Kenali Inflasi: Mengapa Uang 100 Ribu Makin Hari Makin Ga Cukup?
Hafizah Fikriah Waskan - Saturday, 28 February 2026 | 03:00 AM


Bayang-Bayang Inflasi: Saat Uang Seratus Ribu Cuma Berasa Kayak Uang Parkir
Pernah nggak sih kalian ngerasa kalau uang seratus ribu sekarang itu nggak ada harganya? Baru narik di ATM pagi hari, eh pas sore tinggal sisa recehan dua ribuan yang kumel di saku celana. Padahal perasaan cuma beli kopi susu kekinian satu, makan siang nasi padang pake rendang (itu pun nggak berani nambah telur), sama beli pulsa buat kuota darurat. Selamat datang di kenyataan pahit yang namanya inflasi.
Sebenarnya, inflasi itu hal yang lumrah dalam ekonomi. Kalau harganya naik dikit-dikit, ya anggap aja itu tanda ekonomi lagi bernapas. Tapi, ceritanya bakal beda kalau inflasi ini mulai "ugal-ugalan" alias jadi inflasi besar. Bayangin aja, inflasi besar itu kayak tamu tak diundang yang masuk ke rumah kita, terus ngambilin isi kulkas satu per satu sampai kita kelaparan. Nggak cuma bikin pusing emak-emak pas belanja di pasar, inflasi besar punya dampak domino yang bisa bikin tatanan hidup kita berantakan.
Daya Beli yang Ciut dan Dompet yang Menjerit
Bahaya paling nyata dari inflasi besar adalah turunnya daya beli. Secara teknis, jumlah uang yang kita pegang mungkin tetap sama, tapi barang yang bisa kita beli makin dikit. Kalau biasanya uang sepuluh ribu dapet nasi kucing tiga bungkus sama sate usus dua, pas inflasi gila-gilaan, uang segitu mungkin cuma dapet nasi satu bungkus tanpa karet pengikat. Nyesek, kan?
Masalahnya, kenaikan harga barang ini seringkali nggak dibarengi sama kenaikan gaji yang sepadan. Bos di kantor mungkin bakal bilang, "Yah, perusahaan lagi sulit, kita kencangkan ikat pinggang dulu ya." Tapi di sisi lain, harga bensin naik, harga beras naik, bahkan harga sewa kosan pun ikutan meroket. Di titik inilah gaya hidup "self-reward" atau "healing" tipis-tipis bakal jadi mitos belaka. Kita bakal lebih sibuk mikirin gimana caranya bertahan hidup daripada mikirin mau nongkrong di mana akhir pekan nanti.
Tabungan yang "Membusuk" di Bank
Banyak dari kita dididik sejak kecil buat rajin menabung. "Sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit," katanya. Tapi pas inflasi besar melanda, pepatah itu kayaknya perlu direvisi jadi "Sedikit demi sedikit lama-lama habis dimakan inflasi."
Bayangin kalian capek-capek nabung sepuluh juta buat beli motor impian. Tapi karena inflasi besar, harga motor yang tadinya sepuluh juta tiba-tiba melesat jadi lima belas juta dalam waktu singkat. Uang kalian di bank, meskipun dapet bunga (yang potongannya buat administrasi aja udah bikin nangis), nilainya bakal makin rendah. Jadi, makin lama kalian simpen uang dalam bentuk tunai saat inflasi tinggi, makin rugi kalian. Ini yang bikin orang-orang kaya biasanya langsung panik mindahin aset mereka ke emas atau tanah, sementara kita yang kaum mendang-mending cuma bisa melongo ngeliatin saldo yang angkanya tetep tapi daya belinya ampas.
Ketidakpastian Usaha yang Bikin Pengusaha "Boncos"
