KATSEYE: Ketika K-Pop Bukan Lagi Soal Paspor, Tapi Soal Standar Global
Hafizah Fikriah Waskan - Thursday, 19 March 2026 | 06:00 AM


Kalau kalian sering scrolling TikTok atau mampir ke Reels belakangan ini, pasti sempat dengar potongan lagu yang bunyinya, "Touch, touch, touch..." dengan koreografi jari yang kelihatan simpel tapi sebenarnya butuh koordinasi tingkat dewa. Nah, selamat, kalian sudah resmi terpapar virus KATSEYE. Grup yang satu ini bukan sekadar girl group baru yang numpang lewat, mereka adalah eksperimen ambisius yang pelan-pelan mulai membuktikan kalau rumus K-pop itu bisa banget diterapkan ke skala global tanpa harus jadi "Korea banget".
Jujur saja, awal kemunculan mereka lewat survival show "The Debut: Dream Academy" sempat bikin banyak orang skeptis. Banyak yang mikir, "Hah, HYBE mau bikin grup Amerika tapi rasa Korea? Emang bakal nyambung?". Maklum, selama ini kita sudah terbiasa dengan dikotomi yang jelas: kalau nggak K-pop ya Western pop. Tapi KATSEYE datang membawa warna yang ada di tengah-tengah. Mereka bukan grup yang berusaha keras jadi "paling Korea", tapi mereka membawa etos kerja dan standar produksi K-pop ke panggung dunia yang lebih luas.
Lahir dari Rahim Dokumenter yang "Berdarah-darah"
Kalau kalian mau kenal mereka lebih dalam, jangan cuma dengerin lagunya, tapi tonton dokumenter mereka di Netflix yang judulnya "Pop Star Academy: KATSEYE". Di sana kita bisa lihat betapa nggak enaknya jadi trainee. Bayangkan, puluhan cewek dari seluruh dunia dikumpulin, disuruh latihan nari dan nyanyi berjam-jam setiap hari, terus harus menghadapi eliminasi yang dingin banget. Ini bukan cuma soal bakat, tapi soal mental baja.
Di dokumenter itu, kita diperlihatkan sisi manusiawi mereka. Bagaimana Manon yang awalnya dicap malas padahal cuma butuh adaptasi, atau bagaimana Sophia yang harus memikul beban sebagai "leader" tak resmi sejak awal. Kita diajak melihat kalau menjadi KATSEYE itu nggak instan. Mereka adalah produk dari sistem pelatihan K-pop yang terkenal keras, tapi diaplikasikan ke talenta-talenta global. Hasilnya? Sebuah grup yang punya sinkronisasi dance ala K-pop tapi dengan vokal dan persona yang sangat Western.
Enam Warna yang Beda Banget Tapi Pas
Mari kita absen satu-satu biar nggak salah panggil. Ada Sophia dari Filipina yang punya vokal stabil dan aura keibuan. Lalu ada Lara dari Amerika (keturunan India) yang suaranya punya karakter kuat dan "soulful" banget. Jangan lupakan Daniela, cewek Latin yang kalau sudah nari, panggung rasanya milik dia sendiri. Kemudian ada Megan yang energinya nggak pernah habis, dan si bungsu Yoonchae yang jadi satu-satunya member asli Korea, membuktikan kalau "K" di KATSEYE tetap punya akar yang kuat.
Terakhir, ada Manon dari Swiss. Kalau boleh jujur, Manon ini kayak magnet visual. Meskipun di awal sempat kena drama karena sering absen latihan, sekarang dia malah jadi salah satu member yang paling banyak dibicarakan. Perbedaan latar belakang budaya mereka inilah yang bikin KATSEYE terasa inklusif. Mereka bukan sekadar jualan keberagaman demi konten, tapi memang benar-benar merepresentasikan wajah dunia saat ini yang sudah tanpa batas.
Mengapa "Touch" Bisa Viral Begitu Cepat?
Bicara soal musik, EP pertama mereka yang bertajuk "SIS (Soft Is Strong)" adalah perkenalan yang manis. Lagu "Touch" itu benar-benar tipe lagu yang "earworm" atau candu banget. Bitnya ringan, liriknya relateable buat anak muda, dan visual video klipnya estetik parah. Di sini kita bisa lihat tangan dingin HYBE dan Geffen Records yang tahu betul selera pasar sekarang.
Mereka nggak berusaha jualan lagu yang terlalu berat dengan teori-teori rumit atau lirik yang bikin dahi mengkerut. KATSEYE main di ranah pop yang fun, catchy, tapi tetap punya kelas. Gerakan "Touch" yang viral itu juga bukti kalau strategi marketing mereka lewat media sosial sangat berhasil. Nggak perlu promosi di TV berlebihan, cukup bikin challenge yang asik, dan biarkan netizen yang bekerja.
Bukan Sekadar Tren Sesaat
Banyak yang bertanya, apakah KATSEYE bakal bertahan lama? Mengingat pasar musik Amerika itu keras banget buat girl group. Tapi kalau melihat momentum mereka sekarang, rasanya KATSEYE punya umur panjang. Kenapa? Karena mereka mengisi kekosongan. Setelah era Little Mix atau Fifth Harmony selesai, dunia Barat seolah haus akan sosok girl group yang punya performa solid dan karisma yang merata di tiap membernya.
KATSEYE datang dengan paket lengkap. Mereka punya sistem pendukung (fandom) yang sudah terbentuk sejak masa kompetisi, mereka punya modal finansial dari label raksasa, dan yang paling penting, mereka punya identitas yang unik. Mereka adalah jembatan. Buat orang yang nggak terlalu suka K-pop karena kendala bahasa, KATSEYE adalah pintu masuk. Buat orang yang suka pop Barat tapi rindu dengan koreografi yang tajam, KATSEYE adalah jawabannya.
Harapan untuk Masa Depan
Tentu saja, perjalanan mereka masih panjang. Tantangan terbesarnya adalah menjaga konsistensi dan tidak terjebak dalam gimmick "global group" semata. Mereka butuh lagu-lagu yang lebih ikonik lagi di masa depan untuk benar-benar mengukuhkan posisi mereka di jajaran elit pop dunia. Tapi untuk saat ini, mari kita apresiasi keberanian mereka untuk mendobrak batas-batas industri.
Melihat KATSEYE itu kayak melihat masa depan industri musik. Nanti mungkin kita nggak akan lagi peduli ini grup dari mana, agensinya apa, atau membernya orang mana. Kita cuma bakal peduli: lagunya enak nggak? Penampilannya keren nggak? Dan sejauh ini, KATSEYE sudah berhasil menjawab itu semua dengan nilai yang sangat memuaskan. Jadi, buat kalian yang belum dengerin, coba deh mampir ke YouTube atau Spotify mereka. Siap-siap saja ketagihan dan ikut-ikutan gerakan "Touch" di depan cermin!
Next News

