Kamis, 22 Januari 2026
Amandit FM
Habar Banua

Mengenal Kabupaten Hulu Sungai Selatan: Geografi, Sejarah, dan Keseharian Warganya.

Admin Amandit - Thursday, 22 January 2026 | 02:30 PM

Background
Mengenal Kabupaten Hulu Sungai Selatan: Geografi, Sejarah, dan Keseharian Warganya.
Monumen Proklamasi 17 Mei 1949 di Desa Niih (maps.google.com/Dyah Ageng)

Amanditmedia - Bagi masyarakat yang sering melintasi jalur darat di Kalimantan Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dengan ibu kotanya, Kandangan, sering menjadi titik istirahat. Lokasinya memang strategis, berada di tengah-tengah jalur yang menghubungkan wilayah pesisir dengan daerah hulu sungai lainnya. Namun, kabupaten ini memiliki karakteristik lingkungan dan sejarah yang cukup kontras satu sama lain.

Keragaman Bentang Alam

Secara geografis, HSS terbagi menjadi beberapa zona yang berbeda. Di bagian barat, terdapat wilayah perairan rawa yang luas di Kecamatan Negara. Sementara di bagian timur, lanskap berubah menjadi perbukitan yang merupakan bagian dari Pegunungan Meratus di wilayah Loksado.

Perbedaan alam ini membentuk mata pencaharian warga yang beragam. Di daerah rawa, warga banyak yang mengandalkan perikanan air tawar dan peternakan kerbau rawa. Sedangkan di wilayah pegunungan, warga mengelola hasil hutan seperti karet dan kayu manis.

Jejak Peristiwa di Ni’ih dan Benteng Madang

Hulu Sungai Selatan memiliki kaitan erat dengan sejarah pertahanan di Kalimantan Selatan. Di Desa Ni’ih, terdapat monumen yang memperingati Proklamasi 17 Mei 1949. Peristiwa ini merupakan pernyataan sikap dari ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan di bawah pimpinan Brigjen Hasan Basry untuk tetap bergabung dengan Republik Indonesia pada masa itu.

Selain itu, di Kecamatan Padang Batung terdapat situs Benteng Madang. Berbeda dengan bangunan benteng permanen, tempat ini merupakan area pertahanan yang digunakan oleh pejuang lokal dalam menghadapi pasukan kolonial saat Perang Banjar. Lokasinya yang berada di perbukitan dipilih karena memudahkan pengawasan terhadap pergerakan lawan.

Kehidupan Masyarakat di Loksado dan Negara

Dua wilayah yang sering mendapat perhatian di HSS adalah Loksado dan Negara. Keduanya menunjukkan cara adaptasi warga terhadap lingkungan yang berbeda:

  1. Loksado: Di sini, transportasi rakit bambu atau balanting masih bisa ditemui. Awalnya, rakit ini digunakan sebagai sarana mengangkut hasil bumi dari pegunungan menuju kota Kandangan lewat jalur sungai. Saat ini, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari aktivitas luar ruangan bagi pengunjung.
  2. Negara: Wilayah ini dikenal sebagai pusat kerajinan logam atau pandai besi. Produk seperti alat pertanian dan peralatan dapur dari Negara sudah didistribusikan ke berbagai daerah di Kalimantan. Selain itu, ada tradisi ternak kerbau rawa yang unik karena hewan ini mahir berenang untuk mencari makan di genangan air.

Kuliner Lokal yang Konsisten

Di Kandangan, kuliner yang paling dikenal adalah Ketupat Kandangan. Keunikan makanan ini terletak pada penggunaan ikan gabus (haruan) yang diolah dengan cara diasap. Pengasapan ini bertujuan untuk memberikan aroma dan tekstur daging yang khas agar tidak hancur saat dimasak dengan kuah santan. Tradisi mengolah ikan dengan cara diasap ini sudah dilakukan oleh warga secara turun-temurun.

Hulu Sungai Selatan bukan hanya sekadar wilayah administratif, tetapi merupakan wilayah yang mampu mempertahankan cara hidup tradisional di tengah perubahan infrastruktur yang terus berkembang di Kalimantan Selatan.

Next News