niatnya mau sehat dan berkah, malah jadi berakhir dengan sakit perut atau gula darah naik ke langit ketujuh. Makanlah dengan kesadaran, bukan cuma nafsu mata. Karena sejatinya, kenikmatan berbuka itu letaknya bukan di seberapa banyak gula yang kita telan, tapi pada rasa syukur karena masih diberi kesempatan untuk sampai ke waktu magrib dengan selamat. Jadi, sudah nentuin mau beli takjil apa sore ini?

Tags