Metallica: Lebih dari Sekadar Band Metal, Sudah Jadi Warisan Budaya yang Melampaui Zaman
Hafizah Fikriah Waskan - Wednesday, 18 March 2026 | 07:00 PM


Kalau kita bicara soal musik metal, rasanya nggak afdal kalau nggak menyebut satu nama besar ini: Metallica. Mau lu anak skena yang hobi dengerin sub-genre obscure sampai telinga mau pecah, atau lu cuma bapak-bapak yang hobi dengerin radio pas lagi nyetir ke kantor, nama Metallica pasti nyantol di kepala. Mereka itu ibarat "Indomie" di dunia musik keras; semua orang tahu, banyak yang suka, dan rasanya nggak pernah benar-benar basi meski zaman sudah berubah total.
Metallica bukan cuma sekadar band yang teriak-teriak atau main gitar cepet-cepetan. Mereka adalah sebuah fenomena budaya. Bayangkan saja, dari anak tongkrongan di pinggiran Jakarta sampai Presiden Indonesia pun ada yang ngefans sama mereka. Band ini punya daya magis yang bisa bikin musik yang harusnya terdengar "berisik" jadi sesuatu yang enak dinikmati sambil ngopi atau bahkan jadi penyemangat pas lagi ngerjain skripsi yang nggak kelar-kelar.
Berawal dari Iklan Baris dan Ambisi Lars Ulrich
Sejarah Metallica itu sebenarnya cukup unik dan kalau dipikir-pikir, sangat "kebetulan". Semua dimulai tahun 1981 di Los Angeles. Lars Ulrich, seorang imigran asal Denmark yang sebenarnya lebih jago main tenis daripada drum (oke, ini sedikit hiperbola, tapi dia memang atlet), pasang iklan di koran lokal mencari teman ngejam. Ketemulah dia sama James Hetfield, cowok pemalu yang punya suara kayak mesin parut besi dan kemampuan bikin riff gitar yang nggak masuk akal kerennya.
Duo ini adalah nyawa Metallica. Meski di perjalanan awal ada drama bongkar pasang personel—termasuk pendepakan Dave Mustaine yang kemudian bikin Megadeth karena saking sakit hatinya—Metallica tetap melaju. Masuknya Cliff Burton sebagai pembetot bass memberikan warna baru. Cliff bukan cuma pemain bass biasa; dia itu jenius musik yang masukin unsur harmoni dan teori musik klasik ke dalam gebukan thrash metal yang kasar. Sayangnya, Cliff harus pergi duluan gara-gara kecelakaan bus legendaris di Swedia tahun 1986. Kehilangan Cliff itu ibarat kehilangan kompas, tapi Metallica membuktikan kalau mereka punya mental baja.
Era 'The Black Album' dan Perdebatan "Jual Diri"
Puncak kejayaan sekaligus awal mula perdebatan panjang di kalangan fans garis keras terjadi saat mereka merilis album self-titled yang lebih dikenal sebagai "The Black Album" (1991). Di sini, lagu-lagu kayak "Enter Sandman", "Nothing Else Matters", dan "The Unforgiven" lahir. Musik mereka yang tadinya super cepat dan kompleks di album "...And Justice for All", tiba-tiba jadi lebih lambat, lebih "nge-groove", dan yang paling penting: radio-friendly.
Di sinilah muncul istilah "Metallica Sellout". Para fans purist teriak-teriak kalau Metallica sudah menjual jiwanya demi uang dan popularitas. Tapi ya mau gimana lagi? Kenyataannya, album ini malah bikin Metallica jadi band metal terbesar di planet bumi. Mereka berhasil mendobrak pintu industri musik mainstream yang tadinya alergi sama musik distorsi. Berkat album ini, metal nggak lagi dipandang sebagai musik pemuja setan di ruang bawah tanah, tapi bisa dimainkan di stadion-stadion megah dengan kapasitas puluhan ribu orang.
Drama, Napster, dan Snare Drum Kaleng Kerupuk
Kalau dibilang perjalanan mereka mulus, ya jelas nggak. Metallica adalah raja drama. Ingat kasus Napster di awal tahun 2000-an? Lars Ulrich jadi musuh publik nomor satu gara-gara menuntut layanan berbagi musik gratisan itu. Di mata anak muda zaman itu, Lars dianggap orang kaya yang serakah. Tapi kalau dipikir pakai logika sekarang, apa yang diperjuangkan Lars sebenarnya masuk akal: hak cipta musisi. Cuma ya gitu, cara penyampaiannya mungkin kurang asyik buat telinga netizen zaman purba.
Belum lagi soal album "St. Anger". Ya Tuhan, siapa yang bisa lupa suara snare drum-nya Lars di album itu? Banyak yang bilang suaranya kayak kaleng krupuk atau panci yang dipukul-pukul. Ditambah lagi nggak ada solo gitar sama sekali dari Kirk Hammett. Di titik ini, banyak orang mikir Metallica sudah habis. Tapi lagi-lagi, mereka membuktikan kalau mereka punya napas panjang. Mereka merilis film dokumenter "Some Kind of Monster" yang memperlihatkan sisi rapuh mereka; betapa band segede Metallica pun butuh terapis buat sekadar ngobrol biar nggak berantem. Ini poin yang bikin mereka terasa "manusiawi".
Hubungan Spesial dengan Indonesia
Indonesia punya tempat spesial di hati Metallica, dan sebaliknya. Konser mereka di tahun 1993 di Lebak Bulus berakhir rusuh, sebuah catatan sejarah hitam tapi legendaris dalam dunia pertunjukan musik kita. Tapi mereka nggak kapok. Tahun 2013, mereka balik lagi ke Gelora Bung Karno. Kali ini suasananya beda total: rapi, tertib, dan sangat emosional. Bahkan Pak Jokowi yang waktu itu masih jadi Gubernur DKI terlihat asyik moshing tipis-tipis di barisan penonton. Momen Metallica ngasih bass ke Jokowi itu pun sempat jadi berita nasional yang heboh banget.
Kenapa sih orang Indonesia segitu cintanya sama Metallica? Mungkin karena musik mereka mewakili semangat perlawanan tapi tetap punya melodi yang bisa dinyanyiin bareng-bareng. Ada semacam rasa persaudaraan kalau kita pakai kaos hitam logo Metallica di jalan, terus ketemu orang lain yang pakai kaos serupa. Langsung berasa kayak satu frekuensi, meski nggak kenal nama.
Kesimpulan: Menolak Tua
Sekarang, personel Metallica sudah nggak muda lagi. Rambut James sudah memutih, Lars mungkin sudah nggak secepat dulu main double pedal-nya. Tapi mereka menolak buat berhenti. Album terbaru mereka, "72 Seasons", membuktikan kalau energi mereka masih ada. Mereka nggak lagi berusaha buat jadi band paling kencang di dunia, mereka cuma pengen jadi Metallica yang jujur sama diri mereka sendiri.
Metallica adalah bukti kalau genre musik bisa naik turun, tapi dedikasi dan konsistensi bakal bikin lu jadi legenda. Mereka sudah melewati masa-masa kelam, kehilangan anggota, dihujat fans, sampai perubahan industri musik dari kaset ke streaming. Dan hebatnya, mereka tetap berdiri tegak di puncak piramida musik rock dunia. Jadi, mau lu suka atau benci, lu harus akui: dunia musik nggak bakal sama tanpa kehadiran empat bapak-bapak tangguh ini. Long live Metallica!
Next News

