Minggu, 24 Mei 2026
Amandit FM
Science & Technology

Suhu Bumi Menggila? Ini Peran Penebangan Liar yang Sering Diabaikan

Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 19 May 2026 | 02:00 PM

Background
Suhu Bumi Menggila? Ini Peran Penebangan Liar yang Sering Diabaikan
Penebangan pohon (Pexels.com/Dylan Leagh)

Penebangan Liar: Kita Lagi Gali Lubang Kubur Sendiri, Ya?

Pernah nggak sih kamu ngerasa kalau cuaca sekarang tuh makin nggak ngotak panasnya? Lagi asyik-asyik nongkrong di kafe ber-AC pun, pas keluar dikit rasanya kayak langsung kena semprot knalpot metro mini. Banyak orang bakal bilang, "Yah, namanya juga pemanasan global." Tapi pertanyaannya, kok bisa secepat ini? Salah satu biang keroknya—yang dari dulu kita pelajari di buku IPA SD tapi sering kita anggap angin lalu—adalah penebangan liar alias illegal logging.

Masalahnya, urusan babat-membabat hutan ini bukan cuma soal kehilangan pohon yang estetik buat difoto. Ini soal urusan nyawa, dompet, dan masa depan kita semua. Kalau hutan terus-terusan digunduli demi "cuan" sesaat para mafia kayu atau oknum nggak bertanggung jawab, ya jangan kaget kalau bumi makin lama makin nggak layak huni. Gini lho, hutan itu ibarat paru-paru. Kalau paru-parunya bolong karena kebanyakan "ngerokok" (baca: ditebang), ya wasalam.

Bencana yang Datang Tanpa Diundang

Bayangin hutan itu kayak spons raksasa. Pas hujan deras turun, pohon-pohon dengan akarnya yang kuat itu tugasnya menyerap air. Nah, kalau pohonnya sudah nggak ada, air hujan itu mau lari ke mana? Ya langsung meluncur bebas ke pemukiman warga. Makanya, jangan heran kalau sekarang intensitas banjir bandang dan tanah longsor makin sering muncul di berita. Itu bukan cuma "takdir", tapi hasil investasi jangka panjang dari tangan-tangan jahil yang hobi nebang pohon sembarangan.

Efek dominonya ngeri banget. Pas banjir bandang datang, bukan cuma rumah yang hanyut, tapi juga harapan hidup masyarakat di sana. Sawah gagal panen, ternak hilang, dan infrastruktur hancur lebur. Ironisnya, yang dapet duit dari hasil kayu ilegal itu siapa, eh yang kena getahnya malah warga kecil yang nggak tahu apa-apa. Rasanya nggak adil banget, kan?

Hilangnya Keanekaragaman Hayati: Bukan Cuma Soal Monyet

Seringkali kita mikir, "Ah, paling cuma monyet atau burung yang kehilangan rumah." Tapi dampaknya lebih dalam dari itu, kawan. Indonesia itu punya hutan tropis yang saking kayanya, banyak spesies yang bahkan belum sempat kita kasih nama tapi sudah punah duluan gara-gara habitatnya dibabat. Ketika rantai makanan rusak, yang rugi ya kita juga.

Misalnya nih, kalau predator alami di hutan hilang karena nggak punya rumah, hama kayak tikus atau ulat bakal menyerang lahan pertanian warga. Akhirnya apa? Gagal panen lagi. Belum lagi soal potensi obat-obatan herbal yang mungkin tersimpan di tanaman-tanaman langka di tengah hutan. Kalau pohonnya ditebang semua, kita kehilangan kesempatan untuk nemuin obat penyakit-penyakit berat di masa depan. Kita tuh kayak ngebakar perpustakaan besar sebelum sempat baca bukunya.

Masyarakat Adat yang Terpinggirkan

Nah, ini poin yang sering dilupakan sama orang kota. Di balik rimbunnya hutan, ada saudara-saudara kita dari masyarakat adat yang menggantungkan hidupnya sepenuhnya dari sana. Hutan bagi mereka bukan sekadar kumpulan kayu, tapi identitas, sumber pangan, dan tempat tinggal sakral. Pas penebang liar masuk, mereka seringkali diusir atau kehilangan sumber penghidupan.

Penebangan liar ini seringkali dibarengi dengan konflik sosial yang berdarah-darah. Masyarakat lokal yang berusaha mempertahankan tanah ulayatnya harus berhadapan dengan preman atau oknum yang dibayar cukong kayu. Ini bukan cuma soal kerusakan lingkungan, tapi juga soal kemanusiaan dan keadilan sosial yang seringkali tertutup oleh tumpukan uang kayu ilegal.

Efek Rumah Kaca yang Bikin "Gerah" Seluruh Dunia

Kembali lagi ke soal cuaca panas tadi. Pohon itu adalah penyerap karbon dioksida (CO2) terbaik yang pernah diciptakan alam. Ketika pohon ditebang dan dibakar, karbon yang tadinya tersimpan di dalam mereka dilepaskan kembali ke atmosfer. Hasilnya? Efek rumah kaca makin parah, suhu bumi naik, dan es di kutub mencair.

Mungkin bagi sebagian orang, "es kutub mencair" itu terdengar sangat jauh dan nggak relevan. Tapi sadar nggak sih, kalau es kutub cair, permukaan air laut naik. Kota-kota pesisir kayak Jakarta, Semarang, atau Surabaya itu terancam tenggelam. Jadi, penebangan liar di pedalaman Kalimantan atau Sumatera itu punya kaitan langsung sama kenapa kaki kita makin sering kerendam banjir rob di kota besar.

Jadi, Kita Harus Gimana?

Jangan cuma jadi netizen yang jagonya "wah parah ya" di kolom komentar. Memang sih, kita nggak mungkin langsung berangkat ke hutan buat jaga pohon satu-satu pake parang. Tapi kita bisa mulai dari hal kecil. Misalnya, lebih kritis sama produk furnitur atau kertas yang kita pakai. Pastikan barang-barang yang kita beli itu punya sertifikasi legal yang jelas, bukan hasil colongan dari hutan lindung.

Selain itu, dukungan terhadap kebijakan pemerintah yang tegas soal moratorium hutan juga penting. Jangan sampai hukum kita tumpul ke atas tajam ke bawah—tangkap penebang kecil tapi bos besarnya malah main golf bareng pejabat. Kita butuh pengawasan yang beneran jalan, bukan cuma formalitas di atas kertas.

Kesimpulannya, penebangan liar itu adalah kejahatan luar biasa yang dampaknya kita rasakan bareng-bareng. Kalau kita diam saja melihat hutan kita habis, berarti kita lagi merestui masa depan anak cucu kita jadi lebih suram. Yuk, mulai lebih peduli, karena bumi ini cuma satu, dan kalau hancur, kita mau pindah ke planet mana? Emangnya udah punya tiket ke Mars?

Tags