Bingung Bagikan Daging Kurban? Ini Aturan yang Perlu Diketahui
Hafizah Fikriah Waskan - Wednesday, 27 May 2026 | 12:00 PM


Siapa Sih yang Sebenarnya Paling Berhak Nyate? Menakar Jatah Daging Kurban Biar Nggak Salah Sasaran
Momen Iduladha itu selalu punya vibes yang unik. Selain suara takbir yang bikin hati adem, ada aroma khas yang nggak bisa bohong: bau prengus kambing yang menyeruak di sekitar masjid atau lapangan. Di hari itu, mendadak semua orang jadi ahli anatomi dadakan. Ada yang sibuk motong, ada yang bagian nimbang, sampai ada tim hore yang kerjanya cuma nungguin jatah kresek buat dibawa pulang. Tapi jujur deh, di tengah riuh rendahnya prosesi penyembelihan, sering nggak sih terlintas di pikiran kita: "Ini daging sebanyak ini sebenarnya buat siapa aja sih?"
Jangan sampai ibadah yang niatnya tulus malah jadi ajang rebutan atau salah sasaran cuma gara-gara kita nggak paham pembagian jatahnya. Kan nggak lucu kalau yang paling butuh malah cuma dapet tetelan, sementara yang rumahnya gedongan malah dapet paha belakang yang montok banget. Biar nggak bingung dan nggak kena nyinyir tetangga, yuk kita bahas pelan-pelan siapa saja yang berhak menerima daging kurban dengan gaya santai ala tongkrongan.
1. Si Shohibul Kurban (Yang Punya Hajat)
Pertama-tama, kita harus kenalan dulu sama istilah "Shohibul Kurban". Ini adalah sebutan buat orang yang mengeluarkan duit buat beli hewan kurban tersebut. Banyak yang mengira kalau sudah berkurban, si pemilik nggak boleh makan dagingnya sama sekali. Eits, salah besar! Justru si Shohibul Kurban ini sangat disarankan untuk ikut mencicipi daging hewan yang dia kurbankan.
Aturannya, Shohibul Kurban boleh mengambil maksimal sepertiga (1/3) dari total daging. Tapi ingat, ini bukan berarti dia harus ngambil semua jatah sepertiganya itu buat stok sebulan di kulkas ya. Intinya adalah keberkahan. Makan sedikit buat syarat dan rasa syukur itu keren, tapi kalau diambil kebanyakan ya kesannya kayak beli daging biasa aja di pasar. Kecuali kalau kurbannya adalah kurban nazar (janji karena sesuatu), nah kalau yang ini si pemilik nggak boleh makan seincipun dagingnya. Harus diserahkan semua ke orang lain.
2. Fakir Miskin: Sang Tamu VIP
Kalau bicara soal kurban, ya bintang utamanya adalah kaum fakir dan miskin. Mereka adalah prioritas utama alias tamu VIP dalam pembagian ini. Kenapa? Karena esensi dari kurban adalah berbagi kebahagiaan. Mungkin bagi sebagian kita, makan daging sapi itu hal biasa yang bisa dilakukan kapan saja tinggal buka aplikasi ojek online. Tapi buat saudara-saudara kita yang kurang beruntung, momen Iduladha adalah satu-satunya waktu di mana mereka bisa masak rendang atau sate tanpa harus pusing mikirin harganya yang selangit.
Biasanya, jatah untuk fakir miskin ini juga sekitar sepertiga. Tapi kalau panitianya peka dan melihat di lingkungan sekitar banyak banget yang membutuhkan, porsi untuk mereka bisa ditambah. Nggak ada salahnya kok memberikan lebih banyak buat mereka yang jarang banget ketemu protein hewani di meja makannya. Ini bukan cuma soal ngasih daging, tapi soal ngasih mereka senyum di hari raya.
3. Teman, Tetangga, dan Kerabat (Meski Mereka Mampu)
Nah, ini yang sering jadi perdebatan di grup WhatsApp keluarga atau komplek. "Lho, si Bapak itu kan kaya, mobilnya dua, kok tetep dapet daging kurban?" Jawabannya: Boleh banget! Sepertiga sisanya memang dialokasikan untuk hadiah kepada teman, kerabat, atau tetangga sekitar, tanpa memandang status ekonominya.
Islam itu indah banget dalam hal sosial. Memberi daging ke tetangga yang mampu itu tujuannya buat mempererat tali silaturahmi alias ukhuwah. Bayangkan kalau kita cuma ngasih ke yang miskin aja, nanti kesannya malah kayak membeda-bedakan kelas sosial di hari raya. Dengan saling berbagi ke semua tetangga, suasana jadi cair, yang tadinya jarang tegur sapa gara-gara sibuk kerja, mendadak jadi ngobrol gara-gara bahas resep bumbu sate yang paling maknyus. Jadi, jangan julid ya kalau lihat tetangga yang punya Pajero dapet kresek kurban juga.
4. Bolehkah Non-Muslim Menerima Daging Kurban?
Pertanyaan ini sering muncul dan jawabannya cukup melegakan. Sebagian besar ulama membolehkan pemberian daging kurban kepada non-Muslim, terutama jika mereka adalah tetangga kita atau orang yang memang sangat membutuhkan. Logikanya sederhana: kurban itu misi kemanusiaan dan kasih sayang. Memberi daging kurban kepada tetangga non-Muslim bisa jadi cara menunjukkan kalau Islam itu agama yang rahmatan lil 'alamin, alias membawa rahmat buat semesta alam, bukan cuma buat kelompok sendiri.
Bayangkan indahnya kerukunan kalau kita bisa berbagi kebahagiaan tanpa melihat latar belakang agama. Di Indonesia yang bhinneka ini, aksi bagi-bagi daging ke tetangga beda iman itu rasanya adem banget di hati. Itu adalah bentuk nyata dari toleransi yang nggak cuma sekadar slogan di buku PPKn.
5. Nasib Panitia Kurban: Upah vs Hadiah
Satu lagi yang nggak kalah penting: panitia kurban. Mereka ini pahlawan di balik layar yang berlumuran darah dan bau prengus seharian. Apakah mereka berhak dapet daging? Tentu saja boleh, asal statusnya sebagai bagian dari warga (hadiah) atau fakir miskin (sedekah). Yang dilarang adalah menjadikan daging kurban sebagai "upah" resmi buat mereka.
Maksudnya gimana? Gini, panitia nggak boleh dikasih daging sebagai pengganti gaji mereka kerja. Bayaran buat jagal atau panitia ya harus berupa uang atau materi lain di luar hewan kurban itu sendiri. Jangan sampai ada akad "Kamu bantuin motong ya, nanti gajinya paha depan satu." Nah, itu nggak boleh. Daging yang mereka terima harus murni pemberian sebagai hak mereka sebagai manusia, bukan sebagai alat transaksi jasa.
Kesimpulan: Lebih Dari Sekadar Pesta Daging
Pada akhirnya, pembagian daging kurban itu bukan soal hitung-hitungan matematika yang kaku. Ini soal rasa. Soal gimana kita bisa menekan ego buat nggak numpuk daging di freezer sendiri, dan lebih milih buat melihat tetangga kita yang biasanya makan nasi garam bisa makan enak hari itu.
Kalau kita sadar bahwa semua yang kita punya itu cuma titipan, rasanya bakal enteng banget buat ngelepas jatah daging kita ke orang yang lebih butuh. Jadi, buat kalian yang tahun ini berkurban atau jadi panitia, yuk lebih teliti lagi. Pastikan kresek-kresek itu sampai ke tangan yang tepat. Biar apa? Biar keberkahan kurbannya berasa sampai ke langit, dan kenyangnya berasa sampai ke hati semua orang. Selamat nyate, tapi ingat, kolesterol jangan sampai lepas kendali ya!
Next News

