Sabtu, 4 April 2026
Amandit FM
Hiburan

Kurban: Antara Kewajiban, Sunnah, atau Sekadar Gengsi Showroom Kambing?

Hafizah Fikriah Waskan - Sunday, 29 March 2026 | 11:00 AM

Background
Kurban: Antara Kewajiban, Sunnah, atau Sekadar Gengsi Showroom Kambing?
Ilustrasi Idul Adha (Freepik/Freepik)

Setiap kali Iduladha mendekat, pemandangan di pinggir jalan mendadak berubah. Trotoar yang biasanya sepi atau cuma diisi tukang gorengan, tiba-tiba bertransformasi jadi "showroom" hewan ternak. Bau prengus kambing mulai bersaing ketat dengan aroma polusi kota. Di sana, kita bakal melihat sapi-sapi bertubuh kekar yang harganya mungkin setara dengan motor sport keluaran terbaru, atau kambing-kambing yang lincah menanti pembeli.

Di tengah keriuhan itu, muncul satu pertanyaan klasik yang selalu mampir di grup WhatsApp keluarga atau tongkrongan: "Sebenarnya kurban itu wajib atau sunnah sih?" Masalahnya, bagi sebagian orang, kurban bukan cuma soal ibadah, tapi kadang sudah bergeser jadi tekanan sosial. Malu dong sama tetangga kalau tahun ini nggak naruh sapi di masjid, padahal kemarin baru saja pamer iPhone baru di Instagram Stories. Nah, supaya nggak gagal paham dan niatnya nggak cuma sekadar 'fomo' alias fear of missing out, yuk kita bedah bareng-bareng hukum kurban ini dengan kepala dingin.

Pertarungan Mazhab: Wajib atau Sunnah?

Dalam khazanah keislaman, menentukan hukum sebuah ibadah itu nggak kayak milih menu di aplikasi ojek online yang tinggal klik. Ada proses diskusi panjang di kalangan ulama. Secara garis besar, ada dua kubu besar yang sering kita dengar dalam perkara kurban ini.

Pertama, ada pandangan dari Imam Hanafi. Kalau kamu tinggal di Turki atau beberapa wilayah di Asia Tengah, pendapat ini sangat populer. Bagi pengikut Mazhab Hanafi, kurban itu hukumnya wajib bagi muslim yang mampu, merdeka, dan tidak sedang dalam perjalanan (mukim). Logikanya simpel: kalau kamu punya harta lebih yang mencapai nishab (batas minimal kekayaan), maka nggak ada alasan buat absen kurban. Ini kayak 'pajak' rasa syukur yang memang harus dikeluarkan. Kalau mampu tapi nggak kurban, hitungannya bisa jadi dosa.

Nah, kubu kedua dihuni oleh mayoritas ulama (Jumhur Ulama), termasuk Imam Syafi'i yang mazhabnya paling banyak diikuti netizen Indonesia. Menurut mereka, hukum kurban itu adalah Sunnah Muakkadah. Apa itu? Itu adalah ibadah sunnah yang sangat, sangat, sangat dianjurkan. Ibaratnya, ini adalah ibadah "level pro" yang hampir mendekati wajib, tapi kalau benar-benar tidak dilakukan karena satu dan lain hal, pelakunya tidak dianggap berdosa.

Imam Syafi'i punya alasan kuat. Dulu, sahabat Nabi seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab kabarnya pernah sengaja nggak berkurban setahun sekali. Kenapa? Bukan karena mereka pelit, tapi karena mereka ingin mengedukasi masyarakat saat itu bahwa kurban itu nggak wajib. Mereka takut orang-orang bakal menganggap kurban itu setara dengan shalat lima waktu yang kalau ditinggalkan langsung 'merah' catatannya.

Kapan Sunnah Berubah Jadi "Beban" Moral?

Di Indonesia, secara hukum fiqih kita memang mayoritas ikut Syafi'i (Sunnah Muakkadah). Tapi secara sosiologis, kurban itu rasanya sudah kayak wajib. Ada perasaan nggak enak hati kalau di hari H kita cuma jadi penonton pas tetangga sebelah sibuk nganterin sapi limosin seberat satu ton ke masjid.

Tapi, kita perlu jeli melihat definisi "mampu" di sini. Kadang kita lebih mampu beli tiket konser artis K-Pop atau gonta-ganti gadget daripada nabung buat beli kambing. Di sinilah letak sentilannya. Kurban itu ujian keikhlasan, bukan ajang pamer gede-gedean hewan. Kalau kita bisa beli kopi kekinian setiap hari yang total sebulannya bisa buat beli satu ekor kambing kelas reguler, rasanya agak kurang etis kalau kita bilang "nggak mampu" pas ditanya soal kurban.

Bukan Sekadar Barter Daging dengan Pahala

Mari kita lupakan sejenak debat teknis soal wajib atau sunnah. Kalau kita tarik ke belakang, sejarah kurban ini kan soal Nabi Ibrahim AS yang diminta mengorbankan anaknya, Ismail AS. Ini soal loyalitas tingkat dewa. Pesan moralnya: apa sih yang paling kita sayang di dunia ini? Harta? Jabatan? Ego?

Kurban itu simbol menyembelih sifat-sifat "kebinatangan" dalam diri kita. Sifat rakus, mau menang sendiri, atau rasa sombong. Makanya, sangat lucu kalau ada orang kurban sapi paling mahal tapi tujuannya cuma supaya namanya disebut paling keras sama panitia masjid atau biar masuk konten YouTube dengan judul "Grebek Sapi Sultan".

Ingat, Tuhan itu nggak butuh dagingnya, nggak butuh darahnya. Yang sampai ke sana itu cuma ketakwaan kita. Jadi, mau kamu ikut mazhab yang bilang wajib atau sunnah, esensinya tetap sama: berbagi. Di luar sana, banyak lho saudara kita yang mungkin cuma bisa makan daging setahun sekali, ya pas momen Iduladha ini. Di saat itulah, kurban kita—sekecil apa pun—jadi sangat berarti buat mereka.

Kesimpulannya: Gaspol atau Santai Saja?

Jadi, gimana kesimpulannya? Kalau kamu punya uang sisa yang nggak bikin kamu ngutang ke pinjol buat kebutuhan pokok, ya sudah, gaspol kurban saja. Jangan terlalu banyak mikir "ah kan cuma sunnah". Ibadah itu kalau bisa dilakukan, kenapa harus cari alasan buat ditinggalkan?

Tapi bagi kamu yang memang kondisi ekonominya lagi boncos, atau lagi banyak cicilan darurat yang mengancam napas dapur, nggak perlu berkecil hati apalagi sampai memaksakan diri di luar batas. Islam itu agama yang memudahkan, bukan agama yang bikin pemeluknya depresi karena nggak bisa beli sapi.

Akhir kata, kurban itu soal hati. Mau wajib atau sunnah, yang paling penting adalah gimana kita menata niat. Jangan sampai niat ibadah malah tergerus oleh keinginan untuk dibilang dermawan oleh manusia. Selamat memilih hewan kurban, jangan lupa cek kesehatannya, dan pastikan transaksinya berkah. Sampai jumpa di antrean sate kurban nanti!

Tags