Kamis, 30 April 2026
Amandit FM
Kesehatan

Tetap Fit di Tengah Gempuran Opor: Olahraga Tipis-Tipis Biar Gak Jadi Beban Keluarga Pasca Lebaran

Hafizah Fikriah Waskan - Monday, 30 March 2026 | 04:00 AM

Background
Tetap Fit di Tengah Gempuran Opor: Olahraga Tipis-Tipis Biar Gak Jadi Beban Keluarga Pasca Lebaran
Tetap Fit di Tengah Gempuran Opor (Freepik/jcomp)

Lebaran di Indonesia itu ibarat medan perang karbohidrat dan lemak. Di sisi kiri ada opor ayam yang kuahnya kuning kental menggoda, di sisi kanan ada rendang yang bumbunya meresap sampai ke sanubari, dan di depan mata ada toples-toples nastar serta kastengel yang manggil-manggil buat dikunyah. Belum lagi urusan silaturahmi yang ujung-ujungnya adalah makan besar di setiap rumah yang dikunjungi. Rasanya berdosa kalau gak nyicipin masakan tuan rumah, tapi di sisi lain, kancing celana mulai menjerit minta tolong.

Masalahnya, momen libur Lebaran biasanya juga dibarengi dengan munculnya rasa malas yang hakiki. Istilah kerennya, mode 'hibernasi'. Maunya cuma rebahan di depan TV sambil nonton film dokumenter atau film-film Warkop DKI yang diputar ulang tiap tahun. Mau pergi ke gym? Tutup. Mau lari pagi? Jalanan komplek penuh sama mobil tamu yang parkir sembarangan. Akhirnya, olahraga cuma jadi wacana yang tenggelam di balik tumpukan piring kotor.

Tapi tenang, menjaga badan tetap bergerak saat Lebaran itu nggak harus seberat angkat beban 50 kilogram atau lari maraton 10 kilometer. Ada beberapa olahraga tipis-tipis yang bisa kita lakukan supaya metabolisme nggak benar-benar mogok kerja. Berikut adalah panduan olahraga "low effort" tapi berfaedah buat kaum yang sudah terlanjur nyaman dengan daster atau kaos oblong di rumah.

Jalan Kaki Saat Silaturahmi: Cardio Berkedok Tradisi

Kalau rumah saudara atau tetangga cuma beda gang atau jaraknya cuma beberapa ratus meter, plis, jangan manja pakai motor apalagi mobil. Jalan kaki adalah cara paling underrated untuk membakar kalori nastar yang baru saja masuk ke sistem pencernaan. Sambil jalan kaki, kita bisa menghirup udara pagi (sebelum polusi dari asap knalpot pemudik balik memenuhi udara) dan membakar sedikit lemak tipis-tipis.

Bayangkan saja, kalau dalam sehari kamu mengunjungi lima rumah dengan jalan kaki, total langkahmu bisa mencapai 5.000 sampai 7.000 langkah. Itu sudah setengah jalan menuju target sehat harian tanpa harus merasa sedang "olahraga". Bonusnya, kamu gak perlu pusing mikirin parkir yang susahnya minta ampun pas hari raya.

Menjadi 'Hero' di Dapur: Squat dan Stretching Gratis

Siapa bilang membantu orang tua atau tuan rumah itu bukan olahraga? Coba perhatikan gerakan saat kamu mencuci piring setumpuk habis makan besar. Ada gerakan tangan yang repetitif, posisi berdiri yang melatih otot kaki, dan sesekali membungkuk mengambil piring di rak bawah. Itu adalah latihan fungsional yang nyata.

Atau saat kamu diminta menata kursi buat tamu yang mau datang. Mengangkat kursi, menggeser meja, sampai menyapu lantai yang penuh remahan kue itu bisa bikin keringat bercucuran. Secara tidak langsung, kamu sedang melakukan latihan ketahanan otot. Anggap saja piring kotor itu adalah beban yang harus kamu taklukkan demi kebugaran tubuh dan demi mendapatkan pujian dari mertua atau orang tua.

Main Bareng Keponakan: HIIT Versi Kearifan Lokal

Lebaran adalah masanya semua keponakan berkumpul. Daripada kamu cuma duduk bengong ditanyain "kapan nikah?" atau "kapan lulus?", mending ajak keponakan-keponakan yang masih kecil itu main di halaman. Percayalah, mengejar bocah umur 5 tahun yang lagi hiperaktif itu setara dengan sesi HIIT (High-Intensity Interval Training) di pusat kebugaran.

Kamu bakal lari-larian, jongkok, lompat, sampai gendong-gendongan. Gerakannya nggak terduga dan sangat menguras energi. Dalam 15 menit saja, jantungmu bakal berdegup kencang. Ini adalah cara paling menyenangkan buat bakar kalori sambil membangun reputasi sebagai "om atau tante yang asyik". Begitu mereka capek, kamu pun sudah selesai membakar kalori opor tadi siang.

Stretching Sambil Menunggu Tamu

Kalau kamu memang penganut sekte rebahan garis keras, setidaknya lakukan stretching atau peregangan di atas sofa atau kasur. Saat lagi nunggu tamu datang atau nunggu film di TV habis iklan, coba gerakkan leher, putar bahu, dan lakukan side stretch. Kamu juga bisa melakukan gerakan leg raises (angkat kaki) sambil tiduran. Sederhana, tapi efektif buat melancarkan aliran darah yang tersumbat gara-gara kebanyakan duduk.

Peregangan ini penting supaya badan nggak terasa kaku. Seringkali rasa pegal-pegal sehabis Lebaran itu bukan cuma karena capek jalan-jalan, tapi karena posisi duduk yang salah dalam waktu lama saat ngobrol bareng keluarga. Dengan stretching 5-10 menit saja, badan bakal terasa lebih ringan dan mood jadi lebih oke buat lanjut makan rendang di sesi berikutnya.

Prinsipnya: Yang Penting Gerak

Sebenarnya kunci utama dari olahraga saat libur Lebaran bukan pada durasi atau intensitasnya, tapi pada konsistensinya. Jangan memaksakan diri harus workout satu jam penuh kalau ujung-ujungnya malah bikin kamu malas gerak besoknya. Lakukan apa yang bisa dilakukan secara natural di tengah kesibukan Lebaran.

Kita semua tahu kalau Lebaran itu momen buat merayakan kemenangan, tapi jangan sampai kemenangan itu dibayar dengan kenaikan berat badan yang drastis dan rasa malas yang mendarah daging. Selipkan gerakan-gerakan kecil di antara sesi makan dan ngobrol. Lagipula, baju baru yang kamu beli buat Lebaran kan sayang kalau langsung nggak muat sebulan kemudian gara-gara kamu lupa gerak.

Intinya, nikmati makanannya, syukuri kebersamaannya, tapi jangan lupakan tubuhmu. Olahraga tipis-tipis saat libur bukan berarti kamu nggak menikmati liburan, justru itu cara kita menghargai tubuh supaya tetap sehat dan siap kembali ke rutinitas pekerjaan atau kuliah setelah libur usai. Jadi, sudah siap jalan kaki ke rumah tetangga sebelah atau mau lanjut ronde ketiga makan opor sambil rebahan?

Tags