Selamat Datang di Dunia Geese, Band Brooklyn yang Bikin Post-Punk Jadi Nggak Ngebosenin Lagi
Hafizah Fikriah Waskan - Wednesday, 18 March 2026 | 03:00 AM


Pernah nggak sih kamu merasa kalau skena indie rock belakangan ini isinya cuma pengulangan yang itu-itu saja? Kalau nggak sound ala-ala jangle pop yang manis, paling ya post-punk suram yang vokalisnya nyanyi kayak orang lagi kumur-kumur tanpa emosi. Jujur saja, kadang kita butuh sesuatu yang lebih "berantakan" tapi sekaligus jenius. Nah, di sinilah Geese masuk ke dalam radar. Band asal Brooklyn, New York ini bukan sekadar gerombolan anak muda yang bisa main gitar, mereka adalah definisi dari "chaos yang terorganisir" dengan bumbu kepercayaan diri yang nyaris melewati batas sombong, tapi ya memang mereka sejago itu.
Dari Basement Sekolah Langsung ke Panggung Dunia
Kisah Geese ini sebenarnya agak bikin iri kalau dipikir-pikir. Bayangkan saja, Cameron Winter (vokal), Max Rice (gitar), Dominic DiGesu (bass), dan Tripp Bourne (drum) memulai band ini saat mereka masih duduk di bangku SMA. Alih-alih sibuk mikirin ujian atau prom night yang klise, mereka malah mengurung diri di basement yang mereka sebut sebagai "The Nest". Di sana, mereka bereksperimen dengan segala macam pedal efek dan struktur lagu yang nggak lazim.
Lucunya, mereka sempat berencana bubar setelah lulus sekolah karena masing-masing mau lanjut kuliah di kota yang berbeda. Tapi ya, nasib berkata lain. Label rekaman besar mulai mencium bau-bau talenta langka dari rekaman demo mereka. Sebelum sempat packing baju buat pindah kosan di kampus, mereka sudah ditawari kontrak rekaman. Akhirnya, debut album mereka yang berjudul Projector rilis di tahun 2021 dan langsung bikin kritikus musik di seluruh dunia garuk-garuk kepala sekaligus kagum. Gimana bisa anak-anak umur 18-19 tahun bikin musik serumit dan sekeren itu?
Evolusi yang Nggak Masuk Akal: Dari Post-Punk ke Cowpunk Nyeleneh
Kalau di album Projector kita masih bisa mendengar pengaruh kuat dari band-band seperti The Strokes, Television, atau bahkan sedikit sentuhan Radiohead era In Rainbows, maka di album kedua mereka, 3D Country (2023), Geese memutuskan untuk membakar semua ekspektasi orang. Mereka kayak bilang, "Oke, kalian suka gaya post-punk kami? Sekarang cobain nih musik koboi yang dicampur prog-rock dan gospel."
Perubahan ini drastis banget, tapi justru di situlah letak keajaibannya. Geese nggak mau terjebak di zona nyaman. Di lagu "Cowboy Nudes", misalnya, mereka menggabungkan riff gitar yang funky dengan gaya vokal Cameron Winter yang semakin eksplosif. Cameron ini punya range vokal yang ajaib; dia bisa terdengar sangat berat dan rendah, lalu tiba-tiba melengking tinggi kayak orang kesurupan tapi tetap merdu. Gaya nyanyinya yang teatrikal ini bikin Geese punya karakter yang sangat kuat dibandingkan band-band indie seangkatan mereka.
Mendengarkan 3D Country itu rasanya kayak naik roller coaster di taman bermain yang hampir roboh. Menakutkan, memacu adrenalin, tapi bikin ketagihan. Mereka memasukkan elemen blues, country, hingga rock n roll klasik tahun 70-an, lalu memutarnya dalam mesin penghancur hingga menjadi sesuatu yang sangat modern dan segar. Ini bukan musik yang enak didengar sambil tidur siang, ini musik yang menuntut perhatian penuh dari telingamu.
Kenapa Kamu Harus Peduli Sama Mereka?
Mungkin ada yang nanya, "Ya terus kenapa kalau mereka jago? Band jago kan banyak." Masalahnya, Geese punya satu hal yang jarang dimiliki band baru: karakter yang nggak bisa ditebak. Di saat banyak band berusaha keras untuk terlihat "estetik" di Instagram atau TikTok dengan gaya yang terlalu rapi, Geese justru tampil apa adanya dengan energi yang meledak-ledak. Mereka nggak malu terlihat aneh atau membawakan lagu yang durasinya panjang dengan struktur yang ribet.
Selain itu, lirik-lirik yang ditulis Cameron Winter juga nggak kalah menarik. Alih-alih menulis lagu cinta picisan yang bikin mual, dia lebih sering menulis tentang kegelisahan generasi muda, absurditas hidup, hingga gambaran-gambaran surealis yang kadang butuh waktu buat dicerna. Ada semacam humor gelap yang terselip di balik aransemen musik mereka yang megah.
Sebagai pendengar, kita bisa merasakan kalau mereka benar-benar bersenang-senang. Mereka nggak peduli dengan tren "sad boy" atau musik lo-fi yang lagi menjamur. Mereka cuma ingin main musik yang mereka suka, seberisik mungkin, dan sekeren mungkin. Dan jujur saja, sikap "bodo amat" itulah yang bikin mereka terasa sangat autentik di tengah industri yang makin teratur dan terprediksi.
Masa Depan yang Terang (dan Berisik)
Melihat rekam jejak mereka sejauh ini, rasanya nggak berlebihan kalau kita menyebut Geese sebagai salah satu penyelamat rock n roll di era modern. Mereka membuktikan kalau instrumen gitar, drum, dan bass belum mati. Hanya saja, cara memainkannya yang butuh sedikit inovasi dan keberanian untuk tampil beda. Geese punya modal itu semua.
Buat kamu yang belum pernah dengar, coba deh sisihkan waktu 40 menit buat dengerin album 3D Country dari awal sampai habis. Siapkan mental karena kupingmu bakal dihajar dengan berbagai jenis suara yang mungkin belum pernah kamu bayangkan sebelumnya. Geese bukan sekadar band, mereka adalah bukti kalau menjadi anak muda yang kreatif itu nggak harus selalu mengikuti arus. Kadang, kamu cuma perlu bikin arusmu sendiri, meskipun arusnya deras dan penuh dengan bebunyian aneh.
Jadi, apakah Geese bakal jadi band besar selevel Arctic Monkeys atau Radiohead suatu saat nanti? Siapa yang tahu. Tapi satu yang pasti, mereka adalah salah satu band paling menarik yang muncul dalam satu dekade terakhir. Jangan sampai kamu telat masuk ke gerbong penggemar mereka, mumpung mereka masih muda dan masih "gila". Karena biasanya, band-band kayak gini yang bakal diingat sejarah sebagai pionir, bukan sekadar follower.
Next News

