Selasa, 17 Maret 2026
Amandit FM
Hiburan

Drake: Rapper, Raja Meme, atau Sekadar Sad Boy Abadi yang Kita Cintai?

Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 17 March 2026 | 11:00 AM

Background
Drake: Rapper, Raja Meme, atau Sekadar Sad Boy Abadi yang Kita Cintai?
Drake (Billboard.com/Drake)

Kalau kita bicara soal industri musik global dalam satu dekade terakhir, mustahil kalau nama Aubrey Drake Graham nggak muncul di barisan paling depan. Pria asal Toronto, Kanada ini bukan cuma sekadar musisi; dia itu fenomena budaya. Mau kalian suka atau benci, Drake itu ada di mana-mana. Di playlist Spotify kalian, di caption Instagram mbak-mbak senja, sampai di meme-meme absurd yang lewat di beranda Twitter (atau X) setiap harinya. Tapi pertanyaannya, siapa sih sebenarnya Drake ini di balik semua gemerlap berlian dan jet pribadinya?

Drake memulai segalanya bukan dari kerasnya jalanan seperti rapper-rapper Amerika pada umumnya. Dia nggak jualan obat di sudut gang. Sebaliknya, Drake memulai karier sebagai Jimmy Brooks, karakter penyandang disabilitas di serial remaja Kanada populer, Degrassi: The Next Generation. Bayangkan, seorang bintang sinetron remaja tiba-tiba ingin jadi rapper. Waktu itu, banyak yang meragukannya. "Masa iya anak manis dari televisi bisa masuk ke skena hip-hop yang keras?" begitu kira-kira cibiran orang-orang saat itu.

Namun, Drake punya senjata rahasia: kerentanan. Saat rapper lain sibuk pamer senjata dan kekerasan, Drake justru sibuk curhat soal mantan, perasaan kesepian di tengah popularitas, dan betapa dia sayang sama ibunya. Lewat mixtape "So Far Gone" yang rilis tahun 2009, dia resmi mengubah peta permainan musik dunia. Dia menggabungkan melodi R&B yang lembut dengan lirik rap yang tajam. Hasilnya? Sebuah genre baru yang sering disebut orang sebagai "soft rap" atau "sad boy rap".

Transformasi Menjadi "The 6 God"

Seiring berjalannya waktu, Drake nggak cuma diam di zona nyaman. Dia bertransformasi dari anak manis Degrassi menjadi "The 6 God" (julukan untuk Toronto). Kejeniusan Drake terletak pada kemampuannya menyerap tren. Kalau lagi tren musik Afrobeat, dia bikin lagu kayak "One Dance". Kalau lagi tren Drill, dia mendadak jadi anak London lewat "War". Fleksibilitas ini sering kali membuat kritikus menyebutnya sebagai "cultural vulture" atau pemulung budaya. Tapi jujur saja, siapa yang peduli kalau lagunya enak buat joget di kelab malam?

Gaya bicaranya yang menggunakan campuran aksen dari berbagai belahan dunia sering jadi bahan bercandaan. Kadang dia terdengar seperti orang Jamaika, kadang seperti anak jalanan London, padahal dia ya orang Kanada tulen. Tapi itulah Drake. Dia adalah kurator tren yang ulung. Dia tahu apa yang bakal viral sebelum hal itu benar-benar viral.

Drake dan Kekuatan Meme

Satu hal yang bikin Drake tetap relevan meski sudah belasan tahun berkarier adalah kemampuannya menjadi bahan meme yang "marketable". Coba ingat video klip "Hotline Bling". Tarian kaku ala bapak-bapak di pesta kawinan itu sebenarnya aneh, tapi justru karena anehnya itulah dia jadi viral di seluruh dunia. Drake seolah-olah punya insting: "Gue bakal lakuin hal konyol ini, dan kalian bakal bikin meme-nya."

Dia adalah raja dari segala "Instagrammable lyrics". Kalau kalian lagi galau setelah putus cinta dan butuh caption foto yang kelihatan deep tapi tetap keren, Drake adalah sumber utamanya. Dia bisa merangkum perasaan "kangen mantan tapi gengsi" hanya dalam satu baris lirik. Hal-hal receh seperti ini yang membuatnya terasa dekat dengan pendengar, seolah-olah dia adalah teman tongkrongan kita yang paling kaya tapi tetap sering curhat soal asmara.

Drama, Beef, dan Kendrick Lamar

Dunia hip-hop nggak lengkap tanpa bumbu perselisihan atau "beef". Drake punya sejarah panjang soal ini. Mulai dari konfliknya dengan Chris Brown soal Rihanna, perang lirik dengan Meek Mill yang berakhir dengan kemenangan telak Drake, sampai yang paling personal: perseteruan dengan Pusha T yang membongkar rahasia bahwa Drake punya anak tersembunyi bernama Adonis.

Tapi, tahun 2024 ini menjadi ujian terberatnya saat dia harus berhadapan dengan Kendrick Lamar. "Civil War" di dunia musik ini benar-benar menyita perhatian publik. Kendrick menyerang Drake dengan narasi bahwa Drake bukanlah rapper sejati, melainkan hanya mesin industri yang haus validasi. Sementara itu, Drake membalas dengan gaya khasnya yang penuh sindiran halus. Meskipun banyak yang menganggap Drake "kalah telak" dalam perseteruan ini secara kualitas lirik, secara angka dan popularitas, Drake tetaplah raksasa yang sulit ditumbangkan.

Kenapa Kita Masih Mendengarkan Drake?

Lantas, apa yang membuat Drake begitu awet di puncak? Jawabannya mungkin sederhana: dia adalah cerminan dari ego kita masing-masing. Di satu sisi, kita ingin terlihat sukses, tangguh, dan tidak tersentuh. Di sisi lain, kita sering merasa rapuh, kangen mantan di jam tiga pagi, dan merasa tidak ada yang mengerti perasaan kita.

Drake mampu merangkul kedua sisi itu dengan sangat baik. Dia bisa membuat lagu "God's Plan" yang bikin kita merasa diberkati, tapi dia juga punya "Marvins Room" untuk kita yang lagi mabuk dan pengen telepon mantan. Dia adalah definisi dari "Certified Lover Boy" yang kadang narsis, kadang manipulatif, tapi selalu menarik untuk diikuti ceritanya.

  • Fleksibilitas: Mampu masuk ke genre mana pun tanpa terlihat terlalu dipaksakan.
  • Relatabilitas: Lirik-liriknya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari anak muda urban.
  • Insting Bisnis: Dia tahu kapan harus merilis lagu yang bakal jadi hits di TikTok.
  • Karakter yang Ikonik: Dari gaya berpakaian sampai cara dia memegang mic, semuanya sudah jadi brand.

Pada akhirnya, Drake adalah sosok yang kita butuhkan di industri hiburan yang sering kali terlalu serius. Dia memberikan kita hiburan, drama, dan lagu-lagu yang menemani perjalanan pulang kantor saat macet melanda Jakarta. Jadi, siapa Drake? Dia adalah bukti bahwa seorang "sad boy" dari Kanada bisa menguasai dunia hanya dengan bermodalkan curhatan dan ketukan musik yang pas. Dan sepertinya, era Drake belum akan berakhir dalam waktu dekat.

Tags