Rabu, 18 Maret 2026
Amandit FM
Hiburan

Menjelajahi Semesta Djo: Bukan Cuma Mas-Mas Rambut Badai dari Stranger Things

Hafizah Fikriah Waskan - Wednesday, 18 March 2026 | 08:00 PM

Background
Menjelajahi Semesta Djo: Bukan Cuma Mas-Mas Rambut Badai dari Stranger Things
Djo (Billboard.com/Djo)

Pernah nggak sih lo lagi asik scrolling TikTok atau Reels, terus tiba-tiba kuping lo nangkep potongan lirik "And when I'm back in Chicago, I feel it..."? Kalau iya, selamat, lo sudah terpapar virus nostalgia yang disebarkan oleh Joe Keery, atau yang secara musikal lebih akrab disapa dengan nama panggung Djo. Awalnya mungkin banyak yang mengira ini cuma sekadar hobi sampingan aktor Hollywood yang lagi bosen nunggu giliran syuting. Tapi jujurly, setelah didengerin lebih dalam, proyek musik Djo ini jauh dari kata main-main.

Bagi sebagian besar orang, Joe Keery adalah Steve Harrington. Si cowok populer di SMA Hawkins yang punya rambut legendaris dan insting mengasuh anak yang luar biasa di serial Stranger Things. Tapi bagi para penikmat musik indie-psychedelic, Joe adalah entitas yang berbeda. Djo adalah pelarian kreatif yang sangat cerdas, sebuah proyek yang membuktikan kalau dia punya lebih banyak hal untuk ditawarkan daripada sekadar visual tampan dan akting yang solid.

Transformasi dari Post Animal ke Solo Karier

Sebelum kita bahas lebih jauh soal album-albumnya, perlu diingat kalau Joe ini bukan anak baru di dunia musik. Dia dulunya adalah anggota band indie rock asal Chicago bernama Post Animal. Di sana dia main gitar dan juga sempat mengisi vokal. Namun, seiring dengan kesuksesan Stranger Things yang makin meledak, Joe sadar kalau kehadirannya di band malah bikin fokus orang teralihkan. Dia nggak mau bandnya cuma dikenal karena "ada aktor terkenal di dalamnya." Akhirnya, dia memilih jalan ninja sebagai artis solo dengan nama Djo.

Keputusan menggunakan nama samaran ini juga sebenarnya cukup jenius. Joe seolah ingin memisahkan persona publiknya sebagai aktor dengan identitasnya sebagai musisi. Di awal karier solonya, dia bahkan sering tampil dengan wig aneh, kumis tebal, dan kacamata besar yang bikin wajah aslinya susah dikenali. Tujuannya jelas: dia mau orang dengerin musiknya karena emang enak, bukan karena mereka naksir sama Steve Harrington.

Vibe Retro yang Gak Pasaran

Musik Djo itu ibarat lo masuk ke toko kaset tua di tahun 80-an, tapi lo bawa peralatan dari masa depan. Musiknya penuh dengan nuansa synthesizer yang tebal, bassline yang groovy banget, dan vokal yang kadang dibalut efek reverb biar kerasa makin trippy. Kalau lo suka band-band kayak Tame Impala, MGMT, atau Pond, kemungkinan besar Djo bakal langsung masuk ke playlist favorit lo.

Album pertamanya, Twenty Twenty, yang rilis tahun 2019, adalah perkenalan yang manis. Lagu-lagu kayak "Roddy" dan "Chateau (Feel Alright)" punya nuansa yang santai tapi tetap bikin kepala manggut-manggut. Musiknya kerasa organik tapi tetap punya sentuhan futuristik yang unik. Di sini kita mulai sadar kalau Joe punya selera musik yang cukup "berkelas" dan nggak sekadar ngikutin tren pop pasaran.

Lalu masuk ke tahun 2022, Djo merilis album DECIDE. Nah, di sinilah letak titik balik keberhasilannya. Album ini kerasa lebih matang, lebih eksperimental, dan lebih berani. Joe makin eksploratif dengan suara-suara elektronik yang kompleks. Dan tentu saja, ada lagu "End of Beginning" yang mendadak viral itu. Lagu itu sebenarnya bercerita tentang masa-masa Joe di Chicago sebelum dia jadi terkenal, sebuah surat cinta untuk masa lalu yang sudah terlewati. Vibes nostalgianya dapet banget, sampai-sampai semua orang di internet ngerasa punya kenangan di Chicago padahal mungkin ke luar kota aja jarang.

Kenapa Djo Begitu Disukai?

Menurut opini receh gue, alasan kenapa Djo bisa diterima banget sama anak muda sekarang adalah karena dia terasa tulus. Dia nggak jualan "keaktorannya." Dia nggak naruh mukanya yang ganteng itu di cover album. Dia benar-benar fokus pada produksi audio yang berkualitas. Selain itu, lirik-lirik yang dia tulis seringkali relate dengan keresahan generasi sekarang—soal perubahan hidup, rasa cemas akan masa depan, dan kerinduan pada masa lalu.

Selain itu, gaya panggungnya yang nyentrik juga jadi nilai tambah. Melihat Djo di atas panggung itu kayak melihat profesor musik yang lagi melakukan eksperimen gila di laboratorium. Dia nggak jaim, dia bisa jadi aneh, dan itu justru yang bikin dia keren. Di tengah industri musik yang seringkali terlalu terobsesi dengan citra sempurna, Djo muncul dengan segala keanehannya yang autentik.

Lebih dari Sekadar Tren TikTok

Mungkin banyak orang baru tahu Djo lewat potongan lagu 15 detik di medsos. Tapi kalau lo mau meluangkan waktu buat dengerin satu album penuh, lo bakal nemuin pengalaman audio yang seru banget. Djo itu tipe musisi yang bikin kita mikir, "Wah, ternyata ini orang jenius juga ya." Dia berhasil mematahkan stigma kalau aktor yang nyanyi itu biasanya cuma "aji mumpung."

Ke depannya, gue rasa Djo bakal terus berevolusi. Dia bukan tipe artis yang bakal stuck di satu genre aja. Dengan selera musiknya yang luas dan kemampuan teknis yang makin terasah, album-album berikutnya pasti bakal makin gila lagi. Jadi, buat lo yang selama ini cuma tahu Steve Harrington gara-gara dia jago gebuk Demogorgon pakai tongkat baseball, coba deh buka Spotify dan cari Djo. Siap-siap aja telinga lo bakal dimanjain sama sound-sound ajaib yang bikin lo ngerasa lagi melayang di luar angkasa.

Kesimpulannya, Djo adalah bukti kalau talenta itu nggak bisa dibatasi oleh satu bidang saja. Joe Keery sukses menciptakan semesta musiknya sendiri yang mandiri, jauh dari bayang-bayang kesuksesan aktingnya. Dan sejujurnya, dunia musik indie butuh lebih banyak musisi yang punya dedikasi kayak dia—yang berani tampil beda, nggak takut kelihatan aneh, dan yang paling penting, selalu mengedepankan kualitas karya di atas segalanya. Jadi, sudah dengerin Djo hari ini?

Tags