Sabtu, 2 Mei 2026
Amandit FM
Kesehatan

Seni Menjaga Tensi Biar Gak Jebol Pas Lebaran: Antara Opor Ayam dan Peringatan Dokter

Hafizah Fikriah Waskan - Monday, 30 March 2026 | 09:00 PM

Background
Seni Menjaga Tensi Biar Gak Jebol Pas Lebaran: Antara Opor Ayam dan Peringatan Dokter
Tensi (Pexels.com/i-SENS, USA)

Lebaran itu ibarat medan perang yang sangat nikmat. Bayangkan saja, setelah sebulan penuh kita menahan lapar dan dahaga, tiba-tiba kita dihadapkan pada "surga dunia" dalam bentuk meja makan yang penuh sesak. Ada opor ayam yang santannya kental banget sampai warnanya kuning mengkilap, rendang daging yang bumbunya meresap sampai ke serat terdalam, sambal goreng ati yang pedas gurih, hingga deretan stoples nastar dan kastengel yang seolah memanggil-manggil nama kita setiap kali kita lewat di depannya.

Masalahnya, di balik kenikmatan yang hakiki itu, ada satu ancaman yang sering kita lupakan: tekanan darah. Bagi banyak orang, Lebaran bukan cuma hari kemenangan melawan hawa nafsu, tapi juga hari di mana tensi darah ikutan "merayakan" kemenangan dengan melonjak naik. Kalau nggak hati-hati, habis maaf-maafan bukannya merasa plong, malah kepala pusing tujuh keliling dan leher terasa kaku kayak kanebo kering. Nah, biar silaturahmi tetap asyik tanpa perlu mampir ke IGD, yuk kita bahas gimana caranya menjaga tekanan darah tetap stabil saat pesta pora Lebaran.

Jebakan Batman di Balik Gurihnya Santan dan Garam

Harus diakui, musuh terbesar tensi saat Lebaran itu ada dua: garam dan lemak jenuh. Masakan khas Lebaran itu hampir semuanya pakai santan dan bumbunya nggak tanggung-tanggung. Garam adalah agen rahasia yang bikin makanan terasa sedap, tapi dia juga yang paling jago menarik air ke dalam pembuluh darah, yang ujung-ujungnya bikin volume darah naik dan tekanan darah melesat. Belum lagi kalau kita ngomongin kastengel. Itu kue isinya keju dan garam semua, lho. Makan satu mungkin nggak berasa, tapi kalau sambil ngobrol sama sepupu habis satu toples? Ya, selamat datang di dunia hipertensi.

Tips pertama yang paling krusial adalah pengendalian porsi atau portion control. Kita nggak dilarang makan, kok. Ini kan Lebaran, masa cuma lihat doang? Tapi strateginya adalah "icip-icip cerdas". Gunakan piring kecil kalau ada. Kalau ambil nasi atau ketupat, jangan langsung satu gunung. Ambil secukupnya, lalu pilih lauk yang paling kamu pengen banget. Nggak semua jenis lauk harus masuk ke piring dalam satu waktu. Anggap saja ini maraton, bukan sprint. Kamu masih punya banyak hari buat keliling ke rumah saudara lainnya.

Jangan Lupakan Sayur yang Terlupakan

Coba perhatikan meja makan pas Lebaran. Biasanya, sayuran hijau itu jadi barang langka. Kalaupun ada, biasanya sudah berenang di dalam kuah santan. Padahal, serat itu penting banget buat membantu mengikat lemak dan menjaga tekanan darah. Kalau kamu jadi tuan rumah, cobalah sediakan menu pendamping yang segar seperti asinan, salad, atau minimal lalapan. Kalau kamu tamu, carilah sayuran di antara tumpukan daging itu.

