Selasa, 17 Maret 2026
Amandit FM
Hiburan

Ed Sheeran: Mas-Mas Biasa yang Menaklukkan Dunia dengan Gitar dan Loop Pedal

Hafizah Fikriah Waskan - Wednesday, 18 March 2026 | 04:00 AM

Background
Ed Sheeran: Mas-Mas Biasa yang Menaklukkan Dunia dengan Gitar dan Loop Pedal
Ed Sheeran (Billboard.com/Ed Sheeran)

Kalau kita bicara soal bintang pop dunia masa kini, bayangan kita biasanya tertuju pada sosok yang glamor, badan atletis, baju rancangan desainer ternama, atau koreografi yang bikin geleng-geleng kepala. Tapi, coba lihat Ed Sheeran. Kalau kamu melihat dia jalan-jalan di pasar swalayan pakai kaos oblong kegedean dan celana pendek, mungkin kamu bakal mengira dia cuma mas-mas biasa yang lagi nyari promo susu kotak. Rambutnya merah berantakan, wajahnya penuh bintik matahari, dan pembawaannya sangat santai—jauh dari kesan diva.

Tapi jangan salah, justru di balik penampilan "anak tongkrongan" itu, Ed Sheeran adalah anomali terbesar di industri musik modern. Dia adalah bukti nyata bahwa bakat murni dan kerja keras bisa mengalahkan standar kecantikan industri yang kadang nggak masuk akal. Ed nggak butuh rombongan penari latar atau kembang api yang meledak-ledak di panggung. Dia cuma butuh satu gitar akustik, satu loop pedal, dan segelas air putih untuk bikin puluhan ribu orang di stadion menangis berjamaah.

Dari Tidur di Kereta Bawah Tanah Sampai Jadi Raja Matematika

Perjalanan Ed itu nggak instan, lho. Ini bukan cerita soal anak orang kaya yang tiba-tiba viral. Ed Sheeran itu definisi asli dari kata hustle. Bayangkan, dia pernah jadi tunawisma selama beberapa tahun di London, tidur di kereta bawah tanah, dan main musik dari bar ke bar hanya demi dapet uang makan. Dia pernah cerita kalau dia pernah tampil di depan hanya satu atau dua orang saja. Tapi mentalnya emang baja. Dia nggak berhenti.

Keunikan Ed juga terlihat dari bagaimana dia menamai album-albumnya. Alih-alih pakai judul puitis, dia malah pakai simbol matematika: + (Plus), x (Multiply), ÷ (Divide), - (Subtract), dan = (Equals). Mungkin dulu nilai matematikanya bagus, atau dia emang pengen bikin pusing anak sekolah. Tapi yang jelas, strategi ini berhasil bikin branding yang kuat banget. Setiap simbol punya emosi yang beda. Ada yang ceria banget kayak "Shape of You", ada juga yang bikin galau maksimal sampai pengen nutup pintu kamar seharian kayak "Happier" atau "Supermarket Flowers".

Kenapa Lagu-lagunya Selalu Enak di Telinga?

Pernah nggak sih kamu mikir, kenapa lagu Ed Sheeran itu kayaknya gampang banget nempel di otak? Jawabannya sederhana: dia adalah seorang pencerita yang ulung. Lirik-liriknya nggak berusaha jadi terlalu filosofis yang berat sampai kita butuh kamus buat ngerti. Dia menulis tentang hal-hal remeh yang kita semua rasain. Tentang jatuh cinta di kursi belakang taksi, tentang kangen rumah, atau tentang gimana rasanya jadi orang yang nggak pede di pesta.

Selain itu, kemampuannya memadukan berbagai genre itu gila sih. Dia bisa nyanyi lagu balada yang bikin baper, tapi di detik berikutnya dia bisa nge-rap dengan flow yang nggak kalah sama rapper profesional. Coba dengerin "You Need Me, I Don't Need You". Di situ dia pamer skill kalau dia bukan sekadar penyanyi lagu cinta yang manis-manis doang. Dia itu musisi yang teknisnya dapet, emosinya juga dapet. Paket lengkap, lah.

Si Chameleon yang Bisa Masuk ke Mana Saja

Satu hal yang bikin saya kagum sama Ed Sheeran adalah sifatnya yang kayak bunglon. Dia bisa kolaborasi sama siapa saja dan nggak pernah terasa aneh. Mau dia duet sama Beyonce yang megah? Masuk. Mau kolaborasi sama Justin Bieber yang pop banget? Laku keras. Bahkan dia pernah bikin lagu bareng Bring Me The Horizon yang aliran metal, dan hasilnya? Tetap keren! Belum lagi kerjasamanya sama BTS atau J Balvin. Ed seolah-olah punya kunci buat masuk ke semua pintu genre musik.

Dia juga nggak pelit ilmu. Banyak lagu hits penyanyi lain yang ternyata hasil coretan tangannya. Kamu tahu lagu "Love Yourself" punya Justin Bieber? Itu Ed yang nulis. Atau "Little Things" milik One Direction? Itu juga dia. Dia ini kayak pabrik lagu hits yang nggak pernah berhenti berproduksi. Mungkin kalau dia mau, dia bisa bikin album baru tiap bulan, tapi ya kasihan musisi lain kalau dia terlalu dominan, kan?

Tetap Membumi di Tengah Kegilaan Popularitas

Meskipun uangnya mungkin sudah nggak berseri dan dia punya koleksi jam tangan mewah yang harganya bisa buat beli satu perumahan, Ed Sheeran tetaplah Ed yang dulu. Dia masih cinta banget sama saus tomat (sampai punya tato Heinz!), dia sangat tertutup soal kehidupan pribadinya, dan dia lebih milih tinggal di pedesaan Inggris daripada di pusat keramaian Hollywood. Dia adalah sosok ayah yang sayang anak dan suami yang setia.

Di dunia yang penuh dengan drama media sosial dan orang-orang yang haus validasi, Ed Sheeran memberikan kita perspektif lain. Bahwa untuk menjadi yang terbaik, kita nggak perlu jadi orang lain. Kita nggak perlu pura-pura jadi keren kalau emang dasarnya kita lebih suka pakai hoodie daripada jas. Keaslian itulah yang dicari orang-orang sekarang. Kita merasa dekat dengan lagunya karena kita merasa dekat dengan sosoknya.

Kesimpulan: Kenapa Kita Masih Butuh Ed Sheeran?

Di akhir hari, musik Ed Sheeran adalah teman yang baik. Saat kamu lagi jatuh cinta, "Perfect" bakal nemenin kamu. Saat kamu lagi patah hati, "Photograph" bakal jadi sandaran. Dan saat kamu lagi pengen joget tipis-tipis di kamar mandi, "Shape of You" tetap jadi pilihan utama. Ed Sheeran bukan sekadar musisi; dia adalah saksi sejarah dari berbagai perasaan manusia di era digital ini.

Mungkin ada yang bilang musiknya terlalu "pasaran" atau "main aman", tapi jujur saja, bikin lagu yang bisa disukai oleh nenek-nenek sampai anak balita itu susah luar biasa. Ed Sheeran punya resep rahasia itu. Dia adalah "mas-mas biasa" yang berhasil membuktikan bahwa dengan gitar tua dan kejujuran dalam lirik, siapapun bisa mengguncang dunia. Jadi, buat kalian yang masih merasa "biasa-biasa saja", ingatlah Ed Sheeran. Siapa tahu, ke-biasa-an kalian itu justru adalah kekuatan terbesar kalian.

Tags