Deftones: Band "Paling Wangi" yang Tetap Relevan dari Era Nu-Metal Hingga Masuk FYP TikTok
Hafizah Fikriah Waskan - Wednesday, 18 March 2026 | 10:00 PM


Kalau kita ngomongin soal kancah musik keras dari era 90-an akhir sampai awal 2000-an, nama-nama kayak Korn, Limp Bizkit, atau Linkin Park pasti langsung muncul di kepala. Tapi, ada satu nama yang rasanya punya "kasta" berbeda di mata para penikmat musik alternatif. Siapa lagi kalau bukan Deftones. Band asal Sacramento, California ini bukan cuma sekadar gerombolan orang main gitar berisik, tapi mereka adalah definisi dari musisi yang tahu caranya memadukan kemarahan dengan keindahan yang estetis.
Gampangnya gini, kalau band nu-metal lain itu ibarat minum minuman energi yang bikin pengen loncat-loncat di moshpit, Deftones itu kayak segelas wine mahal di tengah pesta yang gelap dan penuh asap. Ada rasa elegan, misterius, tapi tetap punya tendangan yang bikin dada sesak. Gak heran kalau sampai sekarang, mereka masih dipuja-puja, bahkan oleh anak-anak Gen Z yang mungkin pas album "White Pony" rilis, mereka bahkan belum lahir.
Bukan Sekadar Nu-Metal Biasa
Deftones dibentuk oleh sekumpulan kawan lama: Chino Moreno, Stephen Carpenter, Abe Cunningham, dan (alm) Chi Cheng. Sejak awal kemunculannya lewat album "Adrenaline" (1995), mereka sebenarnya sudah menunjukkan kalau mereka gak mau disamakan dengan tren saat itu. Memang sih, ada unsur rap-metal tipis-tipis, tapi suara Chino yang bisa berubah dari bisikan menggoda ke teriakan histeris dalam sekejap adalah pembeda utamanya.
Masuk ke era "Around the Fur", dunia mulai sadar kalau band ini punya sesuatu yang spesial. Lagu kayak "My Own Summer (Shove It)" atau "Be Quiet and Drive (Far Away)" jadi anthem wajib buat remaja-remaja galau yang butuh pelampiasan emosi tapi tetep pengen terdengar keren. Di sini, Stephen Carpenter mulai nunjukin kejeniusannya dalam bikin riff gitar yang beratnya kayak beban hidup, tapi entah kenapa tetep kerasa melayang.
Puncak Estetika di "White Pony"
Nah, kalau kita bicara soal momen yang mengubah segalanya, kita harus bahas album "White Pony" yang rilis tahun 2000. Ini adalah album yang bikin kritikus musik garuk-garuk kepala sekaligus jatuh cinta. Deftones berani masukin elemen trip-hop, shoegaze, sampai new wave ke dalam musik metal mereka. Hasilnya? Sebuah mahakarya yang bikin mereka dapet Grammy lewat lagu "Elite".
Dengerin lagu "Digital Bath" atau "Change (In the House of Flies)" itu rasanya kayak lagi mimpi buruk tapi kamu gak pengen bangun. Ada aura horor tapi cantik di saat yang bersamaan. Di album ini juga Frank Delgado resmi jadi member tetap buat mainin turntable dan synthesizer, yang bikin sound Deftones makin lebar dan makin bertekstur. Mereka membuktikan kalau jadi band metal itu gak harus selalu marah-marah gak jelas; bisa juga sambil kontemplatif dan puitis.
Tragedi dan Kebangkitan yang Emosional
Perjalanan Deftones gak selalu mulus. Tahun 2008, band ini terpukul hebat setelah bassis mereka, Chi Cheng, mengalami kecelakaan mobil parah yang bikin dia koma bertahun-tahun sampai akhirnya meninggal di tahun 2013. Momen ini hampir bikin band ini bubar. Tapi, alih-alih menyerah, mereka justru bangkit dengan album "Diamond Eyes" yang didedikasikan buat Chi. Dengan posisi bass yang diisi oleh Sergio Vega (yang sekarang juga sudah keluar), Deftones justru masuk ke era keemasan kedua mereka.
Menurut opini pribadi saya, kemampuan Deftones buat bertahan di industri ini bukan karena mereka ikut tren, tapi karena mereka menciptakan tren mereka sendiri. Mereka adalah band yang "egoistis" dalam artian positif; mereka bikin musik yang mereka suka, bukan apa yang pasar mau. Dan anehnya, pasar malah yang ngejar mereka.
Kenapa Anak Zaman Sekarang Masih Doyan Deftones?
Coba deh buka TikTok atau Twitter (X). Kamu bakal sering nemu video-video estetik dengan latar lagu "Sextape" atau "Cherry Waves". Ada istilah baru yang muncul di kalangan anak muda sekarang: "Deftones Core". Musik mereka dianggap punya vibe yang "ethereal" dan cocok banget buat jadi soundtrack hidup yang penuh drama romansa atau sekadar bengong di kamar.
Fenomena ini menarik, karena jarang ada band metal yang bisa diterima luas oleh komunitas non-metalheads karena faktor "estetika". Deftones punya daya tarik visual dan aura yang emang "wangi" banget. Mereka gak kelihatan kayak bapak-bapak tua yang maksa muda, tapi mereka kelihatan kayak seniman yang makin tua makin jadi.
Secara musikalitas, kolaborasi antara Chino yang suka musik-musik manis kayak The Cure dengan Stephen yang penggila gitar 8-string yang beratnya minta ampun adalah perpaduan yang ajaib. Ini adalah tarik-ulur antara sisi feminin dan maskulin dalam musik keras. Chino memberikan udara, Stephen memberikan gravitasi. Hasilnya? Sebuah keseimbangan sempurna yang bikin kita betah dengerin diskografi mereka dari awal sampai akhir.
Penutup: Band yang Gak Ada Matinya
Sampai sekarang, setelah ngerilis album "Ohms" yang dapet sambutan hangat di tahun 2020, Deftones masih kokoh berdiri sebagai salah satu band paling berpengaruh di dunia. Mereka adalah bukti kalau konsistensi dan keberanian buat bereksperimen itu kunci buat bertahan lama. Mereka gak butuh gimmick aneh-aneh buat tetep relevan.
Jadi, kalau kamu lagi ngerasa butuh musik yang bisa nemenin kamu ngerasain emosi yang mendalam, atau sekadar pengen ngerasa keren pas lagi nyetir malam-malam, putar aja Deftones. Karena pada akhirnya, Deftones bukan cuma soal band, ini soal suasana hati yang cuma bisa dipahami lewat distorsi gitar yang kasar dan bisikan vokal yang lembut.
Next News

