Panic! At The Disco: Dari Emo Berponi Sampai Solo Karier yang Bikin Geleng-Geleng Kepala
Hafizah Fikriah Waskan - Wednesday, 18 March 2026 | 01:00 PM


Kalau kita bicara soal musik era 2000-an, rasanya mustahil nggak nyebut nama Panic! At The Disco. Buat anak-anak yang dulu hobi nongkrong di warnet sambil dengerin lagu di Winamp atau sibuk gonta-ganti layout profil MySpace, band asal Las Vegas ini adalah separuh napas kehidupan. Tapi ya gitu, kayak hubungan asmara yang penuh drama, perjalanan band yang digawangi Brendon Urie ini nggak pernah benar-benar lurus. Penuh tikungan tajam, drama keluar-masuk personil, sampai akhirnya benar-benar bubar jalan di awal 2023 kemarin.
Sebenarnya, apa sih yang bikin Panic! At The Disco (kita singkat P!ATD aja ya biar akrab) begitu spesial di hati para "Sinners"? Jawabannya mungkin ada pada keberanian mereka buat nggak pernah konsisten. Iya, kamu nggak salah baca. Di saat band-band emo lain sibuk dandan serba hitam dan curhat soal kegalauan hidup yang itu-itu saja, P!ATD justru muncul dengan vibe kabaret, sirkus, dan lirik-lirik yang panjangnya kayak judul skripsi.
Ledakan Awal: I Write Sins Not Tragedies
Ingat tahun 2005? Waktu itu album A Fever You Can't Sweat Out meledak di pasaran. Lagu "I Write Sins Not Tragedies" jadi anthem wajib di setiap acara radio. Klip videonya yang ikonik—menampilkan Brendon Urie pakai topi tinggi ala ringmaster sirkus—berhasil bikin standar baru buat estetika anak indie/emo saat itu. Ryan Ross, yang waktu itu jadi otak di balik lirik-lirik puitis bin ajaib, bener-bener tahu cara bikin lagu yang enak didengar tapi tetep terasa "cerdas".
Dulu, banyak yang ngira P!ATD bakal jadi "The Next Fall Out Boy" karena mereka memang ditemukan oleh Pete Wentz. Tapi ternyata, mereka lebih liar dari itu. Mereka nggak cuma mainin pop-punk, tapi mencampurkan techno, instrumen tiup, sampai suara akordeon dalam satu album. Gila sih kalau dipikir-pikir sekarang, berani banget buat ukuran band remaja ingusan dari Nevada.
Drama, Split, dan Perubahan Identitas
Masalahnya, nggak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Setelah merilis album Pretty. Odd. yang nuansanya sangat The Beatles (dan sempat bikin fans kaget karena mereka mendadak jadi anak bunga yang ceria), perpecahan internal mulai muncul. Ryan Ross dan Jon Walker pengen eksplorasi gaya retro, sementara Brendon Urie dan Spencer Smith pengen tetap di jalur yang lebih modern dan pop. Hasilnya? Ryan dan Jon cabut, ninggalin Brendon dan Spencer dengan nama besar P!ATD.
Di fase ini, banyak fans yang skeptis. "Emang bisa P!ATD jalan tanpa Ryan Ross?" Begitu kira-kira pertanyaan yang sering muncul di forum-forum musik. Ternyata, Brendon Urie adalah tipe orang yang kalau dikasih tantangan malah makin menjadi-jadi. Dia nggak cuma bertahan, tapi perlahan-lahan mengubah P!ATD menjadi proyek solo terselubung. Brendon yang punya jangkauan vokal luar biasa (bisa tinggi banget sampai bikin telinga berdenging kalau dia teriak) mulai mengambil kendali penuh.
Era Solo yang Membagi Opini Fans
Masuk ke era album Death of a Bachelor dan Pray for the Wicked, wajah P!ATD sudah berubah total. Nggak ada lagi nuansa emo-kabaret yang gelap. Yang ada adalah lagu-lagu pop megah dengan pengaruh jazz dan Broadway. Brendon jadi pusat semesta. Lagu kayak "High Hopes" bahkan meledak sampai ke telinga orang-orang yang bahkan nggak tahu sejarah P!ATD. Lagu itu diputar di mana-mana, dari mal sampai kampanye politik.
Opini fans pun terbelah. Ada yang senang melihat Brendon sukses besar, tapi ada juga fans garis keras era awal yang merasa P!ATD sudah kehilangan jiwanya. Mereka bilang, "Ini bukan band lagi, ini cuma Brendon Urie dan beberapa musisi sewaan." Ya, nggak sepenuhnya salah sih. Karena pada akhirnya, P!ATD memang resmi jadi proyek solo Brendon setelah personil orisinal lainnya satu per satu undur diri karena masalah pribadi atau kesehatan.
Senjakala di Awal 2023
Awal tahun 2023 jadi momen yang cukup emosional. Brendon Urie mengumumkan lewat Instagram bahwa Panic! At The Disco bakal segera berakhir setelah tur terakhir mereka selesai. Alasannya klasik tapi sangat manusiawi: Brendon mau fokus jadi ayah. Kabar ini tentu saja bikin jagat maya geger. Ada yang sedih sampai bikin thread panjang soal kenangan masa muda, ada juga yang justru merasa ini adalah langkah yang tepat karena merasa musikalitas P!ATD sudah mentok di album terakhir mereka, Viva Las Vengeance.
Album terakhir itu memang cukup kontroversial. Brendon mencoba gaya rock n' roll era 70-an dengan cara rekaman yang sangat organik. Sayangnya, banyak yang merasa vokalnya terlalu dipaksakan dan lagunya nggak se-catchy dulu. Tapi hey, setidaknya dia menutup perjalanannya dengan cara yang dia mau, bukan dengan cara yang diminta oleh pasar.
Kenangan yang Nggak Bakalan Hilang
Kalau kita melihat ke belakang, Panic! At The Disco itu lebih dari sekadar urusan musik. Mereka adalah representasi dari keberanian buat gonta-ganti identitas tanpa rasa takut dihujat. Mereka ngajarin kita kalau jadi "aneh" itu keren, dan kalau kita punya talenta, jangan takut buat pamer. Brendon Urie mungkin jadi satu-satunya orang yang tersisa di akhir, tapi warisan lagu-lagu lama yang ditulis bareng Ryan Ross tetap jadi bagian sejarah pop-culture yang nggak ternilai.
Sekarang, meskipun band ini sudah bubar, lagu-lagunya tetap bakal diputar di playlist nostalgia. Mulai dari lagu buat orang yang lagi patah hati, sampai lagu buat mereka yang butuh semangat buat mengejar cita-cita. Terima kasih buat perjalanannya yang penuh warna selama hampir dua dekade ini, Brendon. Kamu benar-benar sudah membuktikan kalau tragedi itu nggak perlu ditulis, mendingan dijadiin lagu aja biar bisa kita dengerin sambil joget tipis-tipis.
Jadi, lagu P!ATD mana yang paling membekas di hati kamu? Apakah si klasik "I Write Sins" atau malah lagu megah "Death of a Bachelor"? Apa pun pilihannya, satu yang pasti: industri musik nggak bakal nemuin band seunik ini lagi dalam waktu dekat.
Next News

