Tips Cerdas Memilih Hewan Kurban di Pinggir Jalan
Hafizah Fikriah Waskan - Friday, 27 March 2026 | 08:00 AM


H-7 Idul Adha: Panduan Memilih 'Calon' Kurban Biar Nggak Kena Zonk
Setiap kali mendekati bulan Dzulhijjah, pemandangan trotoar di kota-kota besar mendadak berubah. Yang biasanya diisi pedagang kaki lima atau orang lari pagi, tiba-tiba berubah jadi "showroom" dadakan berisi sapi-sapi kekar dan kambing yang nggak berhenti mengembik. Bau prengus pun mulai bersaing dengan asap knalpot. Ya, musim kurban sudah tiba, kawan.
Membeli hewan kurban itu sebenarnya mirip-mirip kayak cari jodoh di aplikasi kencan. Kelihatannya di foto cakep, pas didatangi eh ternyata beda jauh. Bedanya, kalau salah pilih jodoh mungkin cuma patah hati, tapi kalau salah pilih hewan kurban, bisa-bisa ibadah kita jadi nggak sah secara syariat. Kan sayang banget, sudah nabung setahun penuh, eh malah zonk gara-gara kurang teliti.
Nah, biar kalian nggak bingung dan nggak cuma manggut-manggut pas dengerin penjelasan pedagang, yuk kita bedah tuntas jenis hewan apa saja yang boleh dikurbankan dan gimana kriteria "si paling kurban" yang layak masuk kualifikasi.
1. Siapa Saja yang Masuk Daftar Calon?
Secara garis besar, hewan yang boleh dijadikan kurban adalah kategori Bahimatul An'am atau hewan ternak. Jadi, jangan mentang-mentang pengen beda, kalian malah bawa ayam geprek atau rusa ke tempat pemotongan. Itu namanya sedekah biasa, bukan kurban. Di Indonesia, pilihannya biasanya jatuh pada tiga sekawan ini: Sapi, Kambing/Domba, dan Kerbau.
Sapi dan Kerbau: Ini adalah pilihan favorit buat mereka yang hobi "keroyokan". Aturannya jelas, satu ekor sapi atau kerbau itu jatahnya buat tujuh orang. Cocok banget buat patungan satu keluarga atau geng komplek yang grup WhatsApp-nya aktif pas mau lebaran aja. Jenis sapinya pun macam-macam, mulai dari Sapi Bali yang ramping tapi dagingnya padat, sampai jenis Limousin atau Simental yang besarnya segede mobil city car.
Kambing dan Domba: Kalau ini sifatnya personal. Satu ekor buat satu orang. Tapi jangan salah, meski ukurannya lebih mungil, kambing punya prestise tersendiri. Ada orang yang merasa belum afdal kalau nggak motong kambing sendiri. Pilihannya bisa Kambing Kacang yang imut tapi lincah, atau Domba Garut yang bulunya tebal dan kelihatan gagah banget pas difoto buat status WhatsApp.
Unta: Secara syariat memang boleh dan jatahnya untuk 10 orang (menurut sebagian ulama) atau 7 orang. Tapi ya realistis aja lah, di Indonesia cari unta itu lebih susah daripada nyari parkir di mal pas akhir pekan. Lagipula, kalaupun ada, harganya pasti bikin dompet menjerit histeris.
2. Kriteria Fisik: Jangan Cuma Tergiur Badan Gempal
Punya budget besar bukan jaminan kalian dapet hewan kurban yang oke. Kita harus teliti melihat "spek" si hewan. Dalam fiqih, ada standar minimal yang nggak bisa ditawar. Istilah kerennya: jangan sampai cacat.
Pertama, pastikan matanya nggak buta. Bukan cuma buta total ya, kalau salah satu matanya kelihatan putih banget atau juling yang parah banget, mending cari yang lain. Kedua, jangan pilih yang kakinya pincang. Kalau hewannya susah jalan buat menuju tempat penyembelihan, itu sudah masuk kategori cacat yang menggugurkan keabsahan kurban.
Ketiga, jangan cari yang kurus kering sampai tulang rusuknya bisa dipakai main musik. Hewan kurban harus punya daging yang layak dibagikan. Kalau hewannya kelihatan lesu, nggak mau makan, dan bulunya kusam berdiri, itu tanda-tanda dia lagi nggak enak badan alias sakit. Kita mau ibadah pakai harta terbaik, masa kasih hewan yang lagi butuh infus?
3. Masalah Umur: Harus Sudah "Poel"
Ini nih yang sering jadi perdebatan seru antara pembeli dan penjual. Dalam istilah teknis, hewan kurban harus sudah musinnah atau cukup umur. Cara paling gampang ngeceknya adalah dengan melihat giginya. Istilah populernya adalah "Poel".
Coba deh buka mulut si kambing atau sapi (hati-hati jangan sampai digigit ya!). Kalau gigi serinya sudah berganti dari gigi susu yang kecil-kecil menjadi gigi permanen yang besar dan lebar, berarti dia sudah cukup umur. Untuk kambing atau domba, minimal umurnya satu tahun masuk ke dua tahun. Sedangkan buat sapi atau kerbau, minimal dua tahun masuk ke tiga tahun. Kalau masih bocil, meski badannya bongsor, secara aturan main tetap nggak boleh buat kurban.
4. Antara Gengsi dan Esensi
Jujur aja, sekarang ini ada tren "adu berat" hewan kurban. Siapa yang sapinya tembus satu ton, dialah juaranya. Sebenarnya nggak salah sih, selama niatnya memang untuk memberi makan lebih banyak orang dan sebagai bentuk syukur. Tapi jangan sampai kita terjebak pada kulitnya saja.
Banyak pembeli yang cuma fokus pada "Sapi Instagrammable" tapi kurang memperhatikan kesehatan organ dalamnya. Padahal, hewan yang dirawat dengan kasih sayang, dikasih pakan berkualitas, dan nggak stres itu jauh lebih utama. Lagipula, esensi kurban kan tentang ketaatan Nabi Ibrahim AS, bukan tentang berapa banyak likes yang didapat dari foto bareng sapi raksasa.
Saran saya, kalau kalian beli di pinggir jalan, jangan ragu buat nanya: "Ini sudah vaksin PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) belum, Bang?". Atau minta sertifikat kesehatan hewannya. Penjual yang jujur pasti bakal dengan senang hati nunjukin buktinya. Jangan sampai niat kita mau bagi-bagi daging sehat, malah jadi penyebar penyakit ke tetangga.
5. Penutup: Lebih Dari Sekadar Ritual
Memilih hewan kurban itu adalah seni. Ada rasa deg-degan pas nawar harga, ada rasa haru pas kita akhirnya "nemu" hewan yang sreg di hati. Ini adalah bentuk pengorbanan dari hasil kerja keras kita selama setahun. Jadi, luangkanlah waktu sedikit lebih banyak buat ngecek fisik dan umurnya.
Ingat, yang sampai kepada Tuhan itu bukan darah atau dagingnya, melainkan ketakwaan kita. Tapi, memberikan hewan yang paling sehat, paling gagah, dan paling sempurna adalah salah satu cara kita menunjukkan ketakwaan itu. Jadi, sudah siap berburu 'calon' kurban minggu ini? Pastikan dompet aman, hati mantap, dan jangan lupa bawa masker kalau nggak kuat sama aroma semerbak di kandangnya! Selamat berkurban, ya!
Next News

