Radiohead: Lebih dari Sekadar Lagu Buat Orang Galau dan Overthinker
Hafizah Fikriah Waskan - Thursday, 19 March 2026 | 05:00 AM


Kalau kita ngomongin Radiohead, biasanya ada dua tipe reaksi yang muncul. Pertama, orang yang langsung pasang muka khusyuk seolah-olah lagi dengerin ceramah suci. Kedua, orang yang langsung mengernyitkan dahi sambil bilang, "Duh, musiknya berat banget, bikin pusing!" Memang sih, band asal Abingdon, Inggris ini punya reputasi sebagai rajanya musik depresif yang seleranya "anak senja" banget atau buat mereka yang hobi overthinking di pojokan kamar jam dua pagi. Tapi, bener nggak sih Radiohead sesempit itu?
Mari kita tarik mundur sedikit ke era 90-an. Bayangin kamu ada di posisi Thom Yorke, Jonny Greenwood, Colin Greenwood, Ed O'Brien, dan Philip Selway. Mereka memulai segalanya dengan lagu "Creep". Lagu itu meledak luar biasa, bahkan sampai sekarang masih jadi anthem wajib di tempat karaoke atau sesi akustikan di kafe-kafe. Lucunya, Radiohead sendiri sempat benci setengah mati sama lagu itu. Mereka merasa terjebak dalam label "one-hit wonder" dengan genre grunge yang lagi tren saat itu. Mereka nggak mau cuma jadi pengikut Nirvana versi Inggris.
Sikap keras kepala inilah yang justru jadi bahan bakar mereka. Alih-alih bikin "Creep Part 2" demi cuan instan, mereka malah ngerilis album The Bends yang lebih solid, lalu disusul oleh OK Computer di tahun 1997. Nah, di titik inilah dunia sadar kalau Radiohead bukan band sembarangan. OK Computer itu kayak ramalan masa depan yang dibungkus dalam distorsi gitar dan vokal Thom Yorke yang melankolis. Mereka bicara soal alienasi, teknologi yang mulai menjajah manusia, dan rasa hampa di tengah kemajuan zaman. Kedengarannya berat? Memang. Tapi di situlah letak magisnya.
Eksperimen Gila yang Bikin Fans Garuk Kepala
Setelah sukses besar dengan OK Computer, biasanya band bakal main aman. Tapi Radiohead? Enggak dong. Mereka justru merilis Kid A di tahun 2000. Bayangkan fans yang sudah siap dengan gebukan drum rock dan raungan gitar, tiba-tiba disuguhi suara synthesizer aneh, looping elektronik, dan struktur lagu yang nggak karuan polanya. Banyak kritikus yang awalnya bingung, tapi sekarang album ini dianggap sebagai salah satu karya paling jenius sepanjang masa. Mereka berani buang jauh-jauh instrumen gitar demi mengeksplorasi apa yang bisa dilakukan oleh mesin dan imajinasi.
Gaya penulisan lirik Thom Yorke juga unik. Dia jarang banget nulis lirik yang to the point kayak "aku sayang kamu tapi kamu sama dia". Liriknya lebih sering berupa potongan-potongan gambar, keresahan sosial, atau bahkan kata-kata acak yang kalau digabungin malah bikin perasaan kita campur aduk. Gaya ini bikin pendengarnya bebas menginterpretasikan apa aja. Makanya, jangan heran kalau dengerin lagu "No Surprises" bisa bikin satu orang ngerasa tenang, tapi bikin orang lain malah pengen nangis sesenggukan sambil mikirin cicilan pinjol.
Salah satu momen paling legendaris dalam sejarah industri musik adalah saat mereka merilis album In Rainbows tahun 2007. Saat itu, mereka melakukan eksperimen sosial dengan sistem "Pay What You Want". Kamu mau bayar satu juta rupiah boleh, mau bayar seribu perak silakan, atau mau download gratis juga nggak dilarang. Ini adalah langkah berani yang bikin label rekaman besar gemetaran. Radiohead membuktikan kalau hubungan antara musisi dan pendengar itu bisa dibangun di atas kepercayaan, bukan cuma transaksi dingin semata.
Kenapa Kita Masih Perlu Dengerin Radiohead Sekarang?
Mungkin ada yang nanya, "Di zaman TikTok yang lagunya harus jedag-jedug dan durasinya pendek begini, emang masih relevan dengerin Radiohead?" Jawabannya: Justru sekarang kita makin butuh mereka. Di tengah dunia yang serba cepat dan artifisial, musik Radiohead itu kayak ruang buat kita berhenti sejenak dan mengakui kalau "it's okay to not be okay". Mereka nggak jualan motivasi murahan atau kebahagiaan palsu. Mereka cuma bilang, "Dunia ini memang agak kacau, dan kita semua cuma manusia yang berusaha bertahan."
Dengerin Radiohead itu pengalaman yang personal. Kamu mungkin bakal ngerasa aneh pas pertama kali dengar joget kaku Thom Yorke di video klip "Lotus Flower", atau bingung sama suara aneh di "Fitter Happier". Tapi kalau kamu kasih waktu buat telinga dan pikiranmu meresapinya, ada kepuasan tersendiri yang nggak bakal kamu dapet dari lagu-lagu pop pasaran. Ada detail-detail kecil dari permainan gitar Jonny Greenwood yang luar biasa rumit tapi terdengar pas, atau dentuman bass Colin yang suttle tapi nyawa banget.
Sekarang, para personelnya memang lagi sibuk masing-masing. Thom Yorke dan Jonny Greenwood punya proyek band baru namanya The Smile yang nggak kalah keren. Tapi bayang-bayang Radiohead tetap nggak akan pernah hilang. Mereka sudah bukan sekadar band, tapi sudah jadi institusi budaya. Mereka ngajarin kita kalau jadi berbeda itu nggak apa-apa, kalau bereksperimen itu perlu, dan kalau jujur dalam berkarya itu adalah kunci buat tetap abadi.
Jadi, buat kamu yang belum pernah nyoba dengerin mereka secara serius, coba deh sisihin waktu malam ini. Matikan lampu, pakai earphone terbaikmu, dan putar album In Rainbows atau A Moon Shaped Pool. Biarkan dirimu tenggelam dalam suasananya. Siapa tahu, di tengah kegalauanmu, kamu bakal nemuin sedikit kedamaian lewat suara cempreng nan indah dari Thom Yorke. Karena pada akhirnya, Radiohead bukan cuma soal kesedihan, tapi soal cara kita merayakan kemanusiaan dengan segala kerumitannya.
Next News

