Mengenal Low Tuck Kwong: Sang Raja Batubara yang Bikin Kita Merasa Miskin Berjamaah
Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 24 March 2026 | 01:00 PM


Pernah nggak sih kamu lagi bengong di depan ATM, terus pas cek saldo isinya cuma tinggal dua digit, itu pun setelah dikurangi biaya admin? Di saat kita lagi pusing mikirin cicilan paylater atau harga es kopi susu yang makin naik, ada satu sosok di negeri ini yang kekayaannya kalau dihitung pakai kalkulator biasa mungkin bakal muncul tulisan error. Sosok itu adalah Low Tuck Kwong.
Mari kita bicara angka dulu biar agak pusing sedikit. Per hari ini, kekayaan bersihnya mencapai US$20,3 miliar. Kalau dikonversi ke Rupiah dengan kurs saat ini, angkanya tembus sekitar Rp317,13 triliun. Ya, kamu nggak salah baca. Triliun, pakai huruf 'T'. Buat bayangan aja, kalau uang segitu dipake buat beli gorengan seribuan, mungkin seluruh pulau Jawa bakal ketutup sama bakwan dan tempe mendoan.
Siapa Sih Low Tuck Kwong?
Buat yang belum familiar, Low Tuck Kwong ini adalah bos besar sekaligus pendiri Bayan Resources, salah satu perusahaan tambang batubara raksasa di Indonesia. Meskipun namanya sangat lekat dengan ekonomi Indonesia, beliau sebenarnya lahir di Singapura. Namun, pada tahun 1992, ia memutuskan untuk menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Sebuah keputusan yang, kalau kita lihat sekarang, adalah langkah paling visioner yang pernah dilakukan seorang manusia.
Gaya hidupnya nggak kayak crazy rich yang sering pamer mobil mewah di media sosial atau bikin konten bagi-bagi uang di lampu merah. Low Tuck Kwong cenderung lebih low profile. Tapi ya gitu, meskipun orangnya nggak berisik, saldo rekeningnya teriak-teriak. Ia sering dijuluki sebagai "The Coal King" atau Raja Batubara. Dan julukan itu bukan cuma hiasan, karena memang dari "emas hitam" itulah pundi-pundi dolarnya terus mengalir deras.
Antara Batubara dan Kebun Binatang
Ada satu hal yang bikin sosok Low Tuck Kwong ini unik dan beda dari taipan kebanyakan. Biasanya, orang super kaya hobi koleksi jam tangan mahal atau jet pribadi. Tapi Pak Low punya minat yang agak nyeleneh tapi mulia: konservasi hewan. Beliau punya semacam fasilitas rehabilitasi satwa liar di Kalimantan Timur yang sering disebut sebagai kebun binatang pribadi, meskipun sebenarnya tujuannya lebih ke perlindungan hewan.
Bayangin, di tengah kesibukannya ngurusin ekspor batubara ke seluruh dunia, beliau masih sempat mikirin nasib orangutan dan beruang madu. Mungkin ini cara beliau buat "healing" dari penatnya dunia bisnis yang penuh persaingan. Ini juga jadi bukti kalau jadi kaya itu nggak harus melulu soal beli barang mewah, tapi juga soal gimana caranya memberi dampak ke lingkungan sekitar, meskipun bisnis utamanya sering dituding nggak ramah lingkungan oleh para aktivis.
Menyalip Duo Hartono: Drama Ranking Orang Terkaya
Beberapa waktu lalu, jagat berita ekonomi sempat heboh. Pasalnya, dominasi duo Hartono (pemilik Djarum dan BCA) yang sudah bertahun-tahun nggak tergoyahkan di posisi puncak orang terkaya di Indonesia, sempat disalip oleh Low Tuck Kwong. Ini tuh kayak nonton balapan F1, tiba-tiba ada mobil dari jalur lambat melesat kencang karena dapet turbo.