Ambisi Six-pack di Tengah Deadline: Kesalahan Konyol yang Sering Kita Lakukan Saat Sok Sibuk Olahraga
a month ago

Olahraga Tipis-Tipis Buat Kamu yang Sibuknya Ngalahin Menteri tapi Mau Tetap Sehat
a month ago

Pinggang Jompo vs Deadline: Seni Olahraga Tipis-tipis di Tengah Kubikel Kantor
a month ago

Olahraga Singkat: Cara Curang Biar Nggak Gampang Ngantuk Tanpa Harus 'Nyiksa' Diri di Gym
a month ago

Panduan Bertahan Hidup: Jadwal Olahraga Mingguan buat Budak Korporat yang Punggungnya Sudah Jompo
a month ago

Rahasia Tetap Bugar Buat Kaum Rebahan: Hidup Sehat Nggak Harus Nyiksa Diri di Gym
a month ago

Olahraga Buat Si Paling Sibuk: Antara Wacana dan Realita Biar Nggak Gampang Jompo
a month ago

Antara Deadline dan Treadmill: Gimana Caranya Tetap Olahraga Pas Lagi Sibuk-sibuknya?
a month ago

Seni Tetap Bugar Buat Budak Korporat yang Waktunya Dirampok Meeting
a month ago

Seni Bertahan Hidup: Tetap Olahraga Saat Jadwal Lagi Berantakan-berantakannya
a month ago





