Kamis, 30 April 2026
Amandit FM
Kesehatan

Biar Nggak Kena Zonk: Panduan Milih Hewan Kurban Biar Ibadah Makin Afdol

Hafizah Fikriah Waskan - Friday, 27 March 2026 | 07:00 AM

Background
Biar Nggak Kena Zonk: Panduan Milih Hewan Kurban Biar Ibadah Makin Afdol
Panduan Milih Hewan Kurban (Pexels.com/Monirul Islam)

Setiap kali kalender mendekati bulan Dzulhijjah, suasana di pinggir jalan tiba-tiba berubah drastis. Trotoar yang biasanya sepi atau cuma diisi tukang gorengan, mendadak jadi 'showroom' dadakan. Tapi isinya bukan mobil mewah atau motor keluaran terbaru, melainkan deretan kambing yang mengembik manja dan sapi-sapi yang sesekali melenguh keras. Ya, musim kurban sudah tiba. Bau aromatik khas kandang mulai menyapa hidung kita setiap kali lewat jalan protokol.

Bagi sebagian orang, kurban mungkin cuma soal punya uang, datang ke lapak, tunjuk hewannya, bayar, lalu beres. Tapi tunggu dulu, kawan. Ibadah kurban itu nggak sesederhana beli daging buat stok bikin rendang di kulkas. Ada aturan mainnya. Islam punya standar operasional prosedur (SOP) yang lumayan ketat soal urusan ini. Jangan sampai niat hati pengen dapet pahala gede, eh malah jadi 'zonk' gara-gara hewan yang kita pilih nggak memenuhi syarat sah secara syariat. Sedih, kan? Sudah keluar budget jutaan, tapi statusnya cuma sekadar 'sedekah daging biasa'.

1. Jenis Hewannya Harus Masuk Kategori 'Bahimatul An'am'

Poin pertama ini hukumnya mutlak. Kamu nggak bisa improvisasi di sini. Meskipun kamu punya hobi pelihara burung kicau yang harganya ratusan juta atau punya kucing ras paling mahal di dunia, mereka nggak bisa dijadikan hewan kurban. Hewan yang sah buat dikurbankan itu harus masuk kategori Bahimatul An'am atau hewan ternak. Pilihannya cuma tiga kelompok besar: unta, sapi (termasuk kerbau), dan kambing (termasuk domba atau biri-biri).

Jadi, kalau ada yang bilang, "Gue kurban ayam aja ya, soalnya lagi bokek banget tapi pengen kurban," ya maaf-maaf saja, itu namanya syukuran, bukan kurban Idul Adha. Secara filosofis, hewan-hewan besar ini dipilih karena memang memberikan manfaat daging yang banyak untuk dibagikan ke masyarakat luas. Intinya, kalau bukan unta, sapi, atau kambing, berarti skip.

2. Umur Adalah Koentji: Pastikan Sudah 'Poel'

Milih hewan kurban itu mirip-mirip milih pasangan hidup, penampilan luar saja nggak cukup, kedewasaan juga penting. Dalam dunia perkurbanan, kita mengenal istilah 'poel' atau tanggalnya gigi seri si hewan. Ini adalah indikator alami kalau si hewan sudah cukup umur buat disembelih.

Aturannya begini: Untuk kambing biasa (kambing kacang), minimal harus berumur satu tahun dan sudah masuk tahun kedua. Buat domba atau biri-biri, minimal enam bulan tapi sudah terlihat gede, atau idealnya satu tahun. Sedangkan buat sapi atau kerbau, minimal usianya dua tahun dan sudah masuk tahun ketiga. Terakhir, kalau kamu sultan dan mau kurban unta, minimal umurnya lima tahun.

Gimana cara ngeceknya kalau nggak bawa akta kelahiran si sapi? Gampang, buka mulutnya (hati-hati jangan sampai digigit). Kalau gigi serinya sudah berganti dari gigi susu ke gigi permanen yang lebih besar dan kuat, itu tandanya si hewan sudah layak naik meja eksekusi.

