Sabtu, 4 April 2026
Amandit FM
Hiburan

Lebih dari Sekadar Sate: Membedah Sisi Spiritual dan Sosial di Balik Tradisi Kurban

Hafizah Fikriah Waskan - Sunday, 29 March 2026 | 12:00 PM

Background
Lebih dari Sekadar Sate: Membedah Sisi Spiritual dan Sosial di Balik Tradisi Kurban
Sisi Spiritual dan Sosial di Balik Tradisi Kurban (Pexels.com/Musa Tuğrul Karataş)

Setiap kali Iduladha tiba, pemandangan yang paling ikonik biasanya nggak jauh-jauh dari drama sapi yang lepas, kambing yang hobi manjat atap rumah warga, sampai bau prengus yang mendadak jadi aroma terapi di sekitar masjid. Tapi, jujur deh, kalau kita cuma melihat kurban sebagai ritual potong hewan lalu bakar sate bareng tetangga, kayaknya kita melewatkan sesuatu yang jauh lebih besar. Kurban itu ibarat "reset button" buat ego kita yang seringkali udah over-kapasitas.

Mari kita obrolin dulu dari sisi spiritualnya. Secara historis, kita semua tahu cerita Nabi Ibrahim dan Ismail. Tapi kalau ditarik ke konteks anak muda zaman sekarang, kurban itu sebenarnya adalah latihan mental untuk melepaskan apa yang paling kita cintai. Kalau zaman dulu ujiannya adalah anak kandung, zaman sekarang "anak kandung" kita mungkin adalah validasi sosial, uang di tabungan yang lagi dikumpulin buat beli gadget terbaru, atau gengsi. Menyisihkan beberapa juta buat beli seekor kambing itu bukan soal nominalnya, tapi soal keberanian kita bilang ke diri sendiri, "Eh, harta gue ini bukan punya gue sepenuhnya, lho."

Secara spiritual, kurban itu semacam detoksifikasi jiwa. Bayangin, setahun penuh kita sibuk ngejar target, pusing mikirin cicilan, atau mungkin terjebak dalam kompetisi yang bikin kita makin individualis. Kurban datang buat ngingetin kalau ada zat yang lebih besar dari segala ambisi kita. Ini adalah momen untuk menyembelih "sifat kebinatangan" dalam diri manusia—kayak rakus, merasa paling bener, atau mau menang sendiri. Jadi, pas pisau itu mengiris leher hewan kurban, idealnya ego kita juga ikut teriris di situ.

Pindah ke sisi yang lebih membumi, alias sisi sosial. Kurban itu adalah momen pemerataan gizi yang paling organik di Indonesia. Bayangin deh, di tengah gempuran harga pangan yang makin nggak ngotak, tiba-tiba ada satu hari di mana semua orang, tanpa memandang saldo ATM, bisa ngerasain nikmatnya makan daging sapi atau kambing. Bagi sebagian orang, mungkin makan daging itu hal biasa yang bisa dilakukan kapan saja di mall. Tapi bagi banyak saudara kita di pelosok atau di gang-gang sempit perkotaan, momen Iduladha adalah satu-satunya waktu dalam setahun mereka bisa masak rendang atau semur daging tanpa harus pusing mikirin dompet.

Nggak cuma soal urusan perut, ada fenomena "panitia kurban" yang menurut saya sangat menarik secara sosiologis. Di sinilah kita melihat bapak-bapak yang biasanya cuma ketemu pas salat jumat, tiba-tiba kompak banget narik tali sapi. Ada anak-anak muda yang biasanya sibuk main game, mendadak jadi lincah nimbang daging dan bungkusin ke plastik. Di situ ada obrolan, ada candaan, ada kopi hitam yang terus mengalir, dan secara nggak sadar, ikatan sosial yang sempat renggang karena kesibukan masing-masing jadi erat lagi. Ini adalah bentuk gotong royong yang paling nyata, tanpa perlu dikomandoi secara formal oleh pemerintah.

Namun, kita juga nggak bisa tutup mata kalau sekarang ada sedikit pergeseran budaya. Kadang, ada rasa "flexing" terselubung pas orang pamer sapi seberat satu ton di media sosial dengan caption religius. Ya, emang nggak dilarang sih, tapi jangan sampai esensi "berkorban"-nya hilang ditelan keinginan untuk dibilang sultan. Kurban itu kan intinya tentang kedekatan (qurban berasal dari kata qaraba yang artinya dekat), baik dekat dengan Tuhan maupun dekat dengan sesama manusia. Kalau cuma buat konten, rasanya sayang banget.

Satu hal lagi yang sering terlupakan adalah dampak ekonominya. Coba lihat berapa banyak peternak lokal di desa-desa yang terbantu banget tiap musim kurban. Ini adalah siklus ekonomi yang sehat, di mana uang dari orang kota mengalir deras ke para peternak di desa. Jadi, manfaatnya itu muter terus, dari peternak ke pembeli, dari pembeli ke panitia, dan berakhir di piring orang-orang yang membutuhkan. Sebuah ekosistem kebaikan yang sangat rapi.

Kesimpulannya, berkurban itu bukan cuma soal ritual keagamaan yang kaku. Di dalamnya ada napas empati yang sangat kental. Ia ngajarin kita buat nggak egois dan peduli sama lingkungan sekitar. Kurban adalah pengingat bahwa kebahagiaan itu bakal berlipat ganda kalau kita mau berbagi. Jadi, kalau nanti kamu dapet jatah daging kurban, atau kebetulan tahun ini jadi salah satu yang berkurban, ingatlah kalau di balik setiap bungkus daging itu, ada doa yang terselip, ada senyum yang merekah, dan ada jiwa yang sedang belajar untuk jadi lebih rendah hati.

Iduladha itu soal ketulusan. Karena pada akhirnya, Tuhan nggak butuh dagingnya, nggak butuh darahnya, tapi yang sampai ke sana adalah ketakwaan dan ketulusan niat kita. Dan bagi sesama manusia, yang sampai adalah rasa peduli yang bikin kita merasa nggak sendirian hidup di dunia yang makin keras ini. Selamat merayakan hari raya kurban, jangan lupa sate-nya dibagi-bagi ya!

Tags