Turbo-nya apa? Ya, kenaikan harga batubara dunia. Pas harga komoditas lagi gila-gilaan, nilai saham Bayan Resources (BYAN) langsung terbang tinggi ke angkasa. Di sinilah letak seninya jadi pengusaha komoditas. Harus sabar pas harga anjlok, tapi harus siap jadi sultan dadakan pas harga naik. Low Tuck Kwong membuktikan kalau kesabaran dan fokus di satu bidang bisa membuahkan hasil yang bikin geleng-geleng kepala.
Kenapa Kita Harus Peduli?
Mungkin kamu bakal nanya, "Terus apa hubungannya kekayaan Rp317 triliun dia sama gue yang lagi nungguin promo diskon makanan?" Secara langsung mungkin nggak ada. Tapi secara makro, keberadaan orang-orang kayak Low Tuck Kwong ini adalah mesin penggerak ekonomi. Perusahaannya menyerap ribuan tenaga kerja, bayar pajak yang jumlahnya mungkin bisa buat bangun beberapa jembatan, dan berkontribusi besar pada devisa negara lewat ekspor.
Tapi di sisi lain, ini juga jadi pengingat buat kita tentang ketimpangan ekonomi yang makin nyata. Angka Rp317 triliun itu sangat besar untuk dikuasai satu individu. Ada perdebatan etis yang selalu muncul: apakah pantas kekayaan sebesar itu dikumpulkan dari pengerukan sumber daya alam? Well, itu adalah obrolan panjang yang nggak bakal selesai sambil ngopi di senja hari. Tapi yang jelas, Low Tuck Kwong menjalankan bisnisnya sesuai aturan yang ada di negeri ini.
Pelajaran Hidup dari Sang Raja
Kalau kita mau bedah sedikit, rahasia sukses Low Tuck Kwong bukan cuma soal batubara. Ini soal visi. Dia berani pindah kewarganegaraan, berani ambil risiko di industri tambang yang penuh ketidakpastian, dan konsisten di jalurnya. Dia nggak gampang terdistraksi buat bikin bisnis yang lagi tren cuma demi ikut-ikutan. Dia tahu di mana "kolamnya" dan dia fokus mancing di situ sampai dapat ikan paus.
Jadi, meskipun sekarang kita cuma bisa melongo ngeliat angka Rp317,13 triliun itu, seenggaknya kita dapet motivasi. Ya, motivasi buat minimal nggak telat bayar tagihan listrik bulan depan. Low Tuck Kwong sudah membuktikan kalau peluang di Indonesia itu besar banget bagi mereka yang mau kerja keras dan punya visi jangka panjang.
Akhir kata, kekayaan Low Tuck Kwong memang luar biasa, tapi di balik angka US$20,3 miliar itu, ada perjalanan panjang yang nggak instan. Jadi, buat kalian yang masih berjuang merintis karir atau bisnis, jangan patah semangat. Siapa tahu suatu saat nanti nama kalian masuk daftar Forbes, atau minimal saldo ATM-nya cukup buat beli seblak sepuasnya tanpa harus mikir dua kali.
Next News

Bahlil Nilai Batas BBM Subsidi 50 Liter per Hari Wajar, Singgung Pengalaman Jadi Sopir Angkot
13 days ago

Ramai Isu BBM Naik 1 April, Ini Penjelasan Terbaru dari Pusat
13 days ago

UTBK Is Coming: Checklist Amunisi Biar Nggak Panik di Hari-H
13 days ago

Punya 7.000 Triliun, Elon Musk Bisa Beli Apa Saja di Dunia Ini?
21 days ago

Otto Toto Sugiri: Kisah "Bill Gates Indonesia" yang Hartanya Bikin Geleng-Geleng Kepala
21 days ago

164 Triliun dan Kisah di Balik Senyum Tahir: Lebih dari Sekadar Angka di Rekening
21 days ago

Mengenal Michael Hartono: Triliuner yang Hobi Main Kartu dan Jajan di Pinggir Jalan
21 days ago

Seberapa Kaya Robert Budi Hartono? Intip Fakta Kekayaannya di Sini
21 days ago

Kaesang Pangarep: Dari Tukang Pisang, Raja Meme, Hingga Jadi Kapten Politik Dadakan
a month ago

Profil Bahlil Lahadalia: Mantan Loper Koran Kini Nakhoda Golkar
a month ago





