Hozier: Mas-Mas Hutan yang Bikin Kita Semua Mendadak Puitis dan Skeptis
Hafizah Fikriah Waskan - Wednesday, 18 March 2026 | 03:00 PM


Kalau kamu belakangan ini sering nongkrong di TikTok atau Instagram Reels, kemungkinan besar telingamu sudah akrab dengan suara bariton yang dalam, serak-serak basah, tapi entah kenapa terdengar sangat "mahal". Ya, itu suara Andrew John Hozier-Byrne, atau yang lebih kita kenal dengan nama panggung Hozier. Musisi asal Irlandia ini baru saja kembali menguasai tangga lagu dunia lewat "Too Sweet", sebuah lagu yang sebenernya simpel tapi punya daya magis yang bikin orang kecanduan.
Tapi jujur saja, menyebut Hozier cuma sebagai "penyanyi yang viral" itu rasanya agak menghina. Bagi para penggemarnya yang sudah mengikuti sejak era 2013, Hozier itu lebih dari sekadar pop star. Dia adalah personifikasi dari estetika "Forest Bog Man"—sesosok pria yang seolah-olah baru keluar dari hutan lumut di Irlandia setelah bertapa selama seratus tahun, hanya untuk membawakan kita pesan-pesan puitis tentang cinta, kematian, dan kritik sosial yang pedas.
Bukan Sekadar One-Hit Wonder "Take Me to Church"
Mari kita mundur sedikit. Hampir satu dekade lalu, dunia diguncang oleh "Take Me to Church". Lagu itu ada di mana-mana. Di radio, di mal, bahkan mungkin diputar di acara nikahan orang yang nggak benar-benar paham liriknya. Waktu itu, banyak yang mengira Hozier bakal jadi musisi one-hit wonder. Kamu tahu kan, jenis musisi yang meledak satu lagu, terus pelan-pelan menghilang ditelan bumi karena nggak kuat menyaingi ekspektasi industri musik pop yang kejam.
Tapi Hozier membuktikan kalau dia punya napas panjang. Dia nggak mau didekte oleh label untuk terus-menerus bikin lagu yang seragam. Dia malah menghilang cukup lama, lalu muncul lagi dengan album Wasteland, Baby! dan yang terbaru, Unreal Unearth. Di titik ini, kita sadar kalau Hozier itu tipikal seniman yang hanya akan bicara (atau merilis lagu) kalau dia memang punya sesuatu yang penting untuk disampaikan. Dia bukan tipe yang bakal rilis album tiap tahun cuma demi menjaga algoritma.
Unreal Unearth: Belajar Sastra Sambil Galau
Kalau kamu mendengarkan album terbarunya, Unreal Unearth, kamu akan sadar kalau Mas Hozier ini memang agak lain. Dia mengambil inspirasi dari Inferno karya Dante Alighieri. Bayangkan, di saat penyanyi lain bikin lagu tentang mantan yang selingkuh atau pamer kemewahan, Hozier malah bikin konsep album berdasarkan sembilan lingkaran neraka. Kedengarannya berat, ya? Memang.
Tapi itulah pintarnya dia. Dia bisa membungkus narasi yang berat—mulai dari kolonialisme, duka yang mendalam, sampai nafsu manusia—ke dalam melodi blues, soul, dan folk yang sangat renyah. Lagu "Eat Your Young" misalnya. Secara musikalitas, lagu ini asyik banget buat dipakai joget tipis-tipis. Tapi kalau kamu bedah liriknya, itu adalah satir tajam tentang bagaimana generasi tua "memakan" masa depan generasi muda demi keserakahan. Agak gelap memang, tapi ya itulah Hozier.
Estetika Hutan dan Daya Tarik "Gak Usaha"
Salah satu alasan kenapa anak muda sekarang, terutama Gen Z dan Milenial akhir, begitu memuja Hozier adalah karena auranya yang sangat organik. Di tengah gempuran tren "clean girl aesthetic" atau gaya hidup serba mewah yang dipamerkan di media sosial, Hozier muncul dengan rambut gondrong berantakan, jaket flanel usang, dan foto-foto yang vibes-nya kayak diambil di tengah rawa-rawa Irlandia.
Ada semacam ketulusan yang terpancar dari dia. Dia nggak berusaha keras untuk terlihat keren. Dia nggak pakai autotune berlebihan. Dia cuma berdiri di depan mikrofon, memetik gitar, dan membiarkan suaranya yang vibrasinya bisa menggetarkan dada itu melakukan tugasnya. Banyak orang bercanda di internet kalau Hozier itu bukan manusia, melainkan makhluk mitologi sejenis peri atau *fae* yang sedang menyamar. Dan sejujurnya, melihat bagaimana dia menulis lirik yang begitu indah, teori itu terasa masuk akal.
Aktivisme yang Bukan Cuma Gimmick
Hal lain yang bikin Hozier layak direspek adalah keberaniannya bersuara. Sejak "Take Me to Church" yang mengkritik keras diskriminasi institusi agama terhadap komunitas LGBTQ+, Hozier konsisten berada di garis depan untuk isu-isu kemanusiaan. Dia nggak cuma sekadar posting hitam di Instagram atau pakai tagar populer.
Dia seringkali menyisipkan pesan politik dalam musiknya secara elegan namun menohok. Dia vokal soal krisis perumahan di Irlandia, hak-hak perempuan, hingga dukungannya terhadap kemanusiaan di Palestina. Bagi Hozier, seni dan politik itu nggak bisa dipisahkan. Dia menggunakan platformnya bukan cuma buat cari cuan, tapi buat bikin orang mikir. Ini yang bikin dia beda dari banyak selebriti yang biasanya main aman biar nggak kehilangan sponsor.
Kenapa Kita Masih Membutuhkan Hozier?
Di dunia yang serba cepat dan berisik ini, musik Hozier itu kayak tempat perhentian sejenak. Mendengarkan lagu-lagunya seperti sedang duduk di pinggir api unggun sambil baca buku puisi tua. Dia memberikan ruang buat kita untuk merasa sedih, merasa marah, sekaligus merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari sekadar rutinitas harian.
Lagu "Too Sweet" yang sekarang lagi ramai itu mungkin terdengar seperti lagu pop biasa, tapi di baliknya ada filosofi tentang perbedaan gaya hidup dan penerimaan diri. Hozier selalu punya cara untuk menyelipkan kedalaman di tengah kesederhanaan. Dia mengingatkan kita kalau menjadi manusia itu rumit, berantakan, tapi juga indah di saat yang bersamaan.
Jadi, entah kamu menyukainya karena suaranya yang bikin merinding, liriknya yang puitis mirip sastrawan klasik, atau sekadar karena dia terlihat seperti pria baik hati yang bakal membacakanmu buku sebelum tidur, satu hal yang pasti: Hozier adalah anomali yang manis di industri musik modern. Kita butuh lebih banyak musisi seperti dia—yang nggak takut jadi diri sendiri, bahkan kalau itu artinya harus terlihat seperti "Mas-Mas Hutan" yang galau di tengah rawa.
Akhir kata, kalau kamu belum sempat mendalami diskografinya selain lagu-lagu yang viral, coba deh luangkan waktu. Pasang headphone, matikan lampu, dan biarkan Hozier membawamu jalan-jalan ke hutan imajinasinya. Siapa tahu, setelah itu kamu juga jadi pengen ikut bertapa di Irlandia.
Next News