KATSEYE: Ketika K-Pop Bukan Lagi Soal Paspor, Tapi Soal Standar Global
in 6 hours

Jelly Roll: Si Abang Tatoan Berhati Emas yang Bikin Dunia Jatuh Cinta
in 4 hours

Stray Kids: Dari 'Musik Berisik' Hingga Jadi Raja Panggung Global yang Gak Ada Matinya
in 3 hours

Mengenal Chappell Roan: "Pop Star" Paling Berisik yang Nggak Sengaja Mengubah Wajah Industri Musik
in 2 hours

ENHYPEN: Dari Trauma I-LAND Hingga Jadi Penguasa Konsep Dark Fantasy
in an hour

PinkPantheress: Ratu Lagu Pendek yang Bikin Kita Nostalgia Padahal Nggak Pernah Ngalamin
12 minutes ago

Tyler, The Creator: Evolusi dari Bocah 'Edgy' Jadi Ikon Kultur Paling Jenius Abad Ini
an hour ago

Mengenal Daniel Caesar: Si Suara Emas yang Jadi Soundtrack Galau Jutaan Umat
an hour ago

Deftones: Band "Paling Wangi" yang Tetap Relevan dari Era Nu-Metal Hingga Masuk FYP TikTok
2 hours ago

Mengenal Bella Kay: Lebih dari Sekadar Estetika di Balik Layar Ponsel
3 hours ago