Kalium juga merupakan "musuh alami" dari natrium (garam). Kalium membantu membuang kelebihan garam melalui urine dan membantu dinding pembuluh darah lebih rileks. Pisang, jeruk, atau melon adalah camilan yang jauh lebih sehat buat tensi daripada kue-kue kering yang manisnya bikin gigi ngilu. Jadi, di sela-sela makan rendang, jangan lupa selipkan buah-buahan ya, Bestie.

Air Putih adalah Koentji, Bukan Sirup Merah

Di setiap meja tamu, pasti ada botol sirup legendaris yang warnanya merah atau hijau cerah. Rasanya segar memang, apalagi kalau pakai es batu. Tapi ingat, minuman manis itu mengandung gula tinggi yang bisa memicu peradangan dan secara nggak langsung berpengaruh ke tekanan darah. Belum lagi soda-soda yang karbonasinya bikin perut kembung.

Saran saya, jadikan air putih sebagai sahabat sejati. Air putih membantu ginjal bekerja lebih ringan untuk membuang kelebihan garam yang kamu konsumsi dari opor tadi. Sebelum makan besar, coba minum satu gelas air putih dulu. Ini trik lama biar perut merasa sedikit kenyang, jadi kamu nggak bakal kalap pas lihat paha ayam. Bawa botol minum sendiri kalau perlu, biar nggak terus-terusan tergoda sama sirup di meja tamu.

Tetap Bergerak, Jangan Cuma "Food Coma"

Habis makan banyak, biasanya muncul fenomena yang namanya food coma—rasa kantuk luar biasa yang bikin kita pengen langsung rebahan di depan TV. Nah, ini bahaya. Rebahan setelah makan santan dan lemak itu resep sempurna buat bikin aliran darah melambat dan lemak menumpuk.

Manfaatkan momen Lebaran buat aktif bergerak. Kalau rumah saudara cuma beda dua atau tiga blok, jalan kaki saja, nggak usah pakai motor atau mobil. Jalan kaki santai setelah makan bisa membantu pencernaan dan membantu membakar sedikit kalori yang baru masuk. Silaturahmi itu sendiri sebenarnya adalah olahraga kalau kamu lakukan dengan berjalan kaki dari satu rumah ke rumah lain. Jadi, jangan malas gerak ya!

Seni Menolak dengan Halus

Tantangan terberat saat Lebaran itu sebenarnya bukan makanannya, tapi "tekanan sosial" dari tuan rumah. "Ayo makan lagi, masa cuma sedikit?", "Ini rendangnya khusus lho, masa nggak dicoba?". Rasanya nggak enak kalau menolak, kan? Tapi ingat, yang menanggung risiko pusing dan tensi naik itu kamu, bukan mereka.

Belajarlah seni menolak dengan sopan. Kamu bisa bilang, "Wah, tadi di rumah sebelah sudah makan banyak, Tante. Ini saya mau coba kuenya saja sedikit ya." Atau kalau memang terpaksa harus makan, ambil porsi yang sangat kecil hanya sebagai syarat menghargai tuan rumah. Nggak usah merasa nggak enak hati, kesehatanmu itu prioritas utama.

Istirahat yang Cukup

Terakhir, jangan lupakan waktu tidur. Begadang pas malam Takbiran atau maraton silaturahmi dari subuh sampai tengah malam bisa bikin badan stres. Saat badan stres, hormon kortisol naik, dan itu bakal memicu tekanan darah naik juga. Pastikan kamu tetap punya waktu tidur yang berkualitas meski jadwal lagi padat-padatnya.

Lebaran memang momen untuk bersenang-senang dan berkumpul dengan keluarga. Tapi jangan sampai euforia sesaat ini merusak kesehatan jangka panjang. Dengan sedikit kendali diri dan kesadaran akan apa yang masuk ke mulut, kita bisa kok menikmati indahnya Lebaran tanpa harus was-was sama angka di alat tensi. Selamat merayakan hari kemenangan, tetap sehat, dan jangan lupa bahagia!

Tags