PinkPantheress: Ratu Lagu Pendek yang Bikin Kita Nostalgia Padahal Nggak Pernah Ngalamin
in 7 hours

Tyler, The Creator: Evolusi dari Bocah 'Edgy' Jadi Ikon Kultur Paling Jenius Abad Ini
in 6 hours

Mengenal Daniel Caesar: Si Suara Emas yang Jadi Soundtrack Galau Jutaan Umat
in 6 hours

Mengenal Bella Kay: Lebih dari Sekadar Estetika di Balik Layar Ponsel
in 4 hours

Dominic Fike: Dari Sel Penjara ke Puncak Popularitas, Bukti Bahwa 'Vibes' Bisa Jadi Mata Uang
in 3 hours

Menjelajahi Semesta Djo: Bukan Cuma Mas-Mas Rambut Badai dari Stranger Things
in 3 hours

Metallica: Lebih dari Sekadar Band Metal, Sudah Jadi Warisan Budaya yang Melampaui Zaman
in 2 hours

Mengenal Sienna Spiro: Remaja dengan Suara Soul yang Bikin Merinding
in 2 hours

Lil Uzi Vert: Rapper "Alien" yang Bikin Dunia Hip-Hop Jadi Lebih Berwarna (dan Berkilau)
6 minutes ago

Mengenal T.I.: Sang Raja Selatan yang Membawa Trap ke Arus Utama
6 minutes ago





