Jumat, 17 April 2026
Amandit FM
Regional & Nasional

Prajogo Pangestu: Orang Terkaya Indonesia Berharta Rp467 Triliun

Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 24 March 2026 | 12:00 PM

Background
Prajogo Pangestu: Orang Terkaya Indonesia Berharta Rp467 Triliun
Prajogo Pangestu (Yayasan Bakti Barito/Prajogo Pangestu)

Mengenal Prajogo Pangestu: Mantan Sopir Angkot yang Kini Punya Harta 467 Triliun, Kok Bisa?

Pernah nggak sih kalian bengong sebentar sambil membayangkan punya uang satu miliar rupiah? Mungkin di kepala sudah terbayang beli mobil baru, renovasi rumah orang tua, atau minimal jajan kopi kekinian tanpa perlu lihat promo di aplikasi. Nah, sekarang coba tarik napas dalam-dalam, karena angka yang mau kita bahas ini levelnya sudah bukan sekadar bikin geleng-geleng kepala lagi, tapi bikin vertigo. Kita lagi ngomongin Prajogo Pangestu, orang paling tajir di Indonesia saat ini yang hartanya tembus US$29,9 miliar atau sekitar Rp467,1 triliun. Gila nggak tuh?

Angka 467 triliun itu kalau dibelikan bakso seharga 15 ribu per mangkok, mungkin satu Indonesia bisa pesta bakso gratis selama setahun penuh sampai bosan. Tapi, yang bikin cerita Prajogo Pangestu ini menarik banget buat diikuti bukan cuma soal tumpukan uangnya yang nggak habis tujuh turunan itu. Cerita hidupnya itu lho, benar-benar definisi nyata dari istilah "started from the bottom now we're here". Ini bukan narasi motivasi receh yang sering kita dengar di seminar-seminar, tapi kisah hidup seorang pria asal Kalimantan Barat yang dulunya pernah narik angkot.

Dari Aspal Jalanan ke Puncak Kemewahan

Lahir dengan nama Phang Djun Phen di Sambas tahun 1944, kehidupan awal Prajogo jauh banget dari kata mewah. Orang tuanya adalah penyadap getah karet yang hidup pas-pasan. Karena keterbatasan biaya, Prajogo muda bahkan nggak tamat sekolah menengah atas. Dia cuma lulusan SMP, kawan. Di usia yang masih belia, dia harus memutar otak gimana caranya bertahan hidup. Akhirnya, dia memilih jadi sopir angkot di daerah asalnya. Bayangin aja, orang yang sekarang bisa beli pulau kalau dia mau, dulunya pernah nungguin penumpang di pinggir jalan sambil nahan panas dan debu.

Tapi ya, nasib orang siapa yang tahu kalau dibarengi sama insting bisnis yang tajam. Titik balik hidupnya dimulai saat dia bertemu dengan pengusaha kayu asal Malaysia, Burhan Uray, di akhir tahun 1960-an. Singkat cerita, Prajogo bergabung dengan perusahaan milik Burhan, PT Djajanti Group. Di sinilah dia belajar luar dalam soal bisnis perkayuan. Prajogo bukan tipe orang yang cuma numpang lewat; dia belajar cepat, kerja keras, dan akhirnya dipercaya memegang posisi penting. Sampai akhirnya, dia memutuskan buat "cabut" dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri yang kita kenal sekarang sebagai Barito Pacific.

Strategi "All-In" yang Berbuah Manis

Kalau kita perhatikan, kekayaan Prajogo ini meledak drastis bukan cuma karena dia jualan kayu. Dia itu tipe pebisnis yang visioner dan nggak takut ambil risiko gede. Dia melakukan diversifikasi bisnis dari kayu ke petrokimia lewat Chandra Asri. Nah, ini nih yang menarik. Banyak orang sempat meragukan langkahnya waktu itu, tapi liat sekarang? Chandra Asri jadi pemain utama petrokimia di Indonesia.

