Jumat, 13 Maret 2026
Amandit FM
Nasional

Kaesang Pangarep: Dari Tukang Pisang, Raja Meme, Hingga Jadi Kapten Politik Dadakan

Hafizah Fikriah Waskan - Friday, 13 March 2026 | 04:00 PM

Background
Kaesang Pangarep: Dari Tukang Pisang, Raja Meme, Hingga Jadi Kapten Politik Dadakan
Kaesang Pangarep (Instagram/Kaesang Pangarep)

Kalau kita bicara soal keluarga Presiden Joko Widodo, biasanya bayangan kita bakal tertuju pada sosok yang tenang, irit bicara, dan sangat "Jawa banget". Tapi, ada satu anomali di dalam silsilah keluarga tersebut yang sepertinya memang sengaja lahir untuk mengacak-acak ekspektasi publik. Siapa lagi kalau bukan Kaesang Pangarep? Anak bungsu yang dulu lebih dikenal sebagai tukang pisang goreng ini sekarang sudah bertransformasi menjadi sosok yang punya pengaruh besar di panggung politik nasional.

Perjalanan Kaesang ini sebenarnya kalau dibikin film dokumenter bakal cukup absurd. Bayangkan saja, beberapa tahun lalu, kita mengenal dia sebagai YouTuber yang hobi bikin video lucu-lucuan bareng bapaknya, atau sosok yang sering banget di-bully netizen karena gaya bicaranya yang ceplas-ceplos di Twitter (sekarang X). Tapi lihat sekarang? Dia adalah Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Transisinya lebih cepat daripada durasi masak mi instan.

Persona "Anak Bungsu" yang Nyeleneh

Satu hal yang membuat Kaesang berbeda dari kakaknya, Gibran Rakabuming Raka, adalah pembawaannya yang jauh lebih cair. Kalau Gibran dulu dicitrakan sebagai sosok yang dingin dan "sedikit bicara banyak kerja", Kaesang justru hadir sebagai personifikasi Gen Z yang nggak mau ribet. Dia nggak malu buat nge-meme dirinya sendiri. Bahkan, saat dia sering dibilang dapet "privilege" karena jadi anak presiden, tanggapannya biasanya santai banget, antara sarkas atau memang beneran nggak peduli.

Kita tentu ingat masa-masa "Sang Pisang" mulai menjamur di mana-mana. Kaesang dengan bangganya melabeli dirinya sebagai pedagang pisang, bukan anak pejabat. Narasi ini laku keras di masyarakat karena Kaesang seolah-olah memberikan angin segar bahwa anak presiden itu nggak harus selalu kaku pakai batik dan ikut rapat birokrasi. Dia lebih milih pakai kaos oblong, main game, dan ngurusin klub bola Persis Solo.

Gaya komunikasinya yang "receh" inilah yang membuatnya punya basis massa sendiri di media sosial. Dia bukan tipe politisi tua yang kalau ngomong harus pakai peribahasa sulit. Kaesang bicara pakai bahasa tongkrongan, pakai istilah-istilah yang relate sama anak muda, dan itu yang bikin dia terasa lebih "manusiawi" di mata publik.

Kerajaan Bisnis dan Ambisi yang Tersembunyi

Meski kelihatannya cuma main-main, Kaesang sebenarnya adalah seorang pebisnis yang cukup ulet. Kita bisa lihat deretan bisnisnya, mulai dari kuliner, aplikasi, hingga investasi di bidang olahraga. Tentu saja, perdebatan soal "modalnya dari mana" atau "relasinya siapa" bakal selalu ada di kolom komentar netizen. Tapi secara objektif, dia berhasil membangun brand personal yang kuat. Dia membuktikan bahwa nama belakang "Pangarep" itu adalah aset yang dikelola dengan sangat cerdik secara marketing.

Namun, di balik tawa dan candaan di media sosial, Kaesang perlahan mulai menunjukkan ketertarikannya pada kekuasaan yang lebih nyata. Keputusannya untuk terjun ke dunia politik mungkin sudah diprediksi banyak orang, tapi caranya yang "sat-set" tetap bikin kaget. Bayangkan saja, masuk partai hari ini, selang beberapa hari kemudian langsung didapuk jadi Ketua Umum. Ini rekor yang mungkin sulit dipecahkan oleh aktivis mahasiswa mana pun yang sudah demo bertahun-tahun.

Lompatan Politik yang Bikin Heboh

Masuknya Kaesang ke PSI membawa narasi baru: politik riang gembira. Dia mencoba menghapus stigma bahwa politik itu kotor, membosankan, dan cuma milik orang tua. Dengan gaya khasnya, Kaesang berkeliling Indonesia membawa misi untuk memenangkan partainya. Dia menjadi wajah baru yang diharapkan bisa menarik suara pemilih muda yang jumlahnya sangat dominan di pemilu kemarin.

Tapi tentu saja, langkah ini nggak sepi dari kritik. Banyak yang menilai ini adalah puncak dari dinasti politik yang sedang dibangun keluarganya. Pengamat politik sibuk berdebat, tapi Kaesang? Dia tetap asyik bikin konten, main bola, dan sesekali melempar joke di podcast. Seolah-olah tekanan politik nasional itu cuma beban harian yang bisa diselesaikan dengan segelas kopi.

Kehadiran Kaesang di politik sebenarnya adalah cermin dari kondisi masyarakat kita sekarang. Kita suka sosok yang apa adanya, yang nggak jaim, tapi di sisi lain, kita juga was-was dengan konsolidasi kekuasaan yang terlalu terpusat. Kaesang adalah titik temu antara budaya pop dan kekuasaan absolut.

Kaesang: Antara Idola dan Kontroversi

Kalau ditanya siapa Kaesang Pangarep sebenarnya, jawabannya tergantung kamu nanya ke siapa. Kalau nanya ke pelaku UMKM, mungkin dia dilihat sebagai inspirasi anak muda yang berani jualan. Kalau nanya ke anak bola di Solo, dia adalah penyelamat klub lokal yang sempat mati suri. Tapi kalau nanya ke kritikus pemerintah, dia mungkin dilihat sebagai simbol dari kemudahan akses kekuasaan bagi segelintir orang.

Terlepas dari segala kontroversinya, satu hal yang pasti: Kaesang tahu cara menarik perhatian. Dia tahu kapan harus diam, kapan harus bertingkah konyol, dan kapan harus mengambil keputusan strategis. Dia bukan sekadar "anak presiden" yang nebeng nama. Dia adalah brand yang dikelola dengan sangat baik di era algoritma media sosial.

Kini, publik menunggu apa lagi yang akan dilakukan oleh pria kelahiran 1994 ini. Apakah dia akan terus di jalur partai politik, atau mungkin suatu saat kita akan melihat namanya di surat suara pemilihan kepala daerah? Mengingat betapa dinamisnya langkah Kaesang selama ini, rasanya nggak ada yang mustahil. Bagi Kaesang, dunia ini mungkin seperti panggung komedi tunggal: asalkan punchline-nya kena, semua orang bakal tetap memperhatikan.

Jadi, begitulah Kaesang Pangarep. Sosok yang bisa bikin kita tertawa karena kelakuannya yang absurd, tapi juga bisa bikin kita dahi berkerut karena manuver politiknya yang tak terduga. Sebuah fenomena unik dalam sejarah politik modern Indonesia yang menunjukkan bahwa terkadang, untuk menguasai panggung, kamu nggak butuh pidato yang berapi-api, cukup dengan satu-dua cuitan lucu dan sebungkus pisang goreng.

Tags