164 Triliun dan Kisah di Balik Senyum Tahir: Lebih dari Sekadar Angka di Rekening
Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 24 March 2026 | 05:00 PM


Pernah nggak sih kalian bengong sebentar sambil membayangkan isi saldo ATM yang jumlah digitnya nggak habis-habis pas di-scroll? Kalau kita biasanya pusing tujuh keliling cuma gara-gara nungguin promo gratis ongkir atau mikirin cicilan paylater yang mulai menagih janji, beda cerita sama Dato' Sri Tahir. Nama ini mungkin sudah nggak asing lagi di telinga, tapi angkanya belakangan ini bikin mata siapa pun terbelalak: US$10,5 miliar. Kalau dikonversi ke Rupiah dengan kurs sekarang, itu setara dengan Rp164,03 triliun. Ya, kamu nggak salah baca. Nol-nya ada banyak banget sampai mungkin kalkulator HP kita bakal menyerah duluan.
Tapi, sebelum kita mulai merasa insecure berjamaah dan membandingkan nasib dengan keluarga konglomerat ini, ada baiknya kita bedah sedikit: kok bisa ya ada orang punya uang sebanyak itu? Dan yang lebih penting lagi, gimana cara mereka melihat dunia dari atas tumpukan aset yang setinggi langit itu? Tahir bukan sekadar sosok "anak sultan" yang tiba-tiba jatuh dari langit dengan sendok emas di mulutnya. Narasi hidupnya sebenarnya jauh lebih membumi dan penuh drama daripada yang mungkin kita kira.
Bukan Berawal dari Karpet Merah
Kalau kita sering dengar kutipan motivasi yang bilang bahwa sukses itu butuh proses, Tahir adalah personifikasi nyata dari kalimat itu. Jauh sebelum Mayapada Group menggurita seperti sekarang, Tahir lahir di Surabaya dari keluarga yang sangat sederhana. Ayahnya dulu adalah seorang pembuat becak. Bayangkan, dari bengkel becak ke puncak daftar orang terkaya di Indonesia versi Forbes. Ini bukan cuma soal keberuntungan, tapi soal nyali yang nggak tahu batas.
Tahir sering bercerita di berbagai kesempatan bahwa masa kecilnya nggak penuh dengan kemewahan. Malah, dia sempat harus berhenti kuliah di luar negeri karena masalah finansial keluarganya. Momen-momen terjepit seperti itulah yang biasanya membentuk mental "survive" seseorang. Dia belajar berbisnis dari bawah, mulai dari dagang barang-barang apa saja yang bisa dijual, sampai akhirnya perlahan masuk ke dunia perbankan dan kesehatan. Jadi, kalau sekarang dia punya 164 triliun, itu adalah akumulasi dari keringat puluhan tahun yang mungkin kalau dibukukan bisa jadi seri novel yang lebih panjang dari Harry Potter.
Gurita Bisnis yang Ada di Mana-Mana
Nama Mayapada Group sekarang sudah jadi raksasa. Kalau kamu sakit dan pergi ke Mayapada Hospital, itu punya beliau. Kalau kamu nabung di Bank Mayapada, ya itu juga punya beliau. Belum lagi properti mewah, real estate, sampai lisensi media internasional sekelas Forbes Indonesia. Kekayaannya nggak numpuk di satu keranjang doang, tapi menyebar ke berbagai sektor strategis yang bikin pondasi hartanya sekuat beton.
Ada hal menarik yang sering dibahas netizen: koneksi keluarganya. Tahir adalah menantu dari Mochtar Riady, pendiri Lippo Group. Banyak yang nyinyir dan bilang, "Ya pantesan kaya, mertuanya aja naga." Tapi tunggu dulu. Tahir sendiri sering menegaskan bahwa dia membangun Mayapada dengan caranya sendiri. Ada ego dan harga diri seorang lelaki yang ingin membuktikan bahwa dia bisa berdiri di atas kaki sendiri tanpa harus terus-menerus berteduh di bawah ketiak mertua. Dan dia membuktikannya. 164 triliun itu bukan cuma "warisan", tapi hasil ekspansi yang ugal-ugalan namun terukur.
Filantropi: Gaya "Buang Duit" yang Berkelas
Salah satu hal yang bikin sosok Tahir ini beda dari tipikal orang kaya yang cuma pamer mobil mewah (meskipun koleksinya pasti juga nggak sembarangan) adalah kecintaannya pada kegiatan sosial. Dia adalah salah satu orang Indonesia pertama yang bergabung dalam Giving Pledge, sebuah komitmen para miliarder dunia untuk menyumbangkan sebagian besar kekayaan mereka untuk kemanusiaan. Dia berteman baik dengan Bill Gates, dan mereka sering kolaborasi buat urusan kesehatan global.
Mungkin bagi kita, nyumbang seratus atau dua ratus ribu pas ada bencana itu sudah kerasa banget. Tapi Tahir? Dia bisa gelontorin jutaan dolar buat riset penyakit atau bantuan pengungsi. Ada kutipan menarik dari dia yang intinya bilang bahwa uang itu cuma titipan, dan tugas dia adalah mengalirkannya kembali ke orang yang membutuhkan. Wah, kalau semua orang kaya punya mindset begini, mungkin kesenjangan sosial di negara kita nggak bakal sedalam jurang di film-film horor ya.
Gaya Hidup dan Pandangan yang Unik
Meskipun duitnya sudah nggak habis tujuh turunan, Tahir tetap dikenal sebagai sosok yang religius dan disiplin. Dia nggak malu buat tampil apa adanya dan bicara ceplas-ceplos. Di beberapa wawancara, dia sering kasih nasihat yang "nyelekit" tapi bener, soal kerja keras dan jangan jadi orang yang malas. Dia juga sangat menekankan pentingnya keluarga. Baginya, angka 164 triliun itu nggak akan ada artinya kalau hubungan di dalam rumah tangga berantakan.
Keluarga Tahir, termasuk anak-anaknya seperti Grace Tahir yang belakangan sering viral karena konten-kontennya yang kritis dan lucu di media sosial, menunjukkan bahwa mereka adalah generasi yang melek realita. Mereka nggak menutup mata kalau mereka punya privilege, tapi mereka juga kerja keras buat mempertahankan dan mengembangkan apa yang sudah ada. Grace Tahir, misalnya, sering bikin konten yang menyindir gaya hidup "flexing" orang kaya baru, padahal dia sendiri adalah real crazy rich yang sesungguhnya.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Melihat angka US$10,5 miliar memang bikin kita merasa kerdil. Namun, poin pentingnya bukan cuma soal nominalnya. Kisah Tahir dan keluarganya memberi kita perspektif bahwa kekayaan itu adalah maraton, bukan sprint. Ada masa-masa sulit yang harus dilewati, ada penolakan yang harus diterima, dan ada keberanian buat ambil risiko besar.
Kita mungkin nggak akan punya 164 triliun dalam waktu dekat (kecuali tiba-tiba menang lotre tingkat dunia), tapi semangat "grinding" dan kepedulian sosialnya patut kita contek. Dunia butuh lebih banyak orang kaya yang nggak cuma sibuk menghitung aset, tapi juga sibuk mikirin gimana cara bantu orang lain. Jadi, daripada kita cuma iri melihat daftar Forbes, mending kita fokus benerin finansial sendiri sambil sesekali berbagi, meskipun cuma seharga kopi susu kekinian.
Kesimpulannya, Tahir dan keluarganya adalah anomali yang inspiratif. Mereka membuktikan bahwa dari bengkel becak di Surabaya, seseorang bisa mengguncang daftar orang terkaya di dunia. Angka 164 triliun itu cuma angka, tapi perjalanan di baliknya adalah sebuah legenda yang masih terus ditulis sampai sekarang. Siapa tahu, beberapa puluh tahun lagi, giliran nama kamu yang masuk daftar itu? Amin-in aja dulu, kan gratis!
Next News