Leon Thomas: Dari Sidekick di Nickelodeon Sampai Jadi 'Otak' di Balik Hits Global
in 6 hours

RAYE: Dari Korban PHP Label sampai Jadi Ratu BRIT Awards yang Bikin Industri Musik Melongo
in 6 hours

Radiohead: Lebih dari Sekadar Lagu Buat Orang Galau dan Overthinker
in 3 hours

Jelly Roll: Si Abang Tatoan Berhati Emas yang Bikin Dunia Jatuh Cinta
in 2 hours

Stray Kids: Dari 'Musik Berisik' Hingga Jadi Raja Panggung Global yang Gak Ada Matinya
in an hour

Mengenal Chappell Roan: "Pop Star" Paling Berisik yang Nggak Sengaja Mengubah Wajah Industri Musik
in 11 minutes

ENHYPEN: Dari Trauma I-LAND Hingga Jadi Penguasa Konsep Dark Fantasy
an hour ago

PinkPantheress: Ratu Lagu Pendek yang Bikin Kita Nostalgia Padahal Nggak Pernah Ngalamin
2 hours ago

Tyler, The Creator: Evolusi dari Bocah 'Edgy' Jadi Ikon Kultur Paling Jenius Abad Ini
2 hours ago

Mengenal Daniel Caesar: Si Suara Emas yang Jadi Soundtrack Galau Jutaan Umat
3 hours ago





