Rabu, 18 Maret 2026
Amandit FM
Hiburan

Red Hot Chili Peppers: Bapak-Bapak Funk Rock yang Energinya Nggak Ada Obat

Hafizah Fikriah Waskan - Wednesday, 18 March 2026 | 02:00 PM

Background
Red Hot Chili Peppers: Bapak-Bapak Funk Rock yang Energinya Nggak Ada Obat
Red Hot Chili Peppers (Billboard.com/Red Hot Chili Peppers)

Kalau kita ngomongin band yang personilnya makin tua makin jadi, nama Red Hot Chili Peppers alias RHCP pasti langsung nangkring di urutan teratas. Bayangin aja, ini band udah eksis dari tahun 1983. Waktu itu mungkin sebagian dari kita bahkan belum jadi rencana di pikiran orang tua masing-masing. Tapi hebatnya, sampai detik ini, mereka masih sanggup jingkrak-jingkrak di panggung tanpa baju, pamer otot, sambil mainin musik funk yang bikin kaki otomatis goyang. Benar-benar definisi bapak-bapak lincah yang energinya nggak masuk akal.

RHCP itu bukan cuma sekadar band rock. Mereka adalah fenomena budaya dari Los Angeles yang berhasil nyatuin elemen punk, funk, rock, sampai psychedelic jadi satu ramuan yang enak banget didengerin pas lagi nyetir atau sekadar nongkrong di senja hari. Formasi paling ikoniknya—Anthony Kiedis, Flea, Chad Smith, dan si jenius John Frusciante—adalah kuartet maut yang punya chemistry tingkat dewa. Kalau mereka udah kumpul di panggung, aura "brotherhood"-nya tuh berasa banget sampai ke barisan penonton paling belakang.

Drama Keluar-Masuk Sang Gitaris yang Bikin Gregetan

Ngomongin RHCP nggak bakal lengkap kalau nggak bahas drama bongkar pasang gitarisnya, terutama soal John Frusciante. Hubungan John sama band ini tuh kayak hubungan toxic yang tapi sebenarnya saling cinta. Dia sudah keluar-masuk band sebanyak tiga kali! Setiap kali John keluar, fans RHCP sedunia langsung lemes, kayak ngerasa ada jiwa yang hilang dari musik mereka. Emang sih, Dave Navarro atau Josh Klinghoffer itu gitaris hebat, tapi ya tetep aja, sound RHCP itu "nyawanya" ada di petikan gitar John yang melankolis tapi gahar.

Pas John balik lagi tahun 2019 kemarin, internet langsung pecah. Rasanya kayak ngelihat mantan terindah balik lagi pas kita lagi sayang-sayangnya. Kehadiran John itu bawa pengaruh besar banget, terbukti dengan rilisnya album Unlimited Love dan Return of the Dream Canteen yang vibes-nya tuh "RHCP banget". Mereka membuktikan kalau kreativitas itu nggak ada masa kadaluwarsanya selama chemistry-nya masih nyambung.

Koneksi Lokal: Anthony Kiedis dan Pesona Mentawai

Ada satu hal yang bikin fans di Indonesia ngerasa deket banget sama band ini. Lo pasti pernah lihat foto Anthony Kiedis lagi santai ngerokok bareng warga lokal di Mentawai, kan? Yup, sang vokalis emang punya kecintaan tersendiri sama Indonesia. Dia bukan tipe turis yang cuma mendekam di hotel bintang lima di Bali. Kiedis lebih milih masuk ke pedalaman, menikmati budaya tato tradisional, dan bener-bener nge-blend sama kearifan lokal.

Melihat foto-foto Kiedis di Mentawai itu rasanya kayak ngelihat paman kita yang lagi mudik. Gayanya yang cuek, nggak jaim, dan apresiasinya yang tulus sama budaya kita bikin RHCP punya tempat spesial di hati netizen Indonesia. Nggak heran kalau tiap ada rumor mereka mau konser di Jakarta, tiketnya pasti bakal jadi rebutan yang lebih berdarah-darah daripada war tiket Coldplay kemarin.

Musik yang Melewati Lintas Generasi

Apa sih yang bikin lagu-lagu mereka kayak "Under the Bridge", "Californication", atau "Can't Stop" masih enak didengerin sampai sekarang? Jawabannya simpel: kejujuran. Lirik-lirik Kiedis emang kadang terasa abstrak atau bahkan nggak jelas artinya—sering banget dia cuma nyebutin nama-nama kota di California—tapi emosi di balik suaranya itu nyampe. Ditambah lagi betotan bass Flea yang super agresif tapi melodius, bikin musik mereka punya karakter yang nggak bisa ditiru band mana pun.

RHCP itu jenius dalam urusan nge-groove. Mereka bisa bikin lagu tentang kesedihan mendalam tapi tetep bikin kita pengen gerakin pundak. Mereka juga nggak takut buat eksperimen. Dari album "Blood Sugar Sex Magik" yang funk banget sampai "By the Way" yang lebih pop-melodik, mereka selalu berhasil berevolusi tanpa kehilangan jati diri. Itu yang bikin fans mereka nggak cuma orang-orang tua berambut gondrong, tapi juga anak-anak Gen Z yang baru kenal musik lewat playlist Spotify.

Kenapa Mereka Tetap Relevan?

Di era sekarang, di mana banyak band besar yang mulai pensiun atau cuma ngandelin lagu lama buat tur nostalgia, RHCP justru tetep produktif. Mereka nggak mau cuma jadi "pajangan museum". Mereka terus bikin karya baru, terus tur keliling dunia, dan tetep tampil dengan energi yang sama kayak pas mereka masih umur 20-an. Rahasianya mungkin karena mereka bener-bener menikmati apa yang mereka lakuin. Musik bagi mereka bukan cuma kerjaan, tapi cara buat bertahan hidup.

Melihat Flea yang masih suka salto atau jalan pakai tangan di atas panggung itu bener-bener tamparan buat kita yang baru naik tangga lantai dua aja udah ngos-ngosan. Mereka adalah pengingat kalau menjadi tua itu pasti, tapi menjadi membosankan itu pilihan. Selama masih ada Chili Peppers, musik rock bakal tetep terasa segar, penuh warna, dan pastinya selalu pedas seperti namanya.

Jadi, buat kalian yang mungkin lagi ngerasa jenuh sama hidup, coba deh dengerin lagi album "Stadium Arcadium" dari awal sampai akhir. Rasain tiap dentuman drum Chad Smith dan alunan gitar John Frusciante. Percayalah, dosis funk dari bapak-bapak keren ini adalah obat paling mujarab buat bikin hari lo jadi lebih berwarna lagi. Stay funky, folks!

Tags