Minggu, 24 Mei 2026
Amandit FM
Science & Technology

Deforestasi: Alasan Utama Kenapa Cuaca Sekarang Makin Ekstrem

Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 19 May 2026 | 12:00 PM

Background
Deforestasi: Alasan Utama Kenapa Cuaca Sekarang Makin Ekstrem
Deforestasi (Pexels.com/Pok Rie )

Hutan Kita Gundul, Bumi Makin Gerah: Kenapa Deforestasi Bukan Cuma Masalah Orangutan?

Pernah nggak sih kamu merasa kalau cuaca belakangan ini lagi nggak ngotak? Baru jam sembilan pagi, tapi rasanya kayak lagi berdiri di depan knalpot metromini yang lagi dipanasin. Panasnya itu bukan cuma tipe panas yang bikin haus, tapi tipe panas yang bikin emosi gampang kesulut dan bikin pengen mandi es tiap satu jam sekali. Nah, kalau kamu merasa bumi makin gerah, jangan cuma nyalahin AC yang nggak dingin atau matahari yang lagi semangat-semangatnya. Masalahnya jauh lebih dalam dari itu, dan salah satu tersangka utamanya adalah deforestasi alias penggundulan hutan.

Bayangin deh, hutan itu kayak air conditioner (AC) raksasa sekaligus filter udara alami buat planet kita. Kalau AC-nya dicopot satu-satu, ya wajar kalau kita semua kepanasan. Tapi sayangnya, di Indonesia, kita seringkali lebih peduli sama feed Instagram yang estetik daripada nasib hutan di Kalimantan atau Sumatra yang pelan-pelan berubah jadi lahan gundul atau perkebunan monokultur.

Deforestasi: Si Pencuri Karbon yang Nggak Ada Akhlak

Oke, mari kita masuk ke sisi "sains" tapi versi santainya. Pohon itu sebenernya makhluk yang luar biasa baik hati. Mereka "makan" karbon dioksida (CO2)—gas yang bikin bumi makin panas—dan ngeluarin oksigen buat kita napas. Proses ini namanya sekuestrasi karbon. Singkatnya, hutan adalah gudang penyimpanan karbon paling efisien yang pernah ada. Masalah muncul ketika pohon-pohon ini ditebang atau dibakar. Karbon yang udah mereka simpan selama puluhan tahun itu nggak hilang gitu aja, melainkan "muntah" balik ke atmosfer.

Jadi, deforestasi itu kayak pedang bermata dua. Pertama, kita kehilangan mesin penyerap panas. Kedua, kita malah nambahin stok gas rumah kaca ke langit. Gila banget, kan? Ibarat kamu lagi diet tapi malah sengaja numpahin minyak goreng ke semua makanan kamu. Dampaknya ya suhu bumi makin naik, atau yang kita kenal dengan istilah pemanasan global.

Banyak orang mikir, "Ah, kan cuma satu hutan yang dibabat, masih banyak hutan lain." Masalahnya, kerusakan hutan ini sifatnya sistemik. Begitu hutan hilang, siklus air jadi kacau. Hutan itu fungsinya kayak spons yang nyerap air hujan. Kalau pohonnya nggak ada, air hujan langsung lari ke sungai, bikin banjir, dan tanah nggak punya cadangan air buat nguap ke udara. Hasilnya? Cuaca jadi makin ekstrem. Kadang kering kerontang sampai tanah pecah-pecah, kadang hujan sebentar aja langsung bikin Jakarta atau Semarang kerendem.

Ironi Si Paru-paru Dunia yang Lagi Asma

Indonesia itu sering dijuluki "Paru-paru Dunia" karena luas hutannya yang luar biasa. Tapi jujur aja, saat ini paru-paru kita lagi kena asma akut. Kita sering bangga dengan kekayaan alam, tapi di saat yang sama, alat berat terus-terusan ngerobohin pohon-pohon raksasa demi apa yang kita sebut "pembangunan." Oke, kita butuh ekonomi, kita butuh komoditas, tapi kalau harganya adalah masa depan iklim yang hancur, rasanya kok agak nggak worth it ya?

Dampak deforestasi terhadap perubahan iklim ini nggak cuma soal angka-angka statistik di berita atau laporan aktivis lingkungan. Ini soal nyata yang kita rasain. Pernah denger soal fenomena El Nino yang makin parah? Itu salah satunya dipicu oleh hilangnya tutupan hutan. Ketika hutan hilang, keseimbangan panas di permukaan bumi bergeser. Ini yang bikin pola tanam petani jadi berantakan. Kalau petani gagal panen karena cuaca nggak menentu, harga beras naik, harga cabai meroket, dan ujung-ujungnya dompet kita juga yang kena imbasnya.

Gaya Hidup Kita dan Hutan yang Hilang

Jangan kira deforestasi itu cuma salah korporasi besar atau pemerintah yang kurang tegas. Sadar atau nggak, gaya hidup kita juga ikut "nyumbang" bensin ke api ini. Permintaan kita yang tinggi terhadap produk-produk yang lahannya berasal dari konversi hutan—kayak minyak sawit yang ada di hampir semua sabun, sampo, dan camilan kita—bikin deforestasi terus jalan. Belum lagi soal ketergantungan kita sama kertas dan tisu yang berlebihan.

Mungkin terdengar klise, tapi emang bener kalau segalanya itu saling terhubung. Saat hutan di Kalimantan terbakar, asapnya mungkin nggak sampai ke kamarmu yang ber-AC di Jakarta, tapi karbonnya naik ke atas sana, nyampur sama emosi kita semua yang makin panas karena suhu bumi naik. Kita semua tinggal di bawah atap yang sama. Kalau satu sudut atapnya kebakar, tinggal nunggu waktu aja sampai seluruh rumah kerasa panasnya.

Lalu, apa kita cuma bisa pasrah sambil kipas-kipas? Ya nggak juga. Meskipun kita bukan pengambil kebijakan, suara kita sebagai konsumen itu punya power. Mulai dari ngurangin pemakaian plastik sekali pakai (yang produksinya butuh energi fosil yang bikin iklim makin rusak), sampai lebih teliti milih produk yang punya sertifikasi berkelanjutan. Dan yang paling penting, jangan berhenti buat peduli dan bersuara. Isu lingkungan itu bukan isu "orang pinter" atau isu "aktivis" doang, ini isu kita semua yang masih pengen bisa napas enak dan nggak mau mati kepanasan di masa depan.

Kesimpulan: Masa Depan Itu Hijau, Bukan Abu-abu

Deforestasi adalah pemicu utama perubahan iklim yang paling nyata di depan mata. Kehilangan hutan berarti kita kehilangan benteng terakhir melawan krisis iklim. Tanpa pohon, bumi cuma bakal jadi bola batu yang panas dan nggak ramah buat ditinggali. Kita nggak butuh teknologi canggih buat "nyembuhin" iklim, kita cuma butuh ngebiarin pohon-pohon itu tetep tegak berdiri dan nanam lebih banyak lagi.

Jadi, lain kali kalau kamu ngerasa sumuk atau kepanasan pas lagi jalan di luar, ingetlah kalau di suatu tempat, ada hutan yang lagi roboh. Dan mungkin, itu adalah pengingat buat kita semua untuk mulai lebih serius jagain apa yang tersisa. Karena pada akhirnya, kita nggak bisa makan uang atau minum minyak kalau udara udah terlalu panas buat sekadar dihirup.

Tags