Selasa, 17 Maret 2026
Amandit FM
Hiburan

Mariah The Scientist: Dari Laboratorium Biologi Menuju Ratu Patah Hati R&B Modern

Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 17 March 2026 | 11:55 PM

Background
Mariah The Scientist: Dari Laboratorium Biologi Menuju Ratu Patah Hati R&B Modern
Mariah The Scientist (Billboard.com/Mariah The Scientist)

Kalau kita bicara soal nama panggung "The Scientist", mungkin yang terlintas di kepala adalah sosok kutu buku dengan jas putih yang sibuk mencampur bahan kimia di laboratorium. Tapi, begitu kalian menekan tombol play di Spotify dan mendengar vokal lembut yang penuh dengan nuansa melankolis, persepsi itu bakal langsung buyar. Perkenalkan, Mariah Buckles, atau yang lebih dikenal dunia sebagai Mariah The Scientist. Dia bukan sedang meneliti vaksin, melainkan sedang membedah perasaan manusia lewat lirik-lirik yang jujur, mentah, dan seringkali bikin kita yang mendengarnya merasa sedang "disidang" oleh kenangan mantan.

Lahir dan besar di Atlanta, kiblatnya musik hip-hop dan R&B modern, Mariah bukan tipe musisi yang dari kecil memang sudah bercita-cita jadi pop star. Sebaliknya, dia punya jalan hidup yang cukup plot twist. Dia sempat kuliah di St. John's University, New York, mengambil jurusan biologi. Bayangkan, dari serius belajar struktur sel dan anatomi, tiba-tiba dia banting setir jadi penyanyi yang lagunya diputar di kelab-kelab malam dan kamar-kamar anak muda yang lagi galau. Nama "The Scientist" itu bukan sekadar gaya-gayaan, itu adalah identitas aslinya yang tertinggal di ruang kelas sebelum akhirnya dia memutuskan bahwa takdirnya ada di balik mikrofon.

Transisi dari Mikroskop ke Mikrofon

Perjalanan karier Mariah ini sebenarnya cukup unik. Dia mulai menulis lagu sebagai cara untuk menuangkan emosi yang nggak bisa dia sampaikan secara langsung. Debutnya dimulai dengan proyek bertajuk Master pada tahun 2019. Album ini nggak butuh waktu lama buat mencuri perhatian, terutama setelah Tory Lanez—terlepas dari segala kontroversinya—menemukan bakatnya. Tapi jangan salah, Mariah bukan sekadar "produk" orbitan. Dia punya aura yang sangat mandiri. Di album Master, lagu seperti "Beetlejuice" langsung jadi anthem buat mereka yang terjebak dalam hubungan yang membingungkan. Liriknya tajam, produksinya minimalis tapi nendang, dan suaranya? Ah, suaranya itu punya jenis serak-serak basah yang bikin setiap kata terasa lebih personal.

Banyak kritikus musik bilang kalau Mariah The Scientist adalah bagian dari gelombang "Toxic R&B". Tapi menurut gue, istilah itu agak kurang adil kalau cuma dipakai buat melabeli karyanya. Memang sih, lagu-lagunya sering membahas soal hubungan yang nggak sehat, pengkhianatan, dan rasa sakit hati yang mendalam. Tapi bukankah itu realita? Mariah nggak mencoba memoles patah hati jadi sesuatu yang indah dan puitis banget sampai nggak masuk akal. Dia menyampaikannya apa adanya, seolah-olah dia lagi curhat di grup WhatsApp bareng sahabat-sahabatnya sambil nangis sesenggukan atau malah sambil marah-marah karena merasa dikhianati.

Sentimen "Sad Girl" yang Relatable Banget

Memasuki era RY RY WORLD, Mariah makin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu penulis lagu R&B paling jujur di generasinya. Kalau kalian dengerin lagu "2 You" atau "Always n Forever", ada semacam kerentanan yang jarang kita temukan di penyanyi pop mainstream yang biasanya terlalu fokus pada vokal yang meledak-ledak. Mariah nggak butuh teriak-teriak buat menunjukkan kalau dia lagi sedih. Teknik vokalnya yang santai, hampir seperti sedang berbisik, justru bikin emosinya lebih "nyampe" ke pendengar. Ini adalah jenis musik yang paling enak didengar jam 2 pagi waktu kita lagi sendirian di kamar, menatap langit-langit, dan mulai mikir, "Kok hidup gue gini banget ya?"

