Jumat, 19 Juni 2026
Amandit FM
Science & Technology

Tips Memilih Hewan Kurban Biar Nggak Kena 'Zonk': Panduan Santai ala Anak Muda

Hafizah Fikriah Waskan - Thursday, 04 June 2026 | 05:00 PM

Background
Tips Memilih Hewan Kurban Biar Nggak Kena 'Zonk': Panduan Santai ala Anak Muda
(Pexels.com/Vladimir Srajber )

Menjelang Hari Raya Idul Adha, pemandangan kota tiba-tiba berubah. Trotoar yang biasanya sepi atau cuma berisi tukang gorengan, mendadak berubah jadi 'showroom' dadakan berisi sapi-sapi kekar dan kambing-kambing yang cerewet. Bau khas prengus mulai tercium di mana-mana. Buat sebagian orang, ini adalah tanda kalau dompet harus segera bersiap untuk 'sedekah brutal' alias berkurban.

Tapi jujur saja, beli hewan kurban itu nggak segampang beli sneaker di marketplace. Kalau beli sepatu, kita tinggal liat ukuran dan warna. Nah, kalau beli sapi atau kambing? Kita berurusan dengan makhluk hidup yang punya syarat dan ketentuan berlaku dari 'pusat' alias syariat Islam. Jangan sampai niatnya mau ibadah, eh malah kena zonk gara-gara hewannya nggak sah. Biar nggak bingung pas milih di lapak pinggir jalan, yuk kita bedah syarat hewan kurban yang sah dengan bahasa yang lebih manusiawi.

1. Jenis Hewan: Bukan Sembarang Binatang

Syarat pertama ini mutlak, nggak bisa dinego kayak harga sewa kosan. Hewan yang boleh dikurbankan itu harus masuk kategori Bahimatul An'am atau hewan ternak. Di Indonesia, pilihannya biasanya cuma tiga: Sapi (atau kerbau, meski jarang di kota besar), Kambing, dan Domba. Kalau kamu di Arab, mungkin bisa pilih Unta.

Jangan mentang-mentang kamu tajir melintir dan pengen tampil beda, terus kamu mutusin buat kurban pake rusa, jerapah, apalagi kurban perasaan. Nggak bisa, kawan. Ayam jago yang harganya jutaan juga nggak masuk hitungan kurban, itu mah namanya syukuran biasa. Jadi, pastikan pilihan kamu tetap berada di jalur 'mainstream' ya.

2. Usia Harus Cukup: Cari yang Sudah 'Poel'

Nah, ini nih yang sering jadi perdebatan seru antara pembeli dan penjual. Hewan kurban itu ada syarat minimal usianya. Ibarat masuk klub malam, ada batas umur yang harus dipatuhi. Untuk kambing minimal umur satu tahun masuk tahun kedua, sedangkan sapi minimal dua tahun masuk tahun ketiga. Domba? Minimal enam bulan kalau sudah ganti gigi (musinnah).

Gimana cara ngeceknya? Anak muda zaman sekarang mana paham liat akta kelahiran kambing? Tenang, kuncinya ada di gigi. Istilah populernya adalah 'Poel'. Cobalah sesekali jadi dokter gigi dadakan. Buka mulut si kambing atau sapi (hati-hati jangan sampai digigit atau kena seruduk), liat gigi depannya. Kalau dua gigi seri permanennya sudah tumbuh besar menggantikan gigi susu, berarti hewan itu sudah cukup umur alias dewasa secara syariah.

3. Fisik Harus Glowing (Maksudnya Sehat Walafiat)

Kurban itu prinsipnya adalah memberikan yang terbaik. Bayangkan kamu lagi ngasih kado buat orang paling spesial, pasti nggak mau kan ngasih barang yang rusak? Begitu juga dengan hewan kurban. Ada empat cacat fisik yang bikin hewan kurban jadi auto-nggak sah menurut hadis Nabi:

  • Buta: Entah itu buta sebelah atau keduanya, kalau sudah kelihatan jelas butanya, coret dari daftar.
  • Sakit: Jangan pilih hewan yang lemas, ingusan parah, atau kelihatan nggak nafsu makan. Hewan kurban harus segar bugar.
  • Pincang: Kalau jalannya sudah terseok-seok dan nggak bisa ngikutin rombongannya, itu tandanya dia nggak layak kurban.
  • Sangat Kurus: Hewan yang saking kurusnya sampai kayak nggak punya sumsum tulang itu haram hukumnya buat dikurbankan. Kita kan mau bagi-bagi daging, bukan bagi-bagi tulang belulang buat pajangan.

Obsesi kita harusnya bukan cuma cari yang murah, tapi cari yang 'cakep' secara fisik. Pastikan matanya bening, bulunya bersih, dan gerakannya lincah. Kalau hewannya cuma diam mematung pas diganggu, mending cari lapak sebelah aja.

4. Status Kepemilikan: Jangan Pakai Barang 'Ghoib'

Poin ini sering terlewat karena kita terlalu fokus liat fisik hewan. Hewan yang dikurbankan harus benar-benar milik sendiri. Artinya, dibeli dengan uang yang halal, bukan hasil korupsi, bukan hasil nipu, apalagi hasil pinjol ilegal yang bunganya mencekik leher. Ibadah itu jalurnya harus suci dari hulu sampai hilir.

Selain itu, hewannya juga bukan milik orang lain yang kita klaim sepihak. Misalnya, ada kambing tetangga masuk halaman rumah, terus langsung kita bawa ke masjid buat dikurbankan. Itu namanya nyolong, bukan kurban. Hewan yang masih dalam status gadai atau sengketa juga sebaiknya dihindari biar hati lebih tenang.

5. Waktu Penyembelihan: Jangan Kecepetan, Jangan Kelamaan

Timing adalah segalanya. Kurban itu punya 'window time' yang spesifik. Waktunya dimulai setelah salat Idul Adha dilaksanakan. Kalau kamu nyembelihnya subuh sebelum salat Id, itu namanya cuma pesta BBQ biasa alias sedekah daging biasa, bukan ibadah kurban.

Waktu penyembelihan ini berlangsung sampai hari Tasyrik berakhir, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah sebelum matahari terbenam. Jadi kalau kamu baru dapat THR telat dan baru bisa beli kambing di hari kedua lebaran, tenang aja, masih sah kok. Nggak perlu buru-buru di hari pertama kalau memang kondisinya nggak memungkinkan.

Penutup: Kurban Itu Soal Rasa, Bukan Cuma Gengsi

Di era media sosial ini, kadang kita terjebak dalam kompetisi 'Sapi Siapa yang Paling Gede'. Ada yang pamer sapi satu ton seharga mobil city car cuma buat konten. Ya nggak salah sih selama niatnya tulus dan duitnya ada. Tapi buat kita yang budgetnya pas-pasan, nggak perlu minder. Seekor kambing yang sehat, cukup umur, dan dibeli dengan uang hasil kerja keras sendiri itu nilainya jauh lebih mulia di mata Tuhan daripada sapi raksasa yang dibeli cuma buat pamer status sosial.

Inti dari kurban adalah keikhlasan dan kepedulian sosial. Kita belajar melepaskan sesuatu yang kita sayang (uang/harta) untuk dibagikan kepada mereka yang mungkin cuma bisa makan daging setahun sekali. Jadi, pastikan hewan pilihanmu memenuhi semua syarat di atas supaya ibadahnya diterima dan tetangga pun bahagia saat menerima bingkisan daging darimu. Selamat berburu hewan kurban, semoga nggak kena 'ghosting' sama penjualnya ya!

Tags