Hozier: Mas-Mas Hutan yang Bikin Kita Semua Mendadak Puitis dan Skeptis
in 6 hours

Red Hot Chili Peppers: Bapak-Bapak Funk Rock yang Energinya Nggak Ada Obat
in 5 hours

Misteri Suara Serak-Serak Basah: Siapa Sebenarnya Penyanyi Eagles?
in 3 hours

Menyelami Dunia The Marias: Soundtrack Sempurna Buat Lo yang Suka Melamun Estetik
in 2 hours

Jason Aldean: Koboi Paling Berisik di Nashville yang Nggak Takut Bikin Geger
in an hour

Kanye West: Antara Jenius Musik dan 'Kang Cari Ribut' yang Susah Dibenci (Tapi Kadang Pengen Ditinggalin)
in an hour

Myles Smith: Sosok di Balik Lagu Stargazing yang Bikin Kita Betah Mandangi Langit Malam
in 20 minutes

Creedence Clearwater Revival: Legenda 'Rawa-Rawa' yang Gak Ada Matinya
40 minutes ago

Menghirup Debu Seattle: Mengapa Alice In Chains Tetap Jadi Band Paling 'Kelam' yang Selalu Dicintai
3 hours ago

Nirvana: Lebih Dari Sekadar Kaos Ikonik yang Mejeng di Rak Toko Baju
3 hours ago