Jangan Asal Sabet, Ini Panduan Doa Menyembelih Hewan Kurban Biar Auto-Berkah
4 days ago

Niat Salat Idul Adha: Biar Ibadah Makin Mantap dan Nggak Cuma Ikut-ikutan
4 days ago

Bukan Cuma Sate, Ini Sunnah Pagi Iduladha yang Sering Terlupa
4 days ago

Hutan Tropis: Panggung Sandiwara Alam yang Lebih Seru dari Drakor
10 days ago

Polusi Jakarta Menggila? Saatnya Melirik Hutan Hujan Kita
12 days ago

Bosan Polusi Kota? Yuk Kenali Peran Penting Hutan Lebih Dalam
12 days ago

Selamat Datang di Era Gen Alfa: Saat Parenting Bukan Lagi Sekadar Kasih Makan dan Sekolah
16 days ago

Milenial, Gen Z, Hingga Gen Alpha: Dari Pejuang Wartel Sampai Pasukan iPad Kids
16 days ago

Gen Alfa: Si "iPad Kids" yang Bikin Guru dan Orang Tua Harus Putar Otak
16 days ago

Menjadi Bestie untuk Si Paling Digital: Seni Mengasuh Anak Gen Alfa Tanpa Bikin Darah Tinggi
17 days ago