Namun, yang benar-benar bikin nama Prajogo Pangestu jadi buah bibir di kalangan anak muda investor saham alias "pejuang cuan" adalah langkahnya masuk ke sektor energi terbarukan. Lewat Barito Renewables Energy (BREN) dan kepemilikannya di berbagai perusahaan tambang lewat Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), harga saham perusahaannya terbang setinggi langit. Buat kalian yang main saham, pasti tahu banget gimana hebohnya market waktu saham-saham grup Barito ini meroket. Banyak orang mendadak kaya karena "numpang" di sahamnya Pak Prajogo, tapi ya banyak juga yang cuma bisa gigit jari karena telat masuk.

Opini pribadi saya sih, Prajogo ini kayak punya "sentuhan Midas". Apa pun yang dia sentuh atau bisnis apa pun yang dia mulai, valuasinya langsung melonjak drastis. Dia tahu banget kapan harus pivot. Dari industri yang dianggap "kotor" dan merusak lingkungan seperti kayu dan tambang, dia pelan-pelan geser ke arah green energy lewat geothermal. Ini cerdas banget, karena dia menangkap tren dunia yang lagi bergerak ke arah keberlanjutan.

Kenapa Kita Harus Peduli?

Mungkin ada yang mikir, "Ya elah, harta dia 467 triliun terus urusannya sama gue apa?". Gini lho, melihat fenomena Prajogo Pangestu ini kita bisa belajar kalau privilege itu memang membantu, tapi nggak punya privilege bukan berarti jalan kita tertutup mati. Kisahnya memberikan validasi kalau ketekunan dan keberanian mengambil keputusan besar itu kunci. Dia nggak cuma diam di zona nyaman sebagai sopir atau karyawan, tapi berani loncat jadi pengusaha.

Selain itu, pergerakan kekayaan Prajogo ini juga menunjukkan peta kekuatan ekonomi Indonesia yang lagi bergeser. Selama bertahun-tahun, posisi orang terkaya di Indonesia selalu dipegang oleh duo Hartono dari grup Djarum. Tapi sekarang, peta itu berubah. Ini membuktikan kalau industri energi dan sumber daya alam masih jadi "tambang emas" yang luar biasa di negeri ini, apalagi kalau dikemas dengan narasi energi terbarukan.

Tapi ya tetap saja, melihat angka US$29,9 miliar itu rasanya kayak baca angka statistik di buku fiksi. Di tengah kondisi ekonomi yang lagi naik turun, berita soal kekayaan fantastis ini seringkali bikin kita yang sobat misqueen ini cuma bisa menghela napas panjang. Tapi ya sudahlah, daripada iri dengki, mending kita jadikan motivasi. Siapa tahu, besok-besok kalian yang baca artikel ini yang bakal jadi "The Next Prajogo".

Penutup: Bukan Sekadar Angka

Prajogo Pangestu bukan cuma soal angka Rp467,1 triliun. Dia adalah simbol dari daya tahan dan adaptasi. Dari Kalimantan Barat menuju panggung orang terkaya dunia versi Forbes. Gaya hidupnya yang relatif low profile dan nggak banyak gaya di media sosial (nggak kayak crazy rich kemarin sore yang hobi pamer jet pribadi tiap hari) bikin dia lebih disegani. Dia membuktikan kalau orang kaya beneran itu biasanya nggak perlu teriak-teriak kalau dia kaya; biarlah angka di bursa saham yang bicara.

Jadi, buat kalian yang sekarang mungkin lagi ngerasa hidup stag atau lagi kerja keras bagai kuda tapi hasilnya belum kelihatan, ingat aja cerita sopir angkot dari Sambas ini. Perjalanan menuju 467 triliun itu nggak dibangun dalam semalam, dan pastinya nggak lewat jalan tol yang mulus terus. Ada banyak tikungan tajam dan tanjakan terjal yang harus dilalui. Tetap semangat cari cuan, siapa tahu keberuntungan kalian cuma berjarak satu keputusan berani lagi. Dan yang paling penting, kalau sudah kaya nanti, jangan lupa tetap membumi ya!

Tags