Festival Bamboo Rafting Loksado 2026, Sensasi Menyusuri Sungai Amandit dengan Rakit Bambu di Pegunungan Meratus
2 months ago

Westlife: Rahasia Kenapa Mas-Mas Irlandia Ini Masih Jadi Juara di Hati Kita
3 months ago

Bukan Sekadar Boyband, Westlife Adalah Definisi Tongkrongan yang Menolak Bubar
3 months ago

Westlife: Dari Era Bangku Lipat ke Era Bapak-Bapak Estetik
3 months ago

Nostalgia Meteor Garden: Cerita di Balik Terbentuknya F4 yang Pernah Mengacak-acak Hati Kita
3 months ago

Nostalgia F4: Menelusuri Jejak Para Pangeran Meteor Garden yang Kini Sudah Senior
3 months ago

Westlife: Bukan Sekadar Modal Kursi Bar dan Wajah Tampan, Ini Sisi Lain yang Jarang Terungkap
3 months ago

Nostalgia Tipis-Tipis: Deretan Album Westlife Terbaik yang Wajib Masuk Playlist Kamu
3 months ago

Fenomena F4: Saat Seluruh Indonesia Terkena Demam Meteor Garden
3 months ago

Westlife: Kenapa Boyband 'Bapak-Bapak Wangi' Ini Tetap Jadi Juara di Hati Orang Indonesia?
3 months ago





