Kamis, 5 Maret 2026
Amandit FM
Internasional

Ayatollah Alireza Arafi Resmi Ditunjuk sebagai Pemimpin Transisi Iran Usai Wafatnya Ali Khamenei

Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 03 March 2026 | 03:53 AM

Background
Ayatollah Alireza Arafi Resmi Ditunjuk sebagai Pemimpin Transisi Iran Usai Wafatnya Ali Khamenei
Ayatollah Alireza Arafi ditunjuk sebagai Pemimpin Transisi Iran setelah Ayatollah Ali Khamenei wafat dalam serangan gabungan AS-Israel pada Sabtu (28/2/2026) (Kompas.com/Kompas)

amanditmedia.id, Teheran - Iran menunjuk Ayatollah Alireza Arafi sebagai Pemimpin Transisi Iran menyusul wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada Sabtu (28/2).

Penunjukan ini menjadi bagian dari proses peralihan kepemimpinan di negara tersebut di tengah situasi politik dan keamanan yang memanas.

Ayatollah Alireza Arafi lahir pada 1959 di Meybod, Provinsi Yazd, dari keluarga ulama. Ia menempuh pendidikan agama di Kota Qom, pusat pendidikan ulama Syiah Iran, di bawah bimbingan sejumlah cendekiawan terkemuka. Arafi menyandang gelar mujtahid yang memberinya kewenangan mengeluarkan fatwa secara mandiri.

Kariernya berkembang pada masa kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei. Ia pernah menjabat sebagai imam shalat Jumat di Meybod dan kemudian di Qom. Selain itu, Arafi juga memimpin Universitas Internasional Al-Mustafa, lembaga yang mendidik ulama dari Iran dan berbagai negara.

Pada 2019, Arafi diangkat sebagai anggota Dewan Garda, lembaga konstitusional yang memiliki kewenangan menyeleksi legislasi dan kandidat politik. Kombinasi jabatan administratif dan teologis tersebut menempatkannya di lingkaran inti elite ulama Iran.

Berdasarkan Konstitusi Iran, pemimpin tertinggi dipilih oleh Majelis Ahli yang terdiri dari para ulama Syiah senior. Setelah wafatnya Khamenei, otoritas di Teheran membentuk dewan kepemimpinan sementara untuk menjalankan fungsi pemerintahan hingga Majelis Ahli menetapkan pemimpin tertinggi definitif.

Penunjukan Arafi terjadi di tengah munculnya sejumlah nama lain sebagai kandidat penerus Khamenei. Namun, posisinya di Dewan Garda dan Majelis Ahli dinilai memberikan keunggulan institusional dalam proses suksesi.

Arafi dikenal memiliki pandangan tegas mengenai peran lembaga pendidikan agama dalam kehidupan politik. Dalam salah satu pernyataannya ia menegaskan, "Lembaga Pendidikan agama (di Iran) perlu berasal dari rakyat, bersolidaritas dengan kaum tertindas, bersifat politis [Islamis], revolusioner, dan internasional (dalam pendekatan)."

Pengamat menilai, meski memiliki pengalaman luas dalam birokrasi keagamaan dan kredensial kuat di kalangan elite, Arafi tidak memiliki basis politik independen di luar struktur institusional tersebut. Kondisi itu diperkirakan akan memengaruhi dinamika kepemimpinannya di tengah tekanan eksternal dan tantangan domestik.

Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, yang memimpin Iran hampir 37 tahun, menandai peralihan kepemimpinan tertinggi untuk kedua kalinya sejak Revolusi Iran 1979. Momentum ini menjadi ujian bagi stabilitas politik Iran dalam menjaga kohesi nasional di tengah situasi regional yang kompleks.

Tags