Kamis, 21 Mei 2026
Amandit FM
Hiburan

Selamat Datang di Era Gen Alfa: Saat Parenting Bukan Lagi Sekadar Kasih Makan dan Sekolah

Hafizah Fikriah Waskan - Thursday, 14 May 2026 | 09:00 PM

Background
Selamat Datang di Era Gen Alfa: Saat Parenting Bukan Lagi Sekadar Kasih Makan dan Sekolah
Era Gen Alfa (Pexels.com/Kampus Production)

Bayangkan sebuah skenario yang mungkin sering kamu lihat di mal atau kafe belakangan ini: seorang balita duduk anteng di stroller, tapi matanya nggak lepas dari layar tablet yang memutar video animasi warna-warni dengan tempo super cepat. Jarinya begitu lincah melakukan 'swipe' atau 'skip ad' sebelum ibunya sempat menyuapkan sesendok nasi tim. Pemandangan ini bukan lagi fiksi ilmiah, melainkan realitas sehari-hari dari generasi terbaru kita: Gen Alfa.

Lahir antara tahun 2010 hingga 2024, Gen Alfa adalah anak-anak dari kaum Milenial dan sebagian kecil Gen Z. Mereka adalah generasi pertama yang benar-benar "digital native" sejak dalam kandungan. Masalahnya, membesarkan mereka itu tantangannya bukan main. Kalau dulu orang tua kita pusing karena kita main layangan sampai lupa waktu atau kebanyakan baca komik, orang tua zaman sekarang harus berhadapan dengan algoritma, kecerdasan buatan (AI), hingga tren 'Sephora Kids' yang bikin geleng-geleng kepala.

Layar yang Menjadi 'Baby Sitter' Digital

Tantangan paling nyata tentu saja soal screen time. Jujur saja, bagi banyak orang tua yang kelelahan setelah pulang kerja, memberikan ponsel ke anak adalah jalan pintas paling instan biar rumah tenang. Tapi, ini seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, anak jadi pintar teknologi, tapi di sisi lain, ada ancaman 'brain rot' akibat konsumsi konten receh tanpa filter.

Fenomena seperti "Skibidi Toilet" atau video-video tantangan aneh di YouTube seringkali luput dari pengawasan. Orang tua harus berperan jadi kurator konten sekaligus polisi siber di rumah sendiri. Belum lagi soal durasi. Menarik ponsel dari tangan anak Gen Alfa itu rasanya seperti mencoba mengambil tulang dari mulut anjing galak; bakal ada drama, tangisan bombay, sampai tantrum yang bikin satu kompleks bangun. Menyeimbangkan antara edukasi digital dan interaksi fisik di dunia nyata adalah perjuangan yang bikin banyak orang tua merasa gagal tiap malam.

Gentle Parenting vs Realita Mental yang Capek

Sekarang lagi tren yang namanya gentle parenting. Intinya, mendidik dengan empati, tanpa bentakan, apalagi main tangan. Secara teori, ini keren banget. Kita ingin memutus rantai trauma masa lalu. Tapi praktiknya? Wah, luar biasa menguras energi. Bayangkan, saat kamu lagi pusing cicilan dan kerjaan kantor menumpuk, lalu anakmu menolak mandi sambil melempar mainan, kamu dituntut untuk tetap tenang dan bilang, "Ayah mengerti kamu sedang kesal, Nak..."

Banyak orang tua Gen Alfa yang akhirnya merasa terjepit. Mereka ingin jadi orang tua yang "sadar mental," tapi di sisi lain, mereka juga manusia biasa yang punya batas sabar. Alhasil, banyak yang terjebak dalam rasa bersalah yang berlebihan atau parenting guilt. Ada semacam tekanan sosial di media sosial kalau nggak estetik atau nggak sabar sama anak, berarti kamu bukan orang tua yang baik. Padahal, ya, jadi orang tua itu memang tempatnya salah dan belajar.

Dunia yang Makin Kompetitif dan Mahal

Tantangan lain yang nggak kalah bikin meriang adalah tekanan ekonomi dan sosial. Gen Alfa tumbuh di dunia yang sangat visual. Mereka melihat gaya hidup anak-anak lain di Instagram atau TikTok. Sekarang ada fenomena anak usia 10 tahun sudah minta produk perawatan kulit (skincare) mahal yang sebenarnya belum mereka butuhkan. Mereka terpapar standar kecantikan dan gaya hidup mewah sejak dini.

Bagi orang tua, ini berarti pengeluaran tambahan yang nggak main-main. Belum lagi soal pendidikan. Sekarang, masuk TK saja tesnya sudah kayak mau masuk CPNS. Ada tuntutan agar anak harus bisa baca-tulis-hitung (calistung) sebelum masuk SD, harus les bahasa Inggris, les coding, sampai les piano. Kita seolah berlomba-lomba membekali mereka agar tidak tergilas zaman, tapi kadang kita lupa bertanya: apakah mereka sempat menikmati masa kecilnya?

Kehilangan 'Desa' untuk Membesarkan Anak

Ada pepatah lama yang bilang, "It takes a village to raise a child." Dulu, kita punya tetangga yang ikut ngawasin kalau kita nakal di luar rumah. Sekarang? Orang-orang makin individualis. Hidup di perumahan atau apartemen bikin interaksi sosial terbatas. Orang tua sekarang seringkali merasa sendirian dalam membesarkan anak.

Kurangnya sistem pendukung (support system) ini membuat tingkat stres orang tua meningkat. Ayah dan ibu sama-sama bekerja, pulang sudah lelah, dan masih harus menghadapi dinamika anak Gen Alfa yang kritisnya minta ampun. Anak-anak ini nggak bisa cuma dikasih jawaban "Pokoknya jangan!" atau "Karena Ibu bilang begitu!". Mereka akan tanya "Kenapa?" sampai ke akar-akarnya. Kalau kita nggak punya jawaban logis, mereka bakal cari sendiri di Google atau ChatGPT.

Mencoba Tetap Waras di Tengah Gempuran Zaman

Meski tantangannya segunung, sebenarnya membesarkan Gen Alfa juga punya sisi manisnya. Mereka adalah generasi yang sangat inklusif, terbuka pada perbedaan, dan cepat menangkap informasi. Mereka bisa jadi teman diskusi yang asyik kalau kita bisa menempatkan diri.

Kuncinya mungkin bukan menjadi orang tua yang sempurna, karena itu mustahil. Kuncinya adalah menjadi orang tua yang mau terus belajar (unlearn dan relearn). Kita nggak perlu tahu semua hal tentang teknologi, tapi kita harus tahu apa yang mereka akses. Kita nggak harus selalu sabar 24 jam, tapi kita harus mau minta maaf kalau kita berbuat salah pada mereka.

Pada akhirnya, membesarkan Gen Alfa adalah tentang membangun koneksi, bukan sekadar kontrol. Di dunia yang makin digital dan penuh layar, sentuhan manusiawi, pelukan hangat, dan kehadiran fisik orang tua adalah kemewahan yang paling mereka butuhkan. Jadi, buat para orang tua di luar sana yang merasa lelah: nggak apa-apa kalau sesekali merasa gagal. Yang penting, besok kita coba lagi dengan lebih baik. Semangat, ya!

Tags