Minggu, 12 April 2026
Amandit FM
Science & Technology

Marina Budiman: Sosok di Balik Penyimpanan Data TikTok dan IG

Hafizah Fikriah Waskan - Wednesday, 25 March 2026 | 02:00 PM

Background
Marina Budiman: Sosok di Balik Penyimpanan Data TikTok dan IG
Marina Budiman (CNBC/Marina Budiman)

Mengenal Marina Budiman: Ratu Data Center Indonesia yang Hartanya Bikin Geleng-Geleng Kepala

Pernah nggak sih kamu lagi asyik scrolling TikTok atau Instagram, terus tiba-tiba kepikiran: "Eh, data video yang gue tonton ini disimpannya di mana ya?" Nah, kalau kamu nggak pernah kepikiran, itu wajar. Tapi bagi seorang Marina Budiman, pertanyaan semacam itu bukan cuma sekadar rasa penasaran, melainkan tambang emas yang nilainya mencapai angka fantastis: US$6,7 miliar atau kalau dikonversi ke Rupiah sekitar Rp104,67 triliun. Gokil, kan?

Angka segitu kalau dipakai buat beli seblak se-Indonesia mungkin masih sisa banyak buat beli franchise kopi kekinian. Tapi masalahnya, sosok Marina Budiman ini jauh dari kesan "flexing" atau pamer harta yang sering kita lihat di media sosial. Beliau bukan tipe orang yang bakal bikin konten "A Day in My Life" sambil pamer mobil mewah. Marina adalah sosok di balik layar, sang arsitek infrastruktur digital Indonesia yang mungkin namanya jarang lewat di FYP kamu, tapi perannya sangat krusial bagi kehidupan internet kita.

Bukan Sekadar Beruntung, Tapi Visioner

Banyak orang mungkin mengira kekayaan sebesar itu didapat dari warisan atau keberuntungan semalam. Padahal, perjalanan Marina Budiman adalah bukti nyata bahwa visi yang tajam dalam melihat peluang teknologi adalah kunci utama. Bersama partner bisnis setianya, Otto Toto Sugiri, Marina mendirikan PT DCI Indonesia (DCII) pada tahun 2011.

Bayangin, tahun 2011 itu kita mungkin masih sibuk main BBM atau baru mulai kenal yang namanya Instagram. Saat itu, infrastruktur cloud di Indonesia masih sangat minim. Banyak perusahaan lokal masih menyimpan datanya di luar negeri. Marina dan timnya melihat ini sebagai masalah sekaligus peluang. Mereka membangun "gudang" raksasa untuk menyimpan data yang kita sebut sebagai Data Center. Dan bukan sembarang gudang, tapi data center kelas wahid yang punya standar keamanan dan keandalan level dunia.

Bagi Marina, data adalah minyak baru. Dan dia tidak hanya ingin menjadi penonton, dia ingin menjadi pemilik kilangnya. DCI Indonesia tumbuh menjadi pemain dominan yang dipercaya oleh raksasa teknologi global untuk menitipkan data mereka di tanah air. Jadi, setiap kali kamu akses layanan cloud yang super cepat, ada kemungkinan besar itu berkat infrastruktur yang dibangun oleh perusahaannya Marina.

Ledakan Saham DCII yang Melegenda

Kalau kita bicara soal kekayaan US$6,7 miliar, kita nggak bisa lepas dari fenomena saham DCII di Bursa Efek Indonesia. Masih ingat awal tahun 2021? Saat itu, saham DCII melantai di bursa dengan harga penawaran perdana (IPO) yang terbilang terjangkau. Namun, siapa sangka, dalam waktu singkat harga sahamnya meroket hingga ribuan persen.

Kenaikan ini sempat bikin heboh jagat pasar modal sampai-sampai diperdagangkannya harus dihentikan sementara (suspend) berkali-kali oleh pihak bursa. Fenomena ini bukan cuma soal spekulasi, tapi refleksi dari kepercayaan investor terhadap prospek bisnis data center di Indonesia yang makin seksi. Sebagai salah satu pemegang saham terbesar, kekayaan Marina ikut terkerek naik secara eksponensial. Di sinilah namanya mulai masuk dalam radar orang terkaya di dunia versi Forbes, bersanding dengan nama-nama beken lainnya.

Melihat fenomena ini, ada opini menarik: Marina Budiman membuktikan bahwa industri teknologi di Indonesia bukan cuma soal aplikasi ojek online atau marketplace. Ada sisi "hardcore" teknologi seperti infrastruktur data yang sebenarnya punya margin dan nilai valuasi yang nggak main-main. Dia memberikan warna baru di daftar orang terkaya Indonesia yang biasanya didominasi oleh pengusaha rokok, bank, atau batu bara.

Sosok "Low Profile" di Balik Rekening "High Profile"

Yang paling keren dari Marina Budiman adalah pembawaannya yang tetap kalem meski uangnya sudah nggak berseri. Dalam berbagai interview atau kemunculan di publik, dia tetap terlihat profesional, teknis, dan sangat fokus pada fundamental bisnis. Nggak ada drama, nggak ada kontroversi nggak penting. Ini adalah tipe "Real Crazy Rich" yang sebenarnya—yang kaya karena produktivitas, bukan sekadar popularitas.

Gaya kepemimpinannya juga patut diacungi jempol. Di industri teknologi yang seringkali dianggap sebagai "panggungnya cowok", Marina mendobrak stigma itu. Dia membuktikan bahwa untuk membangun imperium teknologi, yang dibutuhkan bukan otot, melainkan otak yang encer dan ketahanan mental yang kuat. Dia adalah role model yang sempurna buat anak muda, terutama perempuan, yang ingin terjun ke dunia STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).

Kenapa Kita Harus Peduli?

Mungkin kamu berpikir, "Ya terus kalau dia kaya, hubungannya sama gue apa?" Well, keberhasilan Marina Budiman dan DCI Indonesia adalah sinyal bahwa kedaulatan digital Indonesia itu penting. Dengan adanya data center lokal yang mumpuni, data pribadi kita nggak perlu lagi mampir ke luar negeri dulu baru balik lagi ke sini. Ini soal keamanan nasional, kecepatan akses, dan tentu saja lapangan kerja di bidang teknologi tinggi.

Selain itu, cerita Marina memberikan kita perspektif baru soal kesuksesan. Di era yang serba instan ini, kita sering lupa bahwa bisnis yang solid itu dibangun bertahun-tahun. Marina memulai kariernya di Sigma Cipta Caraka pada era 80-an sebelum akhirnya mendirikan DCI. Ada jam terbang yang sangat panjang di sana. Jadi, kalau sekarang kamu merasa progresmu lambat, ingatlah bahwa Marina Budiman butuh puluhan tahun untuk sampai di titik Rp104 triliun ini.

Penutup: Pelajaran dari Sang Ratu Data

Marina Budiman dengan US$6,7 miliarnya bukan sekadar angka di atas kertas. Dia adalah simbol transisi ekonomi Indonesia dari berbasis sumber daya alam menuju ekonomi berbasis pengetahuan dan teknologi. Dia menunjukkan bahwa menjadi kaya raya itu bisa dilakukan dengan cara yang elegan: bekerja keras dalam diam, membangun infrastruktur yang bermanfaat bagi orang banyak, dan biarkan nilai saham yang berbicara.

Jadi, lain kali kalau internet kamu terasa cepat dan stabil saat streaming film favorit, mungkin kamu bisa membatin sedikit terima kasih buat sosok Marina Budiman. Tanpa "gudang-gudang" canggih yang dia bangun, dunia digital kita mungkin nggak bakal senyaman sekarang. Dan buat kamu yang lagi merintis karier atau bisnis, semoga cerita Marina ini jadi booster semangat kalau sukses itu memang butuh proses, tapi hasilnya bisa sangat, sangat manis.

Tags