Sabtu, 27 Juni 2026
Amandit FM
Ekonomi

Kenapa Sih Dollar Naik Bikin Kita Semua Pusing? Rahasia Hubungan Toxic Rupiah dan Si Greenback

Hafizah Fikriah Waskan - Friday, 29 May 2026 | 08:00 PM

Background
Kenapa Sih Dollar Naik Bikin Kita Semua Pusing? Rahasia Hubungan Toxic Rupiah dan Si Greenback
(Pexels.com/Atlantic Ambience)

Pernah nggak sih kamu lagi asyik nongkrong di coffee shop, terus tiba-tiba scroll Twitter atau portal berita dan nemu headline: "Rupiah Melemah, Dollar Tembus Rp16.000!"? Sebagian dari kita mungkin bakal mikir, "Yaelah, emang ngaruh ya? Kan gue belanjanya pakai Rupiah di pasar becek, bukan pakai Dollar di New York." Tapi, jujur aja, meskipun dompet kita isinya gambar Pattimura atau Soekarno-Hatta, kehidupan kita sebenarnya sangat "disetir" sama mata uang Negeri Paman Sam itu.

Hubungan antara Rupiah dan Dollar Amerika itu ibarat hubungan toxic yang susah putus. Dollar galau sedikit, Rupiah langsung meriang. Dollar naik gengsi, dompet kita yang menjerit. Lantas, kenapa sih mata uang satu negara di seberang samudra sana bisa sebegitu kuatnya mengacak-acak harga cilok sampai harga iPhone di tanah air? Mari kita bedah pelan-pelan sambil ngopi, biar nggak spaneng.

Dollar Adalah 'Bahasa Gaul' Perdagangan Dunia

Bayangkan dunia ini adalah sebuah tongkrongan raksasa. Di tongkrongan itu, ada orang dari Jepang, Jerman, Arab Saudi, sampai Indonesia. Pas mau patungan beli pizza, mereka bingung mau pakai mata uang apa. Akhirnya, mereka sepakat pakai satu mata uang yang paling dipercaya semua orang: Dollar Amerika. Inilah yang disebut sebagai reserve currency atau mata uang cadangan dunia.

Hampir semua barang yang kita impor dari luar negeri, mulai dari gandum buat bahan mie instan, kedelai buat tempe, sampai minyak mentah buat bensin, belinya pakai Dollar. Jadi, kalau nilai Dollar naik alias Rupiah melemah, para importir ini harus mengeluarkan lebih banyak Rupiah buat dapet jumlah Dollar yang sama. Ujung-ujungnya siapa yang kena imbas? Ya kita, konsumen akhir. Jangan kaget kalau porsi tempe di warteg tiba-tiba jadi setipis kartu ATM atau harga skincare incaranmu naik tanpa permisi.

Efek Domino Si 'Gandum' dan 'BBM'

Mungkin ada yang nyeletuk, "Tapi kan kita negara agraris, masa apa-apa tergantung Dollar?" Nah, di sinilah letak plot twist-nya. Indonesia itu salah satu pengonsumsi gandum terbesar, tapi kita nggak bisa nanam gandum sendiri karena faktor iklim. Semua mie instan dan roti yang kita makan itu bahan bakunya impor pakai Dollar. Begitu juga dengan BBM. Meskipun kita punya sumur minyak, kita masih harus impor minyak jadi untuk memenuhi kebutuhan kendaraan kita yang jumlahnya jutaan itu.

Kalau harga Dollar naik, biaya impor BBM membengkak. Pemerintah punya dua pilihan sulit: naikin harga BBM atau nambah subsidi yang bikin anggaran negara (APBN) jebol. Kalau harga BBM naik, ongkos angkut sayur dari desa ke kota ikut naik. Akhirnya, harga cabai di pasar pun ikut meroket. Jadi, secara nggak langsung, Dollar itu ikut menentukan apakah sambal di meja makanmu bakal pedas di mulut atau pedas di kantong.

Gara-Gara 'The Fed' yang Hobi Mainin Suku Bunga

Di Amerika, ada sebuah lembaga bernama The Federal Reserve, atau biasa kita sebut The Fed. Mereka ini semacam "Ketua RT"-nya ekonomi dunia. Kalau ekonomi Amerika lagi inflasi, The Fed biasanya bakal menaikkan suku bunga. Tujuannya biar orang Amerika rajin nabung dan Dollar jadi makin "mahal".

Masalahnya, begitu suku bunga di Amerika naik, para investor kelas kakap yang tadinya naruh duit di Indonesia (buat beli saham atau surat utang negara) langsung mikir: "Ngapain gue ambil risiko di Indonesia, mending duitnya gue pindahin ke Amerika aja yang bunganya lagi tinggi dan lebih aman."

Fenomena ini sering disebut capital outflow. Uang Dollar yang ada di Indonesia ramai-ramai "pulang kampung" ke Amerika. Karena stok Dollar di Indonesia jadi langka sementara permintaannya banyak, harganya pun makin mahal. Rupiah pun ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, lalu nilainya merosot.

Utang Luar Negeri yang Makin 'Berat'

Satu hal lagi yang bikin pemerintah dan perusahaan besar di Indonesia gemetaran kalau Dollar naik adalah utang. Banyak perusahaan kita, bahkan pemerintah sendiri, punya utang dalam bentuk Dollar. Bayangkan kalau sebuah perusahaan pinjam 1 juta Dollar pas kurs masih Rp14.000. Mereka harus balikin Rp14 miliar. Tapi kalau tiba-tiba kurs jadi Rp16.000, utang mereka otomatis bengkak jadi Rp16 miliar!

Padahal mereka nggak pinjam uang lagi, tapi nominal yang harus dibayar bertambah cuma gara-gara selisih kurs. Kalau perusahaan nggak kuat bayar, mereka bisa bangkrut, dan kalau sudah bangkrut, efeknya bisa ke PHK karyawan. Ngeri, kan? Inilah kenapa kestabilan kurs itu bukan cuma angka di layar televisi, tapi soal kelangsungan hidup dapur banyak orang.

Lalu, Kita Harus Gimana?

Melihat betapa kuatnya pengaruh Dollar, rasanya kita kayak butiran debu di tengah badai ekonomi global. Tapi bukan berarti kita nggak bisa apa-apa. Sebagai warga negara yang budiman, ada beberapa hal receh tapi penting yang bisa kita lakukan. Pertama, mulai lirik produk lokal. Kalau kita beli sepatu lokal dibanding sepatu impor, kita membantu mengurangi kebutuhan Dollar untuk impor barang konsumsi.

Kedua, kalau punya tabungan, jangan cuma ditaruh di bawah bantal. Belajar investasi yang tahan inflasi. Dan yang paling penting, jangan panik berlebihan (panic buying) setiap kali dengar berita ekonomi. Pemerintah lewat Bank Indonesia biasanya sudah punya "jurus-jurus" intervensi buat jagain Rupiah biar nggak terjun bebas banget.

Kesimpulannya, Dollar Amerika itu memang "bos" di ekonomi dunia saat ini. Pengaruhnya masuk ke piring makan kita, ke tangki bensin motor kita, sampai ke harga gadget di tangan kita. Memang nyebelin sih, tapi memahami cara kerjanya bikin kita nggak kaget-kaget amat pas dunia lagi nggak baik-baik saja. Intinya, tetap kerja keras, tetap menabung, dan jangan lupa bahagia, karena Dollar boleh naik, tapi semangat cari cuan nggak boleh turun!

Tags