Senin, 20 April 2026
Amandit FM
Kesehatan

Hindari Tipu Daya! Ini Rahasia Memilih Hewan Kurban yang Sehat

Hafizah Fikriah Waskan - Friday, 27 March 2026 | 10:00 AM

Background
Hindari Tipu Daya! Ini Rahasia Memilih Hewan Kurban yang Sehat
Memilih Hewan Kurban (Pexels.com/Monirul Islam)

Seni Memilih Hewan Kurban: Biar Nggak Kena Zonk di Pinggir Jalan

Setiap tahun, menjelang Hari Raya Idul Adha, pemandangan kota kita mendadak berubah. Trotoar yang biasanya sepi atau cuma diisi pedagang kaki lima, tiba-tiba berubah jadi "showroom" dadakan yang isinya penuh dengan aroma khas—campuran bau prengus kambing dan kotoran sapi. Ya, musim kurban telah tiba. Bagi sebagian orang, momen ini adalah saatnya berburu pahala, tapi bagi sebagian lainnya, ini adalah drama tahunan tentang bagaimana caranya nggak kena tipu pedagang nakal.

Memilih hewan kurban itu sebenarnya gampang-gampang susah. Mirip kayak cari jodoh di aplikasi kencan: tampilannya di foto (atau dari kejauhan) bisa kelihatan glowing dan gagah, tapi pas disamperin dari dekat, eh ternyata banyak minusnya. Namanya juga ibadah, kita tentu pengen kasih yang terbaik, bukan cuma yang paling murah atau yang paling besar ukurannya. Masalahnya, nggak semua dari kita punya insting "pawang" yang bisa sekali lihat langsung tahu kalau sapi itu lagi meriang atau kambing itu usianya belum cukup.

Lihat Matanya, Bukan Cuma Harganya

Tips pertama yang paling basic tapi sering dilupakan adalah melihat mata si calon hewan kurban. Mata adalah jendela kesehatan, begitulah kira-kira prinsipnya. Hewan yang sehat punya mata yang jernih, terbuka lebar, dan terlihat cerah. Kalau kamu lihat sapi yang matanya sayu, berair terus-menerus, atau malah ada kotoran mata yang berlebihan, mending skip aja. Itu tandanya si hewan lagi nggak enak badan atau stres berat karena perjalanan jauh.

Nggak lucu kan, kamu beli sapi yang kelihatannya berotot, tapi pas dibawa pulang ternyata dia lagi demam atau kena infeksi pernapasan. Ingat, hewan kurban itu bakal dikonsumsi orang banyak. Memberikan hewan yang sakit bukan cuma soal kualitas dagingnya yang jadi kurang enak, tapi juga soal etika dalam beribadah. Jadi, luangkan waktu dua menit buat tatap-tatapan sama si kambing. Kalau dia membalas dengan tatapan tajam dan segar, itu lampu hijau.

Cek 'Gigi Kupak' alias Sudah Poel Belum?

Dalam syariat Islam, ada syarat usia minimal buat hewan kurban. Kambing atau domba minimal harus berumur satu tahun masuk tahun kedua, sedangkan sapi minimal dua tahun masuk tahun ketiga. Masalahnya, sapi nggak bawa KTP atau akta kelahiran pas dijual. Terus gimana caranya tahu usianya sudah cukup?

Jawabannya ada di mulut. Kamu harus berani cek giginya. Istilah populernya adalah "poel" atau gigi kupak. Caranya, coba buka sedikit bibir si hewan. Kalau sepasang gigi susu di bagian depan sudah tanggal dan digantikan oleh gigi permanen yang ukurannya lebih besar dan lebar, berarti si hewan sudah cukup umur. Kalau giginya masih kecil-kecil semua dan rapi banget, itu artinya dia masih "bocil" dan belum sah buat dikurbankan menurut syariat. Jangan mau di-PHP-in pedagang yang bilang "ini mah pertumbuhannya cepat kak", pokoknya pegang teguh prinsip poel ini.

Jangan Tergiur Bodi Bongsor yang Ternyata 'Glondongan'

Di dunia per-sapi-an, ada praktik curang yang namanya sapi glondongan. Ini adalah praktik di mana sapi dipaksa minum air sebanyak-banyaknya supaya bobot timbangannya naik drastis. Sapi yang diglondong biasanya bakal kelihatan sangat gemuk, perutnya buncit banget, dan gerakannya lamban. Kalau kamu pegang bagian punggungnya, rasanya bakal lembek-lembek air, bukan kencang karena otot.

Sapi kayak gini sangat berisiko. Selain kamu rugi karena membayar harga air dengan harga daging sapi, kesehatan hewannya juga terancam karena paru-parunya bisa terendam air. Cara paling gampang deteksinya adalah dengan melihat kelincahannya. Hewan kurban yang sehat harusnya aktif bergerak, nafsu makannya bagus, dan kalau didekati ada respons (entah itu menghindar atau malah penasaran). Kalau hewannya cuma diam mematung kayak lagi nunggu antrean bansos, waspadalah.

Cek 'Glowing' Alami dari Bulunya

Nggak cuma skincare yang bikin glowing, kesehatan hewan juga terpancar dari bulunya. Hewan kurban yang terawat dan gizinya cukup biasanya punya bulu yang bersih, mengilap, dan nggak berdiri. Kalau bulunya kusam, rontok parah, atau banyak pitak-pitak karena jamur, itu tandanya si hewan kurang vitamin atau malah lagi cacingan.

Observasi juga area lubang-lubang alaminya (mulut, hidung, dan anus). Pastikan nggak ada lendir aneh yang keluar berlebihan dari hidung. Di bagian belakang, pastikan juga nggak ada bekas kotoran yang encer. Kalau anusnya kotor banget dengan bekas kotoran cair, fiks hewan itu lagi diare. Membeli hewan yang diare itu berisiko banget, karena dalam hitungan hari berat badannya bisa turun drastis dan dagingnya jadi kurang berkualitas.

Pilih Pedagang yang Punya Reputasi, Bukan Cuma Musiman

Terakhir, ini soal tempat beli. Memang seru sih berburu hewan di pinggir jalan dengan seni tawar-menawar yang sengit. Tapi kalau kamu pengen aman dan nggak mau pusing, carilah lapak yang sudah punya reputasi bertahun-tahun atau beli lewat lembaga resmi. Biasanya, pedagang besar yang sudah profesional punya sertifikat kesehatan hewan dari dinas terkait. Mereka nggak mau ambil risiko merusak nama baik cuma demi satu-dua ekor sapi yang bermasalah.

Memilih hewan kurban itu memang butuh effort lebih. Nggak bisa cuma modal tunjuk "yang itu aja, mas" sambil bayar. Luangkan waktu sejenak buat ngecek detail fisiknya. Anggap saja ini bagian dari perjuangan ibadahmu. Dengan memilih hewan yang sehat dan berkualitas, kita nggak cuma menjalankan perintah agama, tapi juga memastikan bahwa daging yang nantinya dibagikan ke tetangga dan saudara adalah daging terbaik yang aman dan berkah untuk dikonsumsi. Selamat berburu hewan kurban, jangan sampai kena zonk ya!

Tags