Salah satu alasan kenapa Mariah begitu disukai anak muda zaman sekarang adalah kemampuannya buat menggambarkan dinamika hubungan yang rumit. Dia nggak cuma berperan sebagai korban. Kadang dia mengakui kesalahannya sendiri, kadang dia merasa sangat posesif, dan kejujuran psikologis inilah yang bikin dia terasa sangat manusiawi. Di zaman di mana semua orang berusaha kelihatan sempurna di media sosial, kejujuran Mariah soal "kekacauan" hidupnya adalah sebuah napas segar.

Kisah Cinta di Balik Jeruji Besi

Nggak bisa dipungkiri, kehidupan pribadi Mariah juga jadi bumbu yang bikin namanya makin sering dibicarakan. Hubungannya dengan rapper Young Thug telah menjadi pusat perhatian publik, terutama sejak Young Thug harus berurusan dengan hukum. Mariah nggak cuma diam. Dia jadi sosok yang sangat vokal mendukung pasangannya, bahkan seringkali menyelipkan pesan-pesan dukungan di setiap penampilannya. Album terbarunya, To Be Eaten Alive, seolah jadi bukti evolusinya. Di sini, dia terdengar lebih berani, lebih dewasa, tapi tetap dengan DNA "Scientist" yang kita kenal.

Lagu-lagu di album terbaru ini menunjukkan kalau dia bukan lagi sekadar mahasiswa biologi yang iseng bikin lagu. Dia sudah jadi seniman yang matang. Dia tahu cara mengatur tempo, tahu kapan harus memberikan ruang bagi instrumen, dan tahu bagaimana caranya membuat pendengar merasa ikut merasakan apa yang dia rasakan. Pengaruh musik Atlanta yang kental dengan trap tetap ada, tapi dibungkus dengan estetika R&B yang elegan. Ini adalah perpaduan yang sangat pas buat kuping pendengar modern yang sudah bosan dengan lagu cinta yang itu-itu saja.

Kenapa Kita Harus Terus Memantau Mariah?

Dunia R&B sekarang memang lagi ramai banget dengan nama-nama besar seperti SZA, Summer Walker, atau Jhene Aiko. Tapi Mariah The Scientist punya ceruknya sendiri. Dia punya daya tarik sebagai seorang underdog yang perlahan tapi pasti merayap ke puncak. Dia membuktikan kalau lo nggak harus punya range vokal lima oktaf buat bisa menyentuh hati orang. Kadang, yang dibutuhin cuma keberanian buat menceritakan hal paling memalukan atau paling menyakitkan dari hidup lo dan mengubahnya jadi melodi yang indah.

Gue rasa, Mariah bakal terus bertahan lama di industri ini. Bukan cuma karena suaranya, tapi karena dia punya narasi. Dia adalah bukti kalau sains dan seni itu bisa hidup berdampingan. Dia mempelajari kehidupan lewat mikroskop, lalu menuliskannya lewat lirik. Jadi, buat kalian yang belum dengerin, coba deh buka platform streaming kalian. Siapkan tisu kalau perlu, atau minimal siapkan mental buat kembali teringat masa-masa sulit dalam hubungan kalian. Karena dengerin Mariah The Scientist itu seperti melakukan eksperimen kimia pada perasaan sendiri: kadang ada ledakan, seringkali ada perubahan wujud, tapi hasilnya selalu memberikan pemahaman baru tentang siapa diri kita sebenarnya.

Pada akhirnya, Mariah The Scientist bukan sekadar penyanyi. Dia adalah pengamat emosi yang handal. Di tengah dunia yang semakin bising, suara-suara jujur dan tenang seperti miliknya justru yang paling kita butuhkan untuk tetap waras dalam menghadapi drama-drama kehidupan yang nggak ada habisnya.

Tags