Minggu, 24 Mei 2026
Amandit FM
Science & Technology

Menilik Realita Hutan Indonesia yang Tak Lagi Sehijau Dulu

Hafizah Fikriah Waskan - Monday, 18 May 2026 | 06:00 PM

Background
Menilik Realita Hutan Indonesia yang Tak Lagi Sehijau Dulu
Deforestasi (Pexels.com/ Zoran Milosavljevic )

Hutan Kita: Paru-paru Dunia yang Lagi Sesak Napas, Salah Siapa?

Waktu kita masih SD dulu, guru Geografi sering banget bilang kalau Indonesia itu "Zamrud Khatulistiwa" dan "Paru-paru Dunia". Rasanya bangga banget, kan? Kita bayangin hutan kita itu kayak hutan di film Avatar yang rimbun, hijau, dan penuh oksigen segar. Tapi kalau kita lihat realitanya sekarang, judul "paru-paru dunia" itu rasanya makin lama makin ironis. Jangankan jadi paru-paru dunia, buat napas warga di sekitar lokasi kebakaran hutan aja rasanya sudah megap-megap gara-gara kabut asap.

Kerusakan hutan kita itu bukan fenomena yang tiba-tiba jatuh dari langit kayak hujan meteor. Ini adalah akumulasi dari ego manusia, kebutuhan ekonomi yang nggak ada habisnya, sampai pengawasan yang seringnya "anget-anget tahi ayam". Kalau kita mau jujur-jujuran, ada beberapa biang kerok yang paling sering jadi penyebab hutan kita makin tipis kayak dompet di akhir bulan.

Ekspansi Perkebunan: Dilema Antara Cuan dan Alam

Ngomongin kerusakan hutan di Indonesia tanpa nyebut kelapa sawit itu kayak makan seblak tapi nggak pakai kerupuk, ada yang kurang. Sebenarnya nggak cuma sawit sih, ada juga karet atau tanaman industri lainnya. Tapi ya memang sawit yang paling sering jadi sorotan utama. Kita semua tahu, komoditas ini adalah "emas cair" yang nyumbang devisa negara gede banget. Tapi harganya mahal, bukan cuma soal rupiah, tapi soal hilangnya keanekaragaman hayati.

Bayangin aja, ribuan hektar hutan primer yang isinya pohon-pohon tua dan rumah buat orangutan, mendadak diratain buat ditanami satu jenis tanaman seragam (monokultur). Masalahnya bukan cuma pohon yang ditebang, tapi ekosistemnya yang hancur total. Tanah yang tadinya lembap jadi kering, dan satwa liar yang kehilangan rumah akhirnya terpaksa masuk ke pemukiman warga. Ujung-ujungnya? Satwa itu yang dianggap hama dan diburu. Sedih, kan?

Logging: Dari yang Legal Sampai yang "Ninja"

Penyebab klasik lainnya adalah pembalakan hutan atau logging. Ini ada dua jenis: yang punya izin tapi mainnya nakal, sama yang memang murni ilegal alias main kucing-kucingan sama aparat. Kayu-kayu besar kayak Meranti atau Jati itu harganya selangit di pasar internasional. Makanya, banyak orang yang gelap mata buat nebangin pohon tanpa mikirin regenerasinya.

Lucunya, kadang praktek penebangan legal pun bisa ngerusak kalau nggak dibarengi sama manajemen yang bener. Misalnya, mereka cuma punya izin nebang di area A, tapi "kebablasan" sampai ke area B yang harusnya dilindungi. Belum lagi akses jalan yang dibuat buat ngangkut kayu itu malah jadi pintu masuk buat orang lain untuk buka lahan ilegal lebih dalam lagi ke jantung hutan. Ini kayak efek domino yang nggak pernah berhenti.

Pertambangan yang Bikin Hutan Bolong-bolong

Coba deh kalian sesekali lihat Google Earth di daerah Kalimantan atau Bangka Belitung. Selain warna hijau, kalian bakal nemuin banyak banget lubang-lubang besar warna cokelat atau air biru kehijauan yang mati. Itu adalah bekas tambang. Hutan kita itu ibarat karpet hijau yang di bawahnya ada harta karun berupa batubara, nikel, emas, sampai timah.

