Rabu, 18 Maret 2026
Amandit FM
Hiburan

Jelly Roll: Si Abang Tatoan Berhati Emas yang Bikin Dunia Jatuh Cinta

Hafizah Fikriah Waskan - Thursday, 19 March 2026 | 04:00 AM

Background
Jelly Roll: Si Abang Tatoan Berhati Emas yang Bikin Dunia Jatuh Cinta
Jelly Roll (Billboard.com/Jelly Roll)

Pernah nggak sih kamu lagi asyik nge-scroll TikTok atau Spotify, terus nemu cowok badannya gede banget, mukanya penuh tato sampai ke dahi, tapi pas nyanyi suaranya malah bikin kamu pengen nangis di pojokan kamar? Kalau iya, kemungkinan besar kamu baru saja berkenalan dengan Jason Bradley DeFord, atau yang lebih kondang dengan nama panggung Jelly Roll. Sosok ini benar-benar antitesis dari apa yang biasanya kita bayangkan tentang bintang musik country atau pop masa kini.

Jujurly, kalau kita papasan sama Jelly Roll di gang gelap jam dua pagi, reaksi pertama kita mungkin adalah putar balik dan lari sekencang-kencangnya. Penampilannya itu lho, intimidatif banget. Khas banget bapak-bapak yang kalau di film Hollywood jadi anggota geng motor yang suka bikin onar. Tapi, jangan salah sangka dulu. Begitu dia buka mulut dan mulai bernyanyi, semua prasangka itu langsung luntur. Ternyata di balik lapisan lemak dan tinta tato itu, ada jiwa yang luar biasa rapuh, tulus, dan penuh harapan.

Jelly Roll bukan cuma sekadar musisi yang numpang lewat. Dia adalah fenomena budaya baru yang membuktikan kalau industri musik sudah mulai bosan dengan yang "terlalu rapi" dan "terlalu plastik". Orang-orang sekarang lebih haus akan sesuatu yang otentik, meski itu terasa pahit dan kotor.

Dari Jeruji Besi ke Panggung Grammy

Kisah hidup Jelly Roll itu ibarat skrip film drama yang kalau kita tonton mungkin bakal bilang, "Halah, ini mah fiksi banget." Tapi kenyataannya, hidup dia emang sekeras itu. Dia tumbuh besar di Antioch, Tennessee, sebuah daerah yang nggak bisa dibilang elit. Masa mudanya dihabiskan keluar masuk penjara. Totalnya ada sekitar 40 kali dia berurusan dengan hukum. Bayangin, 40 kali! Kasusnya macam-macam, mulai dari perampokan sampai urusan obat-obatan terlarang.

Yang menarik, Jelly Roll nggak pernah berusaha menutupi masa lalu kelamnya itu. Dia nggak pura-pura jadi orang suci setelah terkenal. Di setiap sesi wawancara atau lirik lagunya, dia selalu jujur bilang kalau dia dulu adalah "sampah masyarakat". Pengakuan jujur inilah yang bikin fansnya merasa sangat terkoneksi. Di dunia di mana semua orang pamer gaya hidup mewah dan kesempurnaan di Instagram, Jelly Roll hadir dengan luka-lukanya yang masih basah.

Titik baliknya terjadi pas dia menyadari kalau dia nggak mau anak perempuannya melihat bapaknya cuma sebagai narapidana. Dia mulai serius ngerap, terus pelan-pelan pindah haluan ke arah musik country dan rock yang lebih emosional. Hasilnya? Lagu-lagu seperti "Save Me" atau "Son of a Sinner" meledak bukan karena promosi gila-gilaan, tapi karena orang-orang merasa lagu itu adalah suara hati mereka yang juga sedang berjuang menghadapi depresi atau kecanduan.

Genre yang Nggak Bisa Dikotak-kotakkan

Kalau ditanya Jelly Roll itu alirannya apa, jawabannya pasti bakal bikin bingung para kritikus musik yang kaku. Dia punya akar di hip-hop—makanya cara dia bercerita itu sangat lugas dan ritmis. Tapi suaranya punya tekstur serak khas musik rock, dan hatinya ada di country. Perpaduan ini menciptakan sebuah genre baru yang orang-orang sebut sebagai "Country-Soul-Rap". Kedengarannya aneh? Mungkin. Tapi pas didengerin, enak banget buat nemenin kamu yang lagi galau atau lagi nyetir sendirian malam-malam.

Dia itu kayak jembatan. Dia bisa kolaborasi sama rapper, tapi besoknya dia bisa menang penghargaan di Country Music Association (CMA) Awards. Hebatnya lagi, dia nggak butuh autotune berlebihan atau koreografi dance yang ribet buat memukau penonton. Cukup berdiri di depan stand mic, tutup mata, dan biarkan emosinya tumpah ke penonton. Itulah kekuatan utama Jelly Roll: kejujuran yang telanjang.

Kenapa Kita Butuh Sosok Seperti Dia?

Ada satu hal yang bikin Jelly Roll sangat dicintai, yaitu sifatnya yang rendah hati. Meski sekarang sudah jadi jutawan dan menang banyak award, dia masih sering terlihat nangis kalau lagi ngomongin betapa bersyukurnya dia bisa dapet kesempatan kedua. Dia adalah simbol dari "second chance". Dia ngasih tahu ke kita semua kalau nggak peduli seberapa dalam kamu jatuh ke lubang hitam, selalu ada jalan buat merangkak naik kalau kamu mau berusaha.

Di Indonesia sendiri, sosok seperti Jelly Roll ini pasti bakal "relate" banget sama banyak orang. Kita suka cerita tentang orang kecil yang berhasil sukses (underdog story). Kita juga suka dengan figur yang terlihat garang tapi aslinya "softie" atau penyayang. Jelly Roll itu kayak abang-abangan di tongkrongan yang mukanya sangar tapi kalau curhat soal asmara bisa bikin satu tongkrongan ikutan mewek.

Selain itu, hubungan dia dengan istrinya, Bunnie XO, juga sering jadi sorotan. Mereka bukan pasangan "goals" ala selebriti Hollywood yang penuh kepalsuan. Mereka adalah pasangan yang sama-sama punya masa lalu berantakan dan saling menyelamatkan satu sama lain. Melihat mereka itu kayak melihat bukti nyata kalau cinta itu memang bisa menyembuhkan.

Penutup: Musik Sebagai Terapi

Akhir kata, Jelly Roll bukan sekadar penyanyi dengan tato di muka. Dia adalah pengingat bahwa seni yang paling bagus adalah seni yang lahir dari penderitaan dan kejujuran. Dia nggak jualan mimpi yang indah-indah doang, tapi dia jualan realita bahwa hidup itu berat, tapi kita tetap harus bertahan.

Buat kamu yang mungkin lagi merasa jadi "pecundang" atau merasa masa depanmu sudah suram karena kesalahan masa lalu, coba deh dengerin satu atau dua lagu Jelly Roll. Resapi liriknya. Mungkin kamu bakal sadar kalau kamu nggak sendirian. Kalau si abang tatoan ini bisa bangkit dari jeruji besi sampai bisa berdiri di panggung Grammy, kenapa kamu nggak bisa? Tetap semangat, dan jangan lupa buat selalu kasih kesempatan kedua, baik buat orang lain maupun buat diri kamu sendiri.

Tags