Kasus Campak Meningkat di Indonesia, Kenali Penyebab, Gejala, dan Faktor Risikonya
Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 10 March 2026 | 11:38 AM


amanditmedia.id, Palembang – Penyakit Campak kembali menjadi perhatian di Indonesia seiring meningkatnya jumlah kasus dalam beberapa waktu terakhir. Data nasional dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan lonjakan laporan kasus sepanjang 2025 hingga awal 2026.
Sepanjang 2025 tercatat sekitar 63.769 kasus suspek campak di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 11.094 kasus telah terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium dan dilaporkan 69 kematian.
Memasuki 2026 hingga minggu ketujuh, kasus baru masih terus ditemukan. Tercatat 8.224 kasus suspek dengan 572 di antaranya terkonfirmasi serta empat kasus kematian.
Selain itu, sejumlah wilayah juga melaporkan kejadian luar biasa (KLB) terkait campak, dengan puluhan klaster suspek maupun kasus yang telah dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium.
Campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dari kelompok Morbillivirus. Virus ini sangat mudah menyebar melalui percikan saluran pernapasan ketika penderita batuk, bersin, atau bernapas.
Meski dapat menyerang siapa saja, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terinfeksi. Tanpa penanganan yang tepat, penyakit ini berpotensi menimbulkan komplikasi serius.
Setelah virus masuk ke dalam tubuh, masa inkubasi campak umumnya berlangsung sekitar tujuh hingga dua belas hari. Gejala awal yang muncul biasanya berupa demam tinggi, batuk, pilek, serta mata merah.
Salah satu tanda khas campak adalah munculnya bercak putih kecil di bagian dalam mulut yang dikenal sebagai bercak Koplik. Beberapa hari kemudian, ruam kemerahan mulai muncul di wajah dan secara bertahap menyebar ke seluruh tubuh.
Penularan campak dapat terjadi bahkan sebelum ruam terlihat. Penderita dapat menularkan virus sejak empat hari sebelum ruam muncul hingga empat hari setelahnya. Virus ini juga mampu bertahan di udara atau permukaan benda selama beberapa waktu sehingga meningkatkan risiko penularan.
Sejumlah faktor diketahui dapat meningkatkan risiko seseorang tertular campak. Kepadatan hunian yang tinggi menjadi salah satu faktor utama karena mempermudah penyebaran virus melalui udara.
Selain itu, rendahnya pemahaman mengenai imunisasi juga turut berpengaruh. Anak yang belum mendapatkan vaksin Vaksin MMR memiliki risiko lebih besar untuk terinfeksi.
Kondisi gizi yang kurang juga dapat memperburuk kerentanan terhadap penyakit ini. Anak dengan status gizi buruk cenderung memiliki daya tahan tubuh lebih rendah sehingga lebih mudah terserang infeksi.
Karena itu, para ahli kesehatan menekankan pentingnya imunisasi, pemenuhan gizi yang baik, serta deteksi dini apabila muncul gejala campak agar penyebaran penyakit dapat ditekan.
Next News

Kasus Campak Meningkat, Indonesia Masuk Negara dengan KLB Tertinggi di Dunia!
a day ago

Menkes Soroti Selebgram Tetap Keluyuran Saat Sakit Campak, Ingatkan Risiko Penularan
a day ago

Mengenal Campak atau Gabag: Gejala, Mitos, dan Cara Penanganannya
8 days ago

Mengenal Campak: Bukan Sekadar Bintik Merah, Tapi Gimana Sih Cara Ngobatinnya?
8 days ago

Jangan Tunggu Sampai Merah-Merah: Panduan Santuy Tapi Serius Biar Nggak Kena Campak
8 days ago

Campak Bukan Sekadar Bintik Merah Biasa: Kenapa Kita Nggak Boleh Anggap Enteng Penyakit Jadul Ini
9 days ago

Jangan Sepelekan Campak! Ternyata Bukan Sekadar Bintik Merah Biasa
9 days ago

Bukan Cuma Bintik Merah Biasa: Kupas Tuntas Jenis-Jenis Campak yang Sering Bikin Salah Paham
9 days ago

Waspada Campak pada Anak: Kenali Gejala dan Cara Menanganinya
9 days ago

Sahur Pakai Mie Instan Memang Nikmat, tapi Siap-Siap "Tepar" Sebelum Dzuhur
9 days ago