Bahlil Nilai Batas BBM Subsidi 50 Liter per Hari Wajar, Singgung Pengalaman Jadi Sopir Angkot
13 days ago

Ramai Isu BBM Naik 1 April, Ini Penjelasan Terbaru dari Pusat
13 days ago

UTBK Is Coming: Checklist Amunisi Biar Nggak Panik di Hari-H
13 days ago

Punya 7.000 Triliun, Elon Musk Bisa Beli Apa Saja di Dunia Ini?
21 days ago

Otto Toto Sugiri: Kisah "Bill Gates Indonesia" yang Hartanya Bikin Geleng-Geleng Kepala
21 days ago

Mengenal Michael Hartono: Triliuner yang Hobi Main Kartu dan Jajan di Pinggir Jalan
21 days ago

Seberapa Kaya Robert Budi Hartono? Intip Fakta Kekayaannya di Sini
21 days ago

Mengenal Low Tuck Kwong: Sang Raja Batubara yang Bikin Kita Merasa Miskin Berjamaah
21 days ago

Kaesang Pangarep: Dari Tukang Pisang, Raja Meme, Hingga Jadi Kapten Politik Dadakan
a month ago

Profil Bahlil Lahadalia: Mantan Loper Koran Kini Nakhoda Golkar
a month ago