Menghirup Debu Seattle: Mengapa Alice In Chains Tetap Jadi Band Paling 'Kelam' yang Selalu Dicintai
in 7 hours

Nirvana: Lebih Dari Sekadar Kaos Ikonik yang Mejeng di Rak Toko Baju
in 7 hours

Mengenal Max McNown: Si Anak Senja dari Oregon yang Bikin Musik Country Jadi 'Cool' Lagi
in 6 hours

Ed Sheeran: Mas-Mas Biasa yang Menaklukkan Dunia dengan Gitar dan Loop Pedal
in 5 hours

Mengenal Gracie Abrams: Ratu Galau Baru yang Bukan Sekadar Embel-embel Nama Besar
in 3 hours

Siapa Sih Tucker Wetmore? Kenalan Sama "Sad Boy" Baru di Kancah Country yang Lagi Viral
in 2 hours

NBA YoungBoy: Antara Produktivitas Gila, Drama Hukum, dan Kultus Penggemar Paling Militan
in 34 minutes

Mariah The Scientist: Dari Laboratorium Biologi Menuju Ratu Patah Hati R&B Modern
in 29 minutes

Mac Miller: Sahabat yang Kita Temukan dalam Alunan Musik
26 minutes ago

Chris Stapleton: Si Brewok Kalem yang Bikin Musik Country Nggak Lagi Terasa "Ndeso"
an hour ago





