Rabu, 11 Maret 2026
Amandit FM
Kesehatan

Kasus Campak Meningkat di Indonesia, Kenali Penyebab, Gejala, dan Faktor Risikonya

Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 10 March 2026 | 11:38 AM

Background
Kasus Campak Meningkat di Indonesia, Kenali Penyebab, Gejala, dan Faktor Risikonya
Ilustrasi campak (Freepik/Freepik)

amanditmedia.id, Palembang – Penyakit Campak kembali menjadi perhatian di Indonesia seiring meningkatnya jumlah kasus dalam beberapa waktu terakhir. Data nasional dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan lonjakan laporan kasus sepanjang 2025 hingga awal 2026.

Sepanjang 2025 tercatat sekitar 63.769 kasus suspek campak di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 11.094 kasus telah terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium dan dilaporkan 69 kematian.

Memasuki 2026 hingga minggu ketujuh, kasus baru masih terus ditemukan. Tercatat 8.224 kasus suspek dengan 572 di antaranya terkonfirmasi serta empat kasus kematian.

Selain itu, sejumlah wilayah juga melaporkan kejadian luar biasa (KLB) terkait campak, dengan puluhan klaster suspek maupun kasus yang telah dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium.

Campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dari kelompok Morbillivirus. Virus ini sangat mudah menyebar melalui percikan saluran pernapasan ketika penderita batuk, bersin, atau bernapas.

Meski dapat menyerang siapa saja, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terinfeksi. Tanpa penanganan yang tepat, penyakit ini berpotensi menimbulkan komplikasi serius.

Setelah virus masuk ke dalam tubuh, masa inkubasi campak umumnya berlangsung sekitar tujuh hingga dua belas hari. Gejala awal yang muncul biasanya berupa demam tinggi, batuk, pilek, serta mata merah.

Salah satu tanda khas campak adalah munculnya bercak putih kecil di bagian dalam mulut yang dikenal sebagai bercak Koplik. Beberapa hari kemudian, ruam kemerahan mulai muncul di wajah dan secara bertahap menyebar ke seluruh tubuh.

Penularan campak dapat terjadi bahkan sebelum ruam terlihat. Penderita dapat menularkan virus sejak empat hari sebelum ruam muncul hingga empat hari setelahnya. Virus ini juga mampu bertahan di udara atau permukaan benda selama beberapa waktu sehingga meningkatkan risiko penularan.

Sejumlah faktor diketahui dapat meningkatkan risiko seseorang tertular campak. Kepadatan hunian yang tinggi menjadi salah satu faktor utama karena mempermudah penyebaran virus melalui udara.

Selain itu, rendahnya pemahaman mengenai imunisasi juga turut berpengaruh. Anak yang belum mendapatkan vaksin Vaksin MMR memiliki risiko lebih besar untuk terinfeksi.

Kondisi gizi yang kurang juga dapat memperburuk kerentanan terhadap penyakit ini. Anak dengan status gizi buruk cenderung memiliki daya tahan tubuh lebih rendah sehingga lebih mudah terserang infeksi.

Karena itu, para ahli kesehatan menekankan pentingnya imunisasi, pemenuhan gizi yang baik, serta deteksi dini apabila muncul gejala campak agar penyebaran penyakit dapat ditekan.

Tags