Rabu, 10 Juni 2026
Amandit FM
Hiburan

Westlife: Dari Era Bangku Lipat ke Era Bapak-Bapak Estetik

Hafizah Fikriah Waskan - Monday, 08 June 2026 | 06:00 PM

Background
Westlife: Dari Era Bangku Lipat ke Era Bapak-Bapak Estetik
Westlife (Instagram/Westlife)

Kalau kita bicara soal boyband yang paling "ngendon" di hati orang Indonesia, nama Westlife pasti ada di urutan teratas. Mau kamu anak indie yang dengerin senja, anak metal yang hobi moshpit, atau mbak-mbak kantoran yang sibuk berkutat dengan spreadsheet, minimal pasti hafal satu reff lagu mereka. Entah itu My Love yang legendaris atau Flying Without Wings yang sering diputar di kondangan. Tapi, sadar nggak sih kalau ada perbedaan kontras antara Westlife era awal tahun 2000-an dengan Westlife era comeback sekarang? Ibarat kopi, dulu mereka itu kopi sachet yang manis banget, sekarang mereka adalah manual brew yang rasanya lebih kompleks tapi tetep bikin nagih.

Mari kita tarik mesin waktu ke akhir era 90-an dan awal 2000-an. Zaman itu, Westlife adalah definisi "sempurna" bagi setiap remaja perempuan yang hobi beli majalah Gadis atau Kawanku. Shane, Mark, Nicky, Kian, dan Brian datang dengan seragam putih-putih, rambut yang di-spike pakai gel kaku, dan tatapan mata yang seolah bilang, "Aku akan mencintaimu selamanya, Dek."

Ciri khas yang paling ikonik dari era awal ini tentu saja adalah "The Stool Move" alias ritual berdiri dari bangku lipat tepat saat lagu mencapai modulasi atau naik nada. Ini adalah gerakan sakral. Begitu mereka berdiri serempak, penonton di depan TV atau stadion langsung histeris. Secara musikalitas, era awal Westlife adalah era kejayaan pop ballad yang sangat murni. Aransemennya megah dengan balutan orkestra, liriknya puitis yang kadang bikin dahi berkerut tapi enak dinyanyikan, dan fokus utamanya adalah vokal harmonisasi yang rapi banget. Di era ini, mereka benar-benar diposisikan sebagai "teen idols" yang harus terlihat tanpa cela.

Lalu, badai itu datang. Brian McFadden memutuskan hengkang pada 2004, dan setelah berjuang sebagai kuartet selama beberapa tahun, mereka akhirnya memilih hiatus panjang pada 2012. Banyak fans yang patah hati, merasa masa mudanya ikut berakhir bersama konser perpisahan itu. Namun, semesta rupanya masih ingin melihat mereka bernyanyi.

Saat mereka memutuskan comeback pada 2018 dengan single Hello My Love, atmosfernya sudah beda total. Westlife era baru ini tidak lagi berusaha menjadi pemuda galau yang mengejar cinta di bawah rintik hujan. Mereka kembali sebagai pria dewasa, atau istilah kerennya sekarang, "Hot Dads". Perbedaan paling mencolok ada pada sound musik mereka. Berkat tangan dingin Ed Sheeran dan Steve Mac, lagu-lagu di album Spectrum dan Wild Dreams terasa lebih up-beat, modern, dan nggak terlalu "mendayu-dayu" seperti dulu. Ada sentuhan folk-pop dan elektro-pop tipis-tipis yang membuat musik mereka tetap relevan di kuping pendengar Gen Z tanpa meninggalkan fans lama mereka.

Secara visual, lupakan seragam putih longgar yang bikin mereka kelihatan kayak boyband mau berangkat pengajian. Di era comeback, fashion mereka jauh lebih berkelas. Suit yang pas di badan (slim fit), jaket kulit yang maskulin, dan pilihan warna yang lebih bold. Mereka nggak lagi takut terlihat tua; mereka justru merayakan usia mereka dengan tampil lebih santai tapi tetap estetik. Di atas panggung, koreografinya pun nggak se-kaku dulu. Mereka terlihat lebih banyak bercanda, berinteraksi dengan penonton seolah-olah kita ini teman lama yang baru ketemu lagi setelah belasan tahun.

Jujurly, yang paling menarik dari era comeback ini adalah bagaimana mereka mengelola nostalgia. Westlife sadar bahwa pasar utama mereka sekarang bukan lagi remaja yang nempel poster di dinding kamar, melainkan orang dewasa yang sudah punya cicilan rumah dan butuh healing. Makanya, konser-konser mereka sekarang terasa lebih seperti ajang reuni akbar. Mereka tetap membawakan lagu lama dengan aransemen yang mirip supaya memori kita nggak terganggu, tapi diselingi dengan energi baru yang lebih segar.

Kalau dulu kita melihat mereka sebagai sosok yang "jauh" dan tak tergapai, sekarang Westlife terasa lebih manusiawi. Di media sosial, mereka nggak jaim menunjukkan momen bareng anak-anak mereka atau kegiatan sehari-hari yang receh. Perubahan ini justru membuat keterikatan emosional antara fans dan idolanya jadi makin kuat. Kita menua bareng mereka, dan itu adalah perjalanan yang indah.

Satu hal yang nggak berubah adalah kualitas vokal Mark Feehily dan Shane Filan yang seolah nggak luntur dimakan zaman. Mark masih bisa mencapai nada-nada tinggi yang bikin merinding, sementara suara Shane tetap semanis madu. Nicky dan Kian juga semakin solid memberikan harmoni dan energi di panggung. Westlife membuktikan bahwa boyband nggak melulu soal tampang dan tarian lincah, tapi soal bagaimana musik bisa bertahan melintasi generasi.

Jadi, lebih suka era yang mana? Era awal yang penuh drama cinta monyet dan bangku lipat, atau era comeback yang lebih matang dan modern? Jawabannya mungkin nggak penting, karena pada akhirnya, Westlife tetaplah Westlife. Mereka adalah soundtrack hidup bagi banyak orang yang selalu punya tempat spesial, entah itu di playlist Spotify terbaru atau di tumpukan kaset lama di gudang rumah orang tua kita.

Tags