Pamali Meratus Masuk Riset BRIN, Jadi Jejak Kearifan Dayak Menjaga Hutan Loksado
Hafizah Fikriah Waskan - Wednesday, 03 June 2026 | 05:24 AM


amanditmedia.id, Kandangan — Larangan adat atau Pamali Meratus yang selama turun-temurun dijalankan masyarakat Dayak Meratus di Loksado menjadi perhatian tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Tradisi lisan yang mengatur hubungan manusia dengan alam itu dinilai memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian kawasan Pegunungan Meratus.
Temuan tersebut disampaikan dalam audiensi Tim Riset BRIN dengan Bupati Hulu Sungai Selatan (HSS), H. Syafrudin Noor, di ruang kerja bupati, Selasa (2/6), usai menuntaskan ekspedisi penelitian tahun kedua di Kecamatan Loksado.
Riset yang dipimpin Ketua Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) BRIN, Dr. Dessy Wahyuni, menyoroti berbagai aturan pamali yang masih dipatuhi masyarakat adat Dayak Meratus. Aturan itu antara lain larangan menebang pohon di kawasan keramat, menangkap ikan menggunakan racun atau setrum, berburu satwa pada musim berkembang biak, hingga membuka lahan di wilayah hulu.
Menurut Dessy, sejumlah aturan adat tersebut tidak hanya berkaitan dengan kepercayaan masyarakat, tetapi juga berfungsi menjaga keseimbangan lingkungan dan sumber daya alam.
"Hasil penelitian ini akan dibukukan sebagai bahan literasi bagi generasi muda sekaligus menjadi referensi bagi wisatawan yang ingin memahami budaya Loksado," ujarnya.
Selain itu, penelitian juga menemukan aturan khusus terkait pemanenan madu hutan (wanyi) yang mewajibkan masyarakat menyisakan koloni lebah agar tetap berkembang biak. Praktik tersebut dinilai mendukung keberlanjutan hasil hutan non-kayu yang menjadi sumber penghidupan warga.
Bupati HSS, H. Syafrudin Noor, mengapresiasi penelitian yang dilakukan BRIN. Ia berharap hasil riset tersebut dapat memperkenalkan Loksado tidak hanya sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga sebagai kawasan yang memiliki kekayaan budaya dan nilai kearifan lokal.
"Kami ingin masyarakat luas mengenal Loksado sebagai daerah yang menjaga alam melalui adat dan budaya yang diwariskan turun-temurun," katanya.
Hasil riset BRIN menyimpulkan bahwa keberadaan hukum adat Pamali Meratus menjadi salah satu faktor yang ikut menjaga kawasan hutan Meratus di wilayah HSS tetap lestari. Tradisi tersebut dinilai menjadi bentuk konservasi berbasis budaya yang masih bertahan dan dijalankan oleh masyarakat hingga saat ini.
Next News

Liga U-14 Piala Bupati HSS 2026 Resmi Bergulir, Ajang Cetak Bintang Sepak Bola Muda
16 hours ago

ULM Tawarkan Program S2 dan S3 di HSS, Buka Peluang Guru Tingkatkan Kualifikasi
a day ago

Bupati dan Wabup HSS Bayar PBB Secara Digital, Tandai Dimulainya Bulan Panutan Pajak 2026
a day ago

Tanam Pohon hingga Bank Sampah, HSS Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026
2 days ago

Jelang MTQ Kalsel, Kafilah HSS Jalani Ujian Akhir Kemampuan
2 days ago

Belajar dari Malang, DWP HSS Cari Inspirasi Anyaman Bambu untuk UMKM Lokal
2 days ago

Bupati HSS Lepas Danyon Lama, Sambut Komandan Baru Yonif 829/Bumi Antaludin
2 days ago

Tongkat Komando Yonif 829/Bumi Antaludin Berganti, Letkol Teguh Resmi Jabat Danyon
2 days ago

Yonif TP 829 Bumi Antaludin Kini Punya Markas Permanen di HSS
3 days ago

APBD 2027 Mulai Dibahas, DPRD dan Pemkab HSS Petakan Prioritas Pembangunan
4 days ago




