Minggu, 12 April 2026
Amandit FM
Science & Technology

Larry Ellison: Si "Bad Boy" Teknologi yang Diam-Diam Jadi Orang Terkaya Nomor Tiga di Dunia

Hafizah Fikriah Waskan - Wednesday, 25 March 2026 | 12:00 AM

Background
Larry Ellison: Si "Bad Boy" Teknologi yang Diam-Diam Jadi Orang Terkaya Nomor Tiga di Dunia
Larry Ellison (TheWrap/Larry Ellison)

Bayangin deh, kamu lagi asyik nge-scroll TikTok atau Instagram, terus tiba-tiba ada notifikasi masuk kalau saldo rekening kamu nambah jadi 260 miliar dolar AS. Kalau dikonversi ke Rupiah, angkanya bikin kalkulator HP langsung nyerah karena saking banyaknya nol di belakang. Ya, kira-kira sekitar 4.000 triliun rupiah lebih. Angka segitu bukan cuma cukup buat beli seblak seumur hidup bareng seluruh penduduk pulau Jawa, tapi juga bisa buat beli klub bola, pulau pribadi, sampai roket luar angkasa kalau kamu mau.

Itulah kenyataan hidup seorang Larry Ellison sekarang. Bos besar sekaligus pendiri Oracle ini baru saja bikin heboh dunia finansial karena kekayaannya melesat tajam, menyalip Jeff Bezos dan bahkan sempat membayangi Elon Musk di posisi puncak. Yang bikin unik, Larry ini nggak sesisik Elon yang hobi nge-tweet aneh-aneh atau se-ikonik Mark Zuckerberg dengan kaos abu-abunya. Larry Ellison adalah tipe "old money" di dunia teknologi yang gayanya tetap nyentrik, agak arogan, tapi visinya emang nggak ada obat.

Bukan Anak Emas, Tapi Si Dropout yang Ambisius

Kalau kita denger cerita sukses orang Silicon Valley, polanya sering mirip: dropout kuliah, bangun garasi, terus jadi kaya. Larry juga punya resep yang sama. Lahir di New York dan dibesarkan oleh bibinya di Chicago, masa kecil Larry nggak bisa dibilang mewah. Dia sempat kuliah di University of Illinois tapi cabut gara-gara ibu angkatnya meninggal. Terus coba lagi di University of Chicago, eh cuma bertahan satu semester. Akhirnya, dengan modal nekat dan skill programming otodidak, dia pindah ke California di tahun 60-an.

Di sana, dia kerja serabutan di berbagai perusahaan teknologi. Sampai akhirnya, dia nemu sebuah paper penelitian dari IBM soal "Relational Database". Lucunya, IBM sendiri saat itu ngerasa ide itu nggak terlalu komersial. Larry, dengan insting bisnisnya yang tajam (atau mungkin saking ambisiusnya), ngelihat ini sebagai tambang emas. Bersama dua temannya, dia bangun perusahaan yang namanya sekarang kita kenal sebagai Oracle. Nama "Oracle" sendiri sebenarnya diambil dari nama proyek rahasia CIA yang pernah dia kerjain. Keren, kan? Berawal dari proyek intelijen, berakhir jadi raksasa teknologi dunia.

Kenapa Tiba-Tiba Jadi Tajir Melintir di Umur 80 Tahun?

Mungkin banyak yang nanya, "Lho, bukannya Oracle itu cuma jualan database yang membosankan buat perusahaan besar?" Ya, memang betul. Oracle bukan aplikasi media sosial yang kita pakai tiap hari. Tapi, di balik layar, hampir semua bank besar, rumah sakit, hingga instansi pemerintah pakai teknologi mereka. Dan alasan kenapa harta Larry melonjak drastis belakangan ini adalah satu kata yang lagi tren: AI (Artificial Intelligence).

Dunia lagi gila-gilanya sama AI, dan siapa yang nyediain infrastruktur cloud buat ngejalanin AI itu? Salah satunya ya Oracle. Larry cerdik banget memposisikan perusahaannya sebagai "tulang punggung" buat revolusi kecerdasan buatan. Belum lagi hubungan dekatnya sama Elon Musk (dia sempat jadi dewan direksi Tesla) dan kerja sama strategis dengan Microsoft. Alhasil, saham Oracle terbang tinggi, dan Larry yang masih megang mayoritas sahamnya langsung ketiban duren runtuh seukuran gunung.

Gaya Hidup Sultan yang Nggak Ada Lawannya

Kalau bicara soal gimana cara Larry ngabisin duitnya, ini bagian yang paling seru. Dia bukan tipe miliarder yang hidup hemat atau pamer kesederhanaan yang palsu. Larry itu penikmat hidup garis keras. Dia punya koleksi mobil mewah, jet pribadi, dan hobi balapan yacht yang biayanya bisa bikin satu kabupaten kenyang setahun. Tapi yang paling gila? Dia beli pulau, beneran satu pulau!

Tahun 2012, dia beli 98% wilayah Pulau Lanai di Hawaii seharga 300 juta dolar. Di sana dia bangun resor mewah, perkebunan organik, dan mencoba bikin model kehidupan masa depan yang berkelanjutan. Meskipun langkah ini sempat dikritik warga lokal karena dianggap "menjajah" secara modern, Larry tetap jalan terus. Di usianya yang udah kepala delapan, dia juga terobsesi banget sama yang namanya "umur panjang". Dia ngucurin dana jutaan dolar buat riset kesehatan supaya manusia bisa hidup lebih lama. Mungkin dia ngerasa 260 miliar dolar itu nggak bakal cukup dinikmati kalau cuma dalam waktu 100 tahun.

Antara Visi dan Kontroversi

Tentu saja, perjalanan Larry nggak selalu mulus. Dia sering dicap sebagai pemimpin yang keras, kompetitif banget (pernah sampai nyewa detektif buat nyari kejelekan Microsoft!), dan nggak jarang terlibat konflik hukum. Tapi di balik itu semua, kita nggak bisa mungkir kalau dia adalah salah satu arsitek dunia digital yang kita tinggali sekarang. Tanpa sistem database yang dia rintis, mungkin transaksi ATM kita bakal sering error atau sistem cloud dunia nggak bakal secepat sekarang.

Melihat Larry Ellison dengan harta 260 miliar dolarnya sebenarnya ngasih kita perspektif baru. Sukses itu bukan cuma soal jadi yang pertama, tapi soal siapa yang paling tahan banting dan bisa ngelihat peluang di saat orang lain lagi tidur. Larry bukan lagi anak muda yang haus pembuktian, tapi dia tetap "lapar" akan inovasi. Di saat orang seumurannya mungkin lagi asyik main catur di taman, Larry masih sibuk meeting bahas masa depan AI sambil ngelihat pemandangan laut dari pulau pribadinya.

Jadi, buat kita-kita yang sekarang masih mikirin cicilan motor atau pusing karena harga kopi makin mahal, kisah Larry Ellison ini bisa jadi motivasi (atau malah bikin makin iri, sih). Yang jelas, dunia teknologi itu dinamis banget. Siapa sangka, orang yang dulunya dianggap "nakal" dan gagal di kampus, sekarang jadi orang yang kekayaannya sulit dinalar akal sehat manusia biasa. 260 miliar dolar, man... bener-bener definisi "success is the best revenge" yang sesungguhnya.

Tags