Nggak cuma konsumen yang pusing, para pelaku usaha pun ikutan kena mental. Bayangin kalian punya usaha jualan seblak. Tiba-tiba harga cabai, kerupuk, sampai gas elpiji naik nggak karuan setiap minggu. Kalian bakal bingung: mau naikin harga tapi takut pelanggan kabur, kalau nggak dinaikin malah "boncos" alias rugi bandar.
Inflasi besar menciptakan ketidakpastian. Pengusaha jadi takut buat investasi atau ekspansi karena mereka nggak tahu bulan depan harga bahan baku bakal jadi berapa. Dampaknya? Lapangan kerja jadi makin sempit. Bukannya nambah karyawan, yang ada malah banyak perusahaan yang mulai efisiensi alias melakukan PHK. Ini adalah lingkaran setan yang kalau nggak segera dihentikan, bakal bikin angka pengangguran meledak.
Gejolak Sosial dan Panic Buying
Ekonomi itu erat banget hubungannya sama psikologi massa. Kalau masyarakat sudah mulai ngerasa harga-harga nggak masuk akal, bakal muncul rasa nggak aman. Pernah denger istilah panic buying? Itu lho, momen di mana orang-orang tiba-tiba borong minyak goreng atau susu kaleng sampai rak supermarket kosong melompong. Hal ini dipicu oleh ketakutan kalau besok harganya bakal makin mahal atau barangnya malah hilang dari peredaran.
Kalau kondisi ini terus berlanjut, keresahan sosial nggak bisa dihindari lagi. Protes di mana-mana, demo mahasiswa yang makin panas, sampai tingkat kriminalitas yang berpotensi naik karena orang-orang makin terdesak kebutuhan perut. Sejarah sudah membuktikan berkali-kali, dari krisis 1998 di Indonesia sampai krisis di Venezuela baru-baru ini, bahwa inflasi yang tak terkendali adalah bahan bakar paling ampuh buat bikin sebuah negara goyang.
Kesimpulan: Jangan Cuma Pasrah
Meskipun kedengarannya horor, inflasi besar bukan berarti kiamat sudah dekat. Tapi, kita juga nggak boleh cuek-cuek aja. Memahami bahaya inflasi harusnya bikin kita lebih melek finansial. Jangan cuma jago scroll TikTok, tapi coba mulai belajar gimana cara ngelola uang di tengah kondisi ekonomi yang lagi nggak stabil.
Setidaknya, dengan tahu bahayanya, kita bisa lebih bijak buat nggak gampang tergiur tren belanja yang nggak perlu. Kurangi pengeluaran yang cuma buat gengsi, dan mulai pikirkan buat punya aset yang lebih tahan banting terhadap inflasi. Karena pada akhirnya, di dunia yang harga-harganya makin nggak ngotak ini, yang bisa nyelametin dompet kita ya diri kita sendiri, bukan cuma nungguin keajaiban dari kebijakan pemerintah yang kadang juga suka bikin bingung.
Next News

Tips Kaum Rebahan: Saldo E-Wallet Nambah Sambil Tiduran
2 days ago

Rahasia Puasa Arafah: Golden Ticket Penghapus Dosa Kita
2 days ago

Seni Mengatur Waktu Mabar: Biar Jago di Game, Tetap Waras di Real Life
3 days ago

Tips Memilih Hewan Kurban Biar Nggak Kena 'Zonk': Panduan Santai ala Anak Muda
3 days ago

Panduan Salat Iduladha Biar Nggak Celingak-Celinguk Pas di Lapangan
12 days ago

Mabar Terus, Belajar Kapan? Menimbang Sisi Gelap dan Terang Game Online Buat Anak Muda
4 days ago

Menilik Fenomena Mabar: Mengapa Game Online Jadi Napas Baru Tongkrongan di Indonesia?
5 days ago

5 Fakta Unik Kelapa Sawit yang Jarang Dibahas di Tongkrongan
5 days ago

Sawit: Antara Gorengan Renyah dan Paru-Paru Dunia yang Makin Sesak
6 days ago

Si Oranye yang Bau dan Si Bening yang Menggoda: Menilik Beda Sawit Mentah vs Minyak Olahan
6 days ago





