Kasus Campak Meningkat, Indonesia Masuk Negara dengan KLB Tertinggi di Dunia!
Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 10 March 2026 | 10:39 AM


amanditmedia.id, Jakarta – Lonjakan kasus Campak di Indonesia menimbulkan kekhawatiran. Data Ikatan Dokter Anak Indonesia menunjukkan Indonesia saat ini berada di peringkat kedua dunia dalam jumlah kejadian luar biasa (KLB) campak.
Dalam enam bulan terakhir, jumlah kasus campak di Indonesia tercatat mencapai sekitar 10.744 kasus. Angka tersebut menempatkan Indonesia di bawah Yaman dengan 11.288 kasus. Sementara itu, beberapa negara lain dengan jumlah kasus tinggi adalah India, Pakistan, dan Angola.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa campak merupakan penyakit yang memiliki tingkat penularan sangat tinggi. Bahkan, menurutnya, kemampuan penularan virus ini jauh lebih besar dibandingkan virus COVID-19 yang sempat memicu pandemi global.
Ia menjelaskan bahwa tingkat reproduksi virus campak dapat mencapai 18. Artinya, satu orang yang terinfeksi berpotensi menularkan virus kepada hingga 18 orang lain di sekitarnya.
Meski demikian, Budi menekankan bahwa penyakit ini sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi yang telah terbukti efektif. Dengan vaksinasi yang lengkap, risiko seseorang terinfeksi campak dapat ditekan secara signifikan.
Ancaman campak juga tidak hanya terbatas pada gejala umum seperti demam, batuk, atau ruam kulit. Penyakit ini berpotensi menimbulkan komplikasi serius, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi atau mengalami kekurangan gizi.
Data UNICEF mencatat sekitar 136.000 kematian akibat campak terjadi setiap tahun di seluruh dunia, dengan sebagian besar korban adalah anak-anak di bawah usia lima tahun.
Selain itu, virus campak dapat memicu kondisi yang dikenal sebagai "amnesia imun", yaitu gangguan pada sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan tubuh kehilangan sebagian memori perlindungan terhadap penyakit lain.
Akibat kondisi tersebut, anak yang pernah terinfeksi campak bisa menjadi lebih rentan terhadap berbagai penyakit selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah sembuh.
Sejumlah komplikasi berat yang dapat muncul akibat campak antara lain pneumonia atau infeksi paru-paru, ensefalitis atau peradangan otak, serta kondisi langka bernama subacute sclerosing panencephalitis (SSPE) yang bersifat fatal. Karena itu, para ahli menekankan pentingnya pencegahan melalui imunisasi sejak dini.
Next News

Kasus Campak Meningkat di Indonesia, Kenali Penyebab, Gejala, dan Faktor Risikonya
a day ago

Menkes Soroti Selebgram Tetap Keluyuran Saat Sakit Campak, Ingatkan Risiko Penularan
a day ago

Mengenal Campak atau Gabag: Gejala, Mitos, dan Cara Penanganannya
8 days ago

Mengenal Campak: Bukan Sekadar Bintik Merah, Tapi Gimana Sih Cara Ngobatinnya?
8 days ago

Jangan Tunggu Sampai Merah-Merah: Panduan Santuy Tapi Serius Biar Nggak Kena Campak
8 days ago

Campak Bukan Sekadar Bintik Merah Biasa: Kenapa Kita Nggak Boleh Anggap Enteng Penyakit Jadul Ini
9 days ago

Jangan Sepelekan Campak! Ternyata Bukan Sekadar Bintik Merah Biasa
9 days ago

Bukan Cuma Bintik Merah Biasa: Kupas Tuntas Jenis-Jenis Campak yang Sering Bikin Salah Paham
9 days ago

Waspada Campak pada Anak: Kenali Gejala dan Cara Menanganinya
9 days ago

Sahur Pakai Mie Instan Memang Nikmat, tapi Siap-Siap "Tepar" Sebelum Dzuhur
9 days ago





