Selasa, 14 April 2026
Amandit FM
Nasional

Mengenal Michael Hartono: Triliuner yang Hobi Main Kartu dan Jajan di Pinggir Jalan

Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 24 March 2026 | 04:00 PM

Background
Mengenal Michael Hartono: Triliuner yang Hobi Main Kartu dan Jajan di Pinggir Jalan
Michael Hartono (Tatler/Michael Hartono)

Pernah nggak sih kamu bengong sebentar sambil membayangkan punya saldo rekening sebesar Rp298,38 triliun? Angka itu kalau ditulis nolnya ada dua belas, saking banyaknya mungkin bikin aplikasi m-banking langsung nge-lag atau malah meledak. Nah, angka fantastis itulah yang sekarang melekat di nama Michael Bambang Hartono. Menurut data terbaru, kekayaannya mencapai US$19,1 miliar. Sebuah angka yang kalau buat kita rakyat jelata, mau kerja lembur bagai kuda sampai tujuh turunan pun kayaknya masih jauh dari kata sampai.

Tapi, kalau kamu membayangkan sosok Michael Hartono ini seperti karakter di drama Korea yang pakai jas necis tiap hari, turun dari helikopter, dan hobi pamer jam tangan miliaran di Instagram, kamu salah besar. Michael Hartono adalah antitesis dari istilah "Crazy Rich" yang belakangan ini sering sliweran di media sosial. Dia adalah definisi nyata dari "Old Money" yang sebenarnya: makin kaya, makin nggak butuh pengakuan.

Djarum, BCA, dan Mesin Uang yang Nggak Ada Matinya

Membicarakan kekayaan Michael Hartono tentu nggak bisa lepas dari gurita bisnis Grup Djarum. Bersama adiknya, Robert Budi Hartono, mereka membangun imperium yang luar biasa solid. Awalnya memang dari kretek, tapi sekarang bisnis mereka sudah merambah ke mana-mana. Yang paling terasa di dompet kita semua tentu saja Bank BCA. Hampir semua orang di Indonesia punya kartu biru itu di dompetnya, kan? Nah, setiap kali kita bayar parkir pakai QRIS atau transfer antarbank, di situlah pundi-pundi kekayaan keluarga Hartono terus mengalir.

Nggak cuma rokok dan bank, mereka juga punya Polytron buat urusan elektronik, Sarana Menara Nusantara buat urusan infrastruktur telekomunikasi, sampai merambah ke dunia digital lewat Blibli dan Tiket.com. Ibaratnya, dari bangun tidur sampai tidur lagi, ada saja produk atau jasa milik mereka yang kita pakai. Itulah kenapa kekayaan Michael Hartono ini rasanya stabil banget di puncak klasemen orang terkaya di Indonesia selama bertahun-tahun. Strategi bisnisnya nggak kaleng-kaleng, mereka tahu kapan harus diversifikasi dan kapan harus menjaga tradisi.

Eyang Bridge yang Pernah Bikin Heboh Asian Games

Ada satu sisi unik dari Michael Hartono yang bikin dia beda dari pengusaha kelas kakap lainnya. Di usianya yang sudah senja, dia nggak cuma duduk manis di kursi komisaris sambil nunggu laporan keuangan. Dia punya hobi yang ditekuni dengan sangat serius: bermain Bridge. Ya, permainan kartu yang butuh otak encer dan strategi tingkat tinggi itu adalah "healing" ala beliau.

Ingat momen Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang? Publik sempat heboh saat tahu salah satu atlet tertua yang mewakili Indonesia adalah Michael Hartono sendiri. Bayangkan, seorang triliuner yang asetnya bisa buat beli satu kota kecil, malah asyik ikut kompetisi olahraga demi mengharumkan nama bangsa. Hasilnya pun nggak main-main, dia berhasil menyumbangkan medali perunggu untuk Indonesia. Baginya, Bridge itu melatih otak agar nggak cepat pikun dan tetap tajam dalam mengambil keputusan. Filosofi ini mungkin juga yang dia pakai saat harus mengelola puluhan anak perusahaan di bawah naungannya.

Gaya Hidup yang Terlalu Biasa untuk Orang Luar Biasa

Beberapa tahun lalu, sempat viral foto Michael Hartono lagi asyik makan Lentog Tanjung (makanan khas Kudus) di sebuah warung sederhana pinggir jalan. Fotonya jauh dari kesan mewah; cuma pakai kaos berkerah biasa, duduk di bangku kayu, dan makan dengan santai tanpa pengawalan ketat berjas hitam di sekelilingnya. Netizen langsung gempar. Banyak yang berkomentar, "Yang beneran kaya aja makannya di warung, yang saldo sejuta malah gayanya selangit."

Ini menarik sih, karena di zaman sekarang banyak orang yang rela ngutang demi terlihat kaya di media sosial. Sedangkan Michael Hartono, yang punya duit nyaris 300 triliun, malah merasa lebih nyaman dengan hal-hal yang otentik dan sederhana. Dia nggak butuh validasi dari netizen soal betapa kayanya dia. Baginya, kenyamanan itu bukan soal harga, tapi soal rasa dan ketenangan. Mungkin ini pelajaran penting buat kita semua: kekayaan sejati itu nggak perlu suara keras buat terdengar.

Pelajaran dari Angka 298 Triliun

Melihat angka US$19,1 miliar atau Rp298,38 triliun itu memang bikin pusing. Tapi kalau kita bedah lebih dalam, sosok Michael Hartono mengajarkan kita tentang etos kerja dan konsistensi. Bisnis yang dia kelola nggak jadi besar dalam semalam. Ada sejarah panjang, kegagalan, dan proses belajar yang luar biasa di sana. Dia membuktikan bahwa untuk tetap berada di puncak, seseorang harus tetap membumi dan punya gairah (passion) terhadap apa yang dikerjakannya, entah itu bisnis atau sekadar main kartu Bridge.

Kesimpulannya, Michael Hartono bukan cuma soal deretan angka di majalah Forbes. Dia adalah representasi dari kerja keras yang dibalut kesederhanaan. Dia adalah bukti kalau jadi orang paling tajir itu nggak harus berisik. Cukup diam, fokus pada apa yang dikerjakan, dan biarkan angka di rekening yang berbicara sendiri. Jadi, besok kalau kamu lagi makan di warteg dan melihat kakek-kakek berpakaian sederhana lagi asyik makan tanpa beban, coba perhatikan baik-baik. Siapa tahu itu salah satu orang terkaya di dunia yang lagi pengen jajan santai.

Akhir kata, buat kita-kita yang sekarang lagi berjuang mengumpulkan cuan, semangat ya! Siapa tahu suatu saat nanti kita bisa punya setitik saja dari ketenangan dan "pundi-pundi" seorang Michael Hartono. Minimal, kita bisa meniru gaya hidupnya yang sederhana dulu lah ya, kalau saldonya mah... ya didoakan saja terus.

Tags