Jumat, 13 Maret 2026
Amandit FM
Hiburan

Mengenal Charlie Puth: Musisi dengan Kemampuan Perfect Pitch

Hafizah Fikriah Waskan - Friday, 13 March 2026 | 08:00 PM

Background
Mengenal Charlie Puth: Musisi dengan Kemampuan Perfect Pitch
Charlie Puth (Instagram/Charlie Puth)

Siapa Sih Charlie Puth? Mas-Mas Jenius yang Bisa Mengubah Bunyi Panci Jadi Lagu Hits

Pernah nggak sih kamu lagi asyik scroll TikTok atau Instagram Reels, terus lewat video seorang cowok berkaos oblong, rambut agak berantakan, lagi asyik ngetuk-ngetuk gelas atau dengerin suara alarm pintu, terus tiba-tiba bilang, "Ini nada B-flat!"? Nah, kalau kamu pernah lihat pemandangan itu, selamat, kamu baru saja menyaksikan "keajaiban" dari seorang Charlie Puth. Di industri musik global yang penuh dengan penyanyi hasil polesan studio, Charlie Puth muncul sebagai sosok yang beda. Dia bukan cuma sekadar penyanyi ganteng dengan suara falsetto yang bikin meleleh, tapi dia adalah definisi nyata dari seorang music geek yang berhasil menaklukkan dunia.

Bakat "Sakti" Sejak Lahir

Mari kita mulai dari hal yang paling bikin orang geleng-geleng kepala: Perfect Pitch. Buat yang belum tahu, ini adalah kemampuan langka di mana seseorang bisa mengenali atau memproduksi nada musik secara instan tanpa perlu nada referensi. Bayangkan, kalau Charlie denger suara klakson mobil di jalan, di otaknya langsung muncul notasi musiknya. Katanya sih, bakat sakti ini udah dia punya sejak kecil. Tapi jangan salah, bakat doang nggak cukup. Charlie itu lulusan berklee College of Music, salah satu kampus musik paling prestisius di dunia. Jadi, dia nggak cuma modal insting, tapi emang punya dasar teori musik yang selevel profesor. Dia tahu persis kenapa sebuah lagu bisa enak didengar dan kenapa progresi chord tertentu bisa bikin kita galau brutal.

Lucunya, meskipun sekarang jadi superstar, awal karier Charlie itu justru bermula dari kamar tidurnya. Dia adalah produk asli generasi YouTube. Dulu, dia rajin banget unggah video cover lagu atau video komedi receh di kanal "Charlies Vlogs". Siapa sangka, berawal dari iseng-iseng di depan kamera, jalannya menuju industri musik profesional terbuka lebar lewat ajang pencarian bakat di acara Ellen DeGeneres.

Gebrakan "See You Again" yang Mengubah Segalanya

Kalau kita ngomongin Charlie Puth, dosa besar kalau nggak bahas lagu "See You Again". Lagu ini bukan cuma sekadar soundtrack film Furious 7, tapi sudah jadi lagu wajib di setiap acara perpisahan atau tribute untuk orang-orang tersayang. Kerja samanya dengan Wiz Khalifa ini bener-bener meledak. Lagu itu nggak cuma bertengger berminggu-minggu di puncak tangga lagu Billboard, tapi juga bikin nama Charlie Puth yang tadinya cuma dikenal anak-anak YouTube, langsung jadi konsumsi publik dunia.

Tapi, ada satu hal menarik di sini. Di awal kemunculannya, banyak yang mengira Charlie cuma bakal jadi one-hit wonder. Apalagi album pertamanya, Nine Track Mind, dibilang banyak kritikus terlalu "manis" dan main aman banget ala pop standar. Tapi Charlie bukan tipe orang yang gampang menyerah. Dia justru membuktikan lewat album keduanya, Voicenotes, kalau dia punya musikalitas yang jauh lebih dalam. Di album itu, dia mulai masukin unsur funk, R&B, dan synth-pop tahun 80-an yang bikin musiknya terasa lebih berkelas tapi tetap enak buat jogja ringan. Jujur aja, menurut gue, lagu "Attention" itu adalah salah satu lagu pop dengan garis bass paling ikonik di dekade ini.

Raja Konten Musik di Media Sosial

Apa yang membuat Charlie Puth tetap relevan di mata anak muda zaman sekarang? Jawabannya adalah kejujuran dan transparansinya dalam berkarya. Di saat artis lain mungkin jaim atau cuma mau pamer hasil jadinya aja, Charlie justru ngajak kita masuk ke "dapur"nya. Lewat TikTok, dia sering banget kasih lihat proses bikin lagu. Dia nunjukin gimana suara detak jantung atau suara gesekan kursi bisa diolah jadi beat yang asyik. Gaya berceritanya yang antusias, kadang agak nerdy, dan ekspresif banget bikin orang ngerasa dekat sama dia.

Kita lihat aja kolaborasinya sama Jungkook BTS di lagu "Left and Right". Itu bukan cuma soal menggabungkan dua fanbase raksasa, tapi soal bagaimana Charlie mengeksplorasi audio spasial yang bikin pendengarnya ngerasa suaranya pindah-pindah dari telinga kiri ke kanan. Receh sih idenya, tapi eksekusinya jenius. Dia tahu gimana caranya bikin musik jadi sebuah pengalaman, bukan cuma sekadar suara yang lewat di telinga.

Bukan Sekadar Musisi, Tapi Manusia Biasa

Satu hal lagi yang bikin Charlie Puth disukai adalah dia nggak berusaha jadi "sempurna". Kita semua tahu bekas luka di alis kanannya. Itu bukan gaya-gayaan biar kelihatan sangar, tapi itu bekas luka gigitan anjing saat dia masih kecil. Alih-alih operasi plastik buat ngilanginnya, dia malah membiarkannya jadi ciri khas. Hal-hal kecil kayak gini yang bikin dia terasa seperti "manusia" di tengah industri yang penuh filter.

Charlie juga sering curhat soal kegagalan cintanya lewat lagu-lagu yang dia tulis sendiri. Dia bukan tipe yang minta orang lain nulisin lagunya. Hampir semua karyanya dia produksi sendiri atau setidaknya dia terlibat penuh di dalamnya. Jadi kalau kamu dengerin lagu Charlie Puth, kamu bener-bener dengerin isi pikiran dan perasaannya dia. Dia adalah pengingat bahwa menjadi "kutu buku musik" itu keren. Dia membuktikan kalau kecintaan yang mendalam pada suatu bidang—ditambah sedikit keberanian buat jadi diri sendiri—bisa membawa seseorang ke puncak dunia.

Jadi, siapa Charlie Puth? Dia adalah mas-mas yang mungkin bakal kamu temuin lagi asyik dengerin suara mesin cuci sambil manggut-manggut, tapi di saat yang sama, dia adalah jenius musik yang tahu cara bikin dunia ikut bernyanyi bersamanya. Entah kamu suka lagu pop atau nggak, kamu harus akui kalau dedikasi dan cara dia membedah musik itu adalah sesuatu yang luar biasa inspiratif. Tetaplah jadi aneh dan jenius, Charlie!

Tags