Lil Uzi Vert: Rapper "Alien" yang Bikin Dunia Hip-Hop Jadi Lebih Berwarna (dan Berkilau)
in 7 hours

Mengenal T.I.: Sang Raja Selatan yang Membawa Trap ke Arus Utama
in 7 hours

ATEEZ: Kisah Para Bajak Laut K-Pop yang Mendobrak Tembok Kemustahilan
in 6 hours

Red Hot Chili Peppers: Bapak-Bapak Funk Rock yang Energinya Nggak Ada Obat
in 4 hours

Panic! At The Disco: Dari Emo Berponi Sampai Solo Karier yang Bikin Geleng-Geleng Kepala
in 3 hours

Misteri Suara Serak-Serak Basah: Siapa Sebenarnya Penyanyi Eagles?
in 2 hours

Menyelami Dunia The Marias: Soundtrack Sempurna Buat Lo yang Suka Melamun Estetik
in an hour

Jason Aldean: Koboi Paling Berisik di Nashville yang Nggak Takut Bikin Geger
11 minutes ago

Kanye West: Antara Jenius Musik dan 'Kang Cari Ribut' yang Susah Dibenci (Tapi Kadang Pengen Ditinggalin)
11 minutes ago

Myles Smith: Sosok di Balik Lagu Stargazing yang Bikin Kita Betah Mandangi Langit Malam
an hour ago