3. No Cacat, No Drama: Kondisi Fisik Harus Glowing

Ini adalah bagian paling krusial. Hewan kurban itu bakal dipersembahkan buat Sang Pencipta, jadi ya harus yang terbaik, bukan sisaan. Ada empat kondisi cacat yang bikin kurban kamu otomatis nggak sah menurut hadis Nabi Muhammad SAW:

  • Buta sebelah yang jelas: Apalagi kalau buta keduanya. Kalau cuma belekan dikit mungkin masih bisa ditoleransi, tapi kalau matanya sudah putih atau pecah, jangan dibeli.
  • Sakit yang nyata: Hewan yang lemas, nafsu makan hilang, atau badannya penuh koreng yang parah. Kita pengen ngasih daging yang sehat buat orang lain, bukan ngasih sumber penyakit.
  • Pincang yang parah: Maksudnya pincang yang sampai bikin si hewan nggak bisa jalan bareng kawanannya atau kesulitan menuju tempat makan. Kalau cuma keseleo dikit mungkin masih oke, tapi lebih baik cari yang langkahnya tegak dan gagah.
  • Sangat kurus sampai nggak punya sumsum: Jangan pilih sapi yang tinggal tulang dibalut kulit. Kasihan yang dapet bagian dagingnya nanti, cuma dapet balungan doang. Carilah yang gemoy, berisi, dan segar dipandang mata.

Sedikit tips: cek juga telinga dan ekornya. Sebagian ulama berpendapat kalau telinga atau ekor yang terpotong lebih dari sepertiga itu makruh atau bahkan bisa bikin nggak sah. Jadi, cari yang utuh-utuh saja biar tenang ibadahnya.

4. Status Kepemilikan: Jangan Pakai Barang 'Ghoib'

Maksudnya 'ghoib' di sini adalah barang yang bukan milik kita secara sah. Hewan kurban harus dibeli dengan uang halal, milik sendiri, atau pemberian orang lain yang ikhlas. Jangan sekali-kali kurban pakai hewan hasil nyolong, hasil nipu, atau hewan titipan orang yang belum lunas cicilannya tapi diam-diam kamu kurbankan atas nama kamu. Itu namanya cari penyakit.

Logikanya sederhana, kurban itu bentuk ketaatan. Gimana mau taat kalau modalnya aja haram? Selain itu, kalau kurban kolektif (patungan), pastikan jumlahnya pas. Sapi itu buat maksimal tujuh orang, sedangkan kambing cuma buat satu orang (dan satu keluarga). Jangan dipaksain sapi satu buat se-RT, ya nggak masuk itungannya.

5. Waktunya Harus Tepat: Jangan Kecepetan, Jangan Kesiangan

Kurban punya deadline dan waktu start yang jelas. Waktu penyembelihan yang sah itu dimulai setelah salat Idul Adha (tanggal 10 Dzulhijjah) selesai dilaksanakan. Kalau kamu nyembelih sebelum salat Id, meskipun itu cuma selisih lima menit, statusnya cuma jadi sembelihan biasa buat makan-makan keluarga, bukan kurban.

Waktu kurban ini berlangsung selama empat hari: hari Idul Adha dan tiga hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah). Begitu matahari terbenam di tanggal 13 Dzulhijjah, maka 'toko' kurban resmi tutup. Jadi, jangan santai-santai banget sampai lupa waktu.

Opini Penulis: Kurban Itu Soal Rasa, Bukan Cuma Gengsi

Di zaman media sosial kayak sekarang, kadang ada godaan buat beli sapi yang paling gede, paling mahal, cuma biar bisa diposting di Instagram dengan caption religius. Nggak salah sih punya sapi berat satu ton, tapi jangan sampai esensi kurbannya hilang. Ingat, yang sampai ke Allah itu bukan darah atau dagingnya, tapi ketakwaan kita.

Melihat syarat-syarat di atas, sebenarnya Islam lagi ngajarin kita buat jadi pribadi yang teliti dan menghargai orang lain. Dengan memilih hewan yang sehat dan tidak cacat, kita menunjukkan rasa hormat kepada penerima daging kurban. Bayangkan bahagianya orang yang jarang makan daging, tiba-tiba dapet potongan daging sapi yang segar dan empuk. Itu baru namanya berbagi kebahagiaan.

Jadi, sebelum meluncur ke lapak hewan kurban besok pagi, coba dicatat lagi poin-poin di atas. Jangan cuma dengerin rayuan manis pedagang yang bilang "Wah ini sapi super, Mas!", tapi cek sendiri giginya, perhatikan jalannya, dan pastikan dia nggak lagi flu berat. Ibadah kurban itu cuma setahun sekali, jadi nggak ada salahnya kita sedikit lebih 'cerewet' soal kualitas demi kesempurnaan ibadah. Selamat berburu hewan kurban, semoga tahun ini kurban kita semua diterima dan jadi berkah buat sesama!

Tags