Rabu, 18 Maret 2026
Amandit FM
Hiburan

Menyelami Dunia The Marias: Soundtrack Sempurna Buat Lo yang Suka Melamun Estetik

Hafizah Fikriah Waskan - Wednesday, 18 March 2026 | 11:00 AM

Background
Menyelami Dunia The Marias: Soundtrack Sempurna Buat Lo yang Suka Melamun Estetik
The Marias (Billboard.com/The Marias)

Pernah nggak sih lo lagi kejebak macet di Jakarta, hujan rintik-rintik, terus tiba-tiba lagu yang muter di Spotify bikin lo ngerasa kayak lagi jadi pemeran utama di film indie Prancis tahun 70-an? Kalau lo pernah ngerasain sensasi magis itu, kemungkinan besar lo lagi dengerin The Marias. Band asal Los Angeles ini emang punya kekuatan super buat ngubah suasana yang tadinya biasa aja jadi berasa sangat sinematik, sensual, dan jujur aja, agak sedikit bikin baper.

The Marias itu bukan sekadar band; mereka adalah sebuah vibe. Digawangi oleh Maria Zardoya sebagai vokalis dan Josh Conway sebagai drummer sekaligus produser, band ini berhasil nemuin formula rahasia buat nggabungin elemen jazz, psychedelic soul, dan indie-pop ke dalam satu wadah yang mereka sebut sebagai "Cinema-pop". Hasilnya? Musik yang empuk banget di kuping, kayak kasur yang baru diganti sprainya setelah seharian kerja capek-capekan.

Pertemuan Tak Sengaja yang Jadi Sejarah

Kisah terbentuknya The Marias ini sebenarnya agak klise tapi manis banget, kayak plot film rom-com. Maria, yang aslinya dari Puerto Rico tapi besar di Atlanta, pindah ke Los Angeles buat ngejar karier. Di sana, dia ketemu sama Josh Conway di sebuah gig. Singkat cerita, mereka nggak cuma mulai nulis lagu bareng, tapi juga sempet jadi pasangan di dunia nyata. Chemistry mereka itu kerasa banget di setiap helaan napas Maria pas lagi nyanyi. Lo bisa ngerasain ada koneksi yang intim banget antara vokal Maria yang breathy sama ketukan drum Josh yang selalu presisi tapi tetep laid-back.

Awal kemunculan mereka lewat EP Superclean Vol. I dan Vol. II langsung bikin skena indie dunia nengok. Lagu kayak "Cariño" atau "I Like It" itu ibarat racun yang bikin nagih. Maria yang fasih banget nyanyi dalam bahasa Inggris dan Spanyol ngasih warna unik yang jarang ditemuin di band-band LA lainnya. Ada kesan eksotis, tapi tetep kerasa modern dan nggak maksa.

Kenapa Musik Mereka Bikin Kita Kecanduan?

Kalau kita bedah, musik The Marias itu sebenernya nggak terlalu rumit atau penuh sama teknik gitar yang ribet. Tapi kuncinya ada di atmosfer. Mereka itu ahlinya bikin ruangan yang lo tempatin sekarang berasa lebih redup, lebih hangat, dan mungkin lebih "mahal". Vokal Maria yang bisik-bisik manja itu sering dibilang mirip malaikat yang lagi curhat. Lo nggak perlu teriak-teriak buat bikin orang denger, dan The Marias ngebuktiin hal itu.

Selain itu, aspek visual mereka itu juara banget. Coba deh tonton video klip mereka atau liat art cover albumnya. Mereka sangat peduli sama estetika. Dari mulai palet warna merah yang dominan di era album CINEMA sampai biru elektrik di album terbaru mereka, Submarine. Buat anak muda zaman sekarang yang apa-apa harus kelihatan "aesthetic" di Instagram, The Marias adalah paket lengkap. Dengerin musiknya dapet, nyontek gayanya juga dapet.

Transisi dari Merah ke Biru: Patah Hati yang Elegan

Ngomongin The Marias nggak lengkap kalau nggak bahas album Submarine yang baru aja rilis tahun 2024 ini. Kalau di album CINEMA kita ngerasain gairah dan semangat yang membara (dengan warna merah yang ikonik), di Submarine kita diajak menyelam lebih dalam ke perasaan yang lebih dingin dan melankolis. Kabarnya, album ini lahir di tengah-tengah proses Maria dan Josh yang memutuskan buat mengakhiri hubungan romantis mereka tapi tetep milih buat profesional di band.

Gila nggak tuh? Bayangin lo harus rekaman bareng mantan lo, bahas soal perasaan kehilangan, tapi harus tetep sinkron secara musik. Tapi justru di sinilah letak kedewasaan mereka. Lagu-lagu di Submarine kerasa lebih personal dan agak "gelap" tapi tetep cantik. Kayak lo lagi berenang di tengah laut malem-malem; serem tapi lo nggak mau berhenti. Ini ngebuktiin kalau The Marias bukan cuma band yang jago bikin lagu enak, tapi mereka juga punya kedalaman emosional yang bikin pendengarnya ngerasa nggak sendirian pas lagi sedih.

The Marias dan Kita yang Suka "Galau"

Kenapa The Marias bisa populer banget di Indonesia? Menurut pengamatan sok tahu gue sih, karena orang Indonesia itu pada dasarnya suka sesuatu yang melankolis tapi tetep enak buat goyang tipis-tipis. Musik mereka itu cocok banget buat jadi temen bengong pas lagi nunggu ojek online, atau pas lagi ngerjain tugas di coffee shop yang lampunya temaram. Ada rasa nyaman yang ditawarkan dari setiap dentuman bass-nya.

Ditambah lagi, lirik-lirik mereka yang puitis tapi nggak pretensius bikin kita gampang relate. Siapa sih yang nggak pernah ngerasa "I don't wanna wait for you" tapi sebenernya masih ngarep? Atau siapa yang nggak pernah ngerasa pengen kabur sejenak dari kenyataan yang berisik? The Marias ngasih kita ruang buat kabur ke dimensi lain lewat lagu-lagu mereka.

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Tren

Pada akhirnya, The Marias bukan cuma band yang lewat gitu aja karena tren "lofi" atau "indie-pop". Mereka punya karakter yang kuat, visi artistik yang jelas, dan kejujuran dalam berkarya. Mereka ngajarin kita kalau musik nggak selamanya harus kenceng buat bisa didenger, dan patah hati nggak selamanya harus berantakan buat bisa jadi karya yang indah.

Jadi, kalau lo belum pernah dengerin mereka, saran gue sih coba mulai dari lagu "Ruthless" atau "No One Noticed". Pasang earphone, matiin lampu kamar, dan biarin suara Maria Zardoya nuntun lo ke dunia yang jauh lebih tenang dari keributan dunia luar. Trust me, your ears will thank you later.

Tags