Post Malone: Definisi "Jangan Nilai Buku dari Cover-nya" Versi Rockstar Abad 21
Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 17 March 2026 | 02:00 PM


Kalau kita bicara soal Austin Richard Post, atau yang lebih akrab kita sapa sebagai Post Malone, hal pertama yang terlintas di kepala pasti koleksi tato di wajahnya. Jujur saja, bagi orang yang baru pertama kali lihat fotonya tanpa tahu siapa dia, mungkin bakal mikir kalau mas-mas ini adalah anggota geng motor atau mungkin orang yang hobi banget nongkrong di depan minimarket sambil nungguin parkiran. Tapi ya itulah uniknya industri musik zaman sekarang. Di balik penampilan yang sekilas terlihat "berantakan" dan penuh coretan tinta, Posty—panggilan akrabnya—adalah salah satu musisi paling berbakat, paling rendah hati, dan paling sulit dikotak-kotakkan genre-nya di era ini.
Awal Mula yang Sempat Dicibir
Kilas balik ke tahun 2015, dunia musik dikejutkan dengan lagu "White Iverson". Waktu itu, banyak orang yang skeptis. Post Malone dianggap cuma bakal jadi "one-hit wonder" atau musisi musiman yang numpang lewat doang lewat jalur SoundCloud. Banyak yang menuduhnya melakukan culture appropriation karena gaya rambut kepangnya dan musik yang kental nuansa trap. Tapi, alih-alih baper atau sibuk klarifikasi di podcast orang, Posty milih buat terus berkarya. Dia membuktikan kalau dia bukan cuma sekadar "anak kulit putih yang pengen jadi rapper".
Satu hal yang bikin Post Malone beda dari musisi seangkatannya adalah kemampuannya buat nulis melodi yang nempel banget di telinga (earworm). Mau dia nyanyi rap, pop, atau bahkan country, ada semacam "benang merah" yang bikin kita tahu: "Oh, ini pasti lagunya Post Malone." Suaranya yang agak bergetar (vibrato) itu punya karakter yang nggak bisa ditiru, seolah-olah dia lagi curhat di tengah malam sambil megang kaleng minuman dingin.
Si Bunglon yang Gak Kenal Batas Genre
Kalau kalian dengerin album Stoney, Beerbongs & Bentleys, sampai ke Hollywood's Bleeding, kalian bakal sadar kalau Post Malone itu kayak bunglon. Dia bisa kolaborasi sama 21 Savage di lagu "Rockstar" yang gelap banget, tapi di saat yang sama bisa bikin lagu pop manis kayak "Sunflower" bareng Swae Lee buat soundtrack Spider-Man. Gak berhenti di situ, dia pernah bikin konser livestream tribute untuk Nirvana yang hasilnya gila banget—suaranya masuk banget ke genre grunge.
Nah, yang terbaru, dia malah "belok" total ke arah musik Country lewat album F-1 Trillion. Buat sebagian orang, ini mungkin aneh. Tapi buat fans setianya, ini adalah langkah yang sangat Post Malone banget. Dia emang dari dulu cinta sama musik-musik organik, gitar akustik, dan lirik-lirik soal patah hati di bar. Transisi dia dari hip-hop ke country kerasa sangat natural, bukan karena pengen cari cuan semata, tapi karena emang jiwanya di situ. Dia membuktikan kalau musik itu emang nggak butuh pagar pembatas. Kalau enak, ya enak aja.
Persona "Abang-abangan" yang Dicintai Semua Orang
Satu hal yang bikin Post Malone tetap relevan dan dicintai meskipun sudah jadi megabintang adalah kepribadiannya. Di industri yang penuh dengan musisi yang sok keren atau penuh drama, Post Malone tampil sebagai sosok yang "biasa aja". Dia hobi main game Magic: The Gathering, suka banget minum Bud Light, dan sering banget tertangkap kamera lagi ramah banget sama penggemarnya. Dia nggak berusaha jadi sosok misterius yang nggak tersentuh.
Dia adalah representasi dari generasi yang nggak peduli soal label. Dia pakai baju desainer ternama, tapi di saat yang sama dia bisa aja pakai Crocs dan topi truk yang udah butut. Gaya "trashy-chic" ini malah jadi tren tersendiri. Ada semacam rasa "relatable" yang kuat dari sosok dia. Kita ngerasa kalau Post Malone itu kayak temen tongkrongan kita yang kebetulan aja jago banget bikin lagu hits global. Dia punya aura "good vibes only" yang susah buat dibenci.
Melampaui Ekspektasi
Banyak yang bilang kalau Post Malone adalah definisi rockstar masa kini. Tapi bukan rockstar yang hobi hancurin hotel atau pakai obat-obatan sampai teler, melainkan rockstar yang mendefinisikan ulang apa itu kesuksesan. Dia nggak terkekang oleh satu genre. Dia bisa ada di playlist anak senja yang suka lagu galau, ada di playlist anak hip-hop, dan sekarang ada di playlist bapak-bapak pecinta musik country.
Keberhasilan Post Malone juga jadi tamparan buat mereka yang suka judging orang dari penampilan luar. Tato di wajahnya bukan tanda dia orang jahat, itu cuma caranya mengekspresikan diri. Di balik setiap coretan tinta itu, ada pria yang sangat sensitif, pekerja keras, dan punya insting musik yang tajam banget. Dia mengajarkan kita kalau untuk jadi besar, kita nggak perlu pura-pura jadi orang lain. Cukup jadi diri sendiri, konsisten, dan biarkan karya yang bicara lebih keras daripada komentar netizen.
Akhir kata, Post Malone adalah fenomena yang mungkin cuma muncul sekali dalam beberapa dekade. Dia adalah jembatan antara berbagai budaya musik yang berbeda. Selama dia masih terus bereksperimen dan tetap jadi sosok "Posty" yang ramah, rasanya dunia musik bakal terus punya tempat spesial buat mas-mas bertato satu ini. Jadi, buat kalian yang masih suka ngeremehin dia, mending coba dengerin diskografinya dari awal. Siapa tahu, kalian malah ketagihan sama vibenya yang super santuy itu.
Next News

BLACKPINK: Bukan Sekadar Girlband, Tapi Kiblat Budaya Pop Global Abad Ini
in 6 hours

Mengenal Teddy Swims: Si Abang Bertato dengan Suara Malaikat yang Bikin Candu
in 5 hours

Gorillaz: Bukan Sekadar Kartun, Tapi Revolusi Musik yang Melompati Zaman
in 4 hours

Mengenal Lebih Dekat Sosok Sombr: Antara Tren, Misteri, dan Algoritma yang Bikin Kepo
in 3 hours

Zach Bryan: Si Anak Navy yang Bikin Genre Country Nggak Lagi Identik sama Topi Koboi Kaku
in an hour

J. Cole: Sang "Abang-Abangan" Hip-Hop yang Tetap Menapak Bumi di Tengah Gemerlap Hollywood
in 16 minutes

Zara Larsson: Bukan Sekadar "Lush Life" dan Alasan Kenapa Dia Adalah Pop Star Paling "Real" Saat Ini
2 hours ago

Drake: Rapper, Raja Meme, atau Sekadar Sad Boy Abadi yang Kita Cintai?
44 minutes ago

Riley Green: Cowok Alabama yang Bikin Musik Country Jadi 'Keren' Lagi Tanpa Harus Jualan Gimmick
3 hours ago

Kendrick Lamar: Si Penyair Compton yang Bikin Hip-Hop Jadi "Daging" Semua
4 hours ago