Masalahnya, metode tambang yang paling murah dan sering dipakai itu adalah tambang terbuka (open pit mining). Artinya, semua yang ada di atas tanah—ya pohon, ya semak, ya humus—harus dibabat habis dan dikeruk tanahnya. Kalau izinnya sudah habis, banyak perusahaan yang kabur gitu aja tanpa ngelakuin reklamasi. Meninggalkan lubang raksasa yang nggak bisa ditanamin apa-apa lagi. Hutan yang tadinya gagah, sekarang cuma sisa luka yang nggak bisa sembuh.

Kebakaran Hutan: Antara Fenomena Alam dan "Sengaja Dibakar"

Setiap masuk musim kemarau, berita kita pasti nggak jauh-jauh dari kabut asap di Riau, Jambi, atau Palangkaraya. Memang ada faktor alam kayak El Nino yang bikin cuaca jadi kering kerontang. Tapi, rahasia umum yang kita semua tahu adalah: banyak hutan sengaja dibakar karena itu cara paling murah buat buka lahan (land clearing).

Coba bayangin, daripada keluar modal gede buat nyewa alat berat dan tenaga manusia buat nebang pohon, mending tinggal lempar korek api pas angin lagi kenceng. Kelar perkara dalam semalam. Tapi dampaknya? Ribuan orang sesak napas, sekolah diliburkan, dan emisi karbonnya bikin bumi makin panas. Ironisnya, setelah kebakar dan jadi abu, lahan itu biasanya bakal langsung "disulap" jadi perkebunan. Polanya kebaca banget, tapi eksekusi hukumnya seringkali lembek kayak tahu sutra.

Pembangunan Infrastruktur yang Kurang Pertimbangan

Kita semua pengen dong punya jalan yang bagus, akses yang gampang, dan pembangunan yang merata. Tapi pembangunan jalan yang membelah hutan lindung seringkali jadi awal dari kehancuran. Jalan raya di tengah hutan itu ibarat "pisau" yang membedah habitat hewan jadi fragmen-fragmen kecil.

Hewan nggak bisa lagi pindah dari satu tempat ke tempat lain buat cari makan atau pasangan karena ada jalan besar. Selain itu, jalan ini jadi akses yang sangat memudahkan para pemburu liar dan penebang ilegal buat masuk lebih jauh. Niatnya sih buat kemajuan ekonomi, tapi kalau nggak dihitung matang-matang soal aspek lingkungannya, pembangunan ini malah jadi bumerang buat generasi mendatang.

Kenapa Kita Harus Peduli?

Mungkin buat kita yang tinggal di kota besar, isu kerusakan hutan itu kerasa jauh banget. "Ah, yang penting AC di kamar gue masih dingin," atau "Yang penting kopi gue tetap ada," pikir kita. Tapi sadar nggak sih, krisis iklim yang bikin cuaca makin nggak menentu, banjir bandang di mana-mana, sampai naiknya harga pangan itu semua ada hubungannya sama hutan yang rusak.

Hutan itu bukan cuma kumpulan pohon. Dia adalah pengatur siklus air dan penyerap karbon paling efektif yang pernah diciptakan Tuhan. Kalau "benteng" alami ini kita hancurin sendiri demi keuntungan jangka pendek, jangan kaget kalau nanti anak cucu kita cuma bisa lihat hutan dari foto-foto di museum atau buku sejarah. Kerusakan hutan itu nyata, dan penyebabnya sebagian besar adalah kita—manusia yang nggak pernah merasa cukup.

Gimana, masih mau cuek aja pas denger ada hutan yang dibabat lagi? Yuk, mulai lebih kritis dan minimal kurangi penggunaan produk yang nggak ramah lingkungan. Karena pada akhirnya, bumi bisa bertahan tanpa manusia, tapi manusia nggak akan bisa bertahan tanpa bumi yang sehat.

Tags