Jumat, 12 Juni 2026
Amandit FM
Kesehatan

Mengapa Kamu Merasa Cemas Setelah Main Game? Ini Penjelasannya

Hafizah Fikriah Waskan - Wednesday, 03 June 2026 | 08:00 PM

Background
Mengapa Kamu Merasa Cemas Setelah Main Game? Ini Penjelasannya
(Pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Antara Push Rank dan IPK: Benarkah Game Online Musuh Bebuyutan Nilai Bagus?

Bayangkan skenario ini: jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Mata sudah merah, jempol mulai kapalan, dan baterai HP tinggal lima persen. Di layar, tulisan "Victory" terpampang nyata setelah perjuangan sengit melawan tim musuh yang toxic-nya minta ampun. Kamu merasa puas, ada ledakan dopamin yang bikin kamu merasa jadi penguasa dunia. Tapi kemudian, kamu menoleh ke meja belajar. Ada buku kalkulus atau tumpukan tugas sejarah yang belum tersentuh sama sekali. Tiba-tiba, rasa menang itu menguap, digantikan oleh rasa cemas yang menusuk-nusuk ulu hati.

Selamat datang di dilema abadi generasi Z dan Alpha: hubungan cinta-benci antara game online dan prestasi belajar. Selama bertahun-tahun, game online selalu jadi kambing hitam kalau ada anak sekolah yang nilainya anjlok. "Gara-gara main game terus nih!" begitu biasanya omelan orang tua atau guru. Tapi, beneran nggak sih game online itu sejahat itu? Atau jangan-jangan kita cuma butuh kambing hitam buat manajemen waktu kita yang emang berantakan?

Stigma Jadul vs Realita Digital

Dulu, orang yang main game sering dicap sebagai "pengangguran masa depan" atau orang yang nggak punya sosialisasi. Tapi lihat sekarang, esport sudah jadi cabang olahraga resmi, dan banyak streamer yang penghasilannya bikin geleng-geleng kepala. Namun, di dunia akademis, stigma itu masih kuat. Ada anggapan kalau otak kita bakal "mencair" kalau terlalu sering melihat layar.

Padahal, kalau kita mau jujur, game online itu kayak pisau bermata dua. Di satu sisi, main game kayak Mobile Legends, Valorant, atau Genshin Impact itu butuh kerja otak yang nggak main-main. Kamu butuh strategi, kecepatan tangan (fast hand), kerja sama tim, sampai kemampuan analisa situasi dalam waktu sepersekian detik. Bukannya itu semua adalah soft skill yang juga berguna di dunia nyata? Masalahnya, dunia sekolah seringkali nggak menilai seberapa jago kamu nge-flank musuh, tapi seberapa hafal kamu sama rumus Pythagoras.

Dopamin yang Bikin Nagih dan Fokus yang Terbelah

Kenapa sih kita lebih milih main game daripada ngerjain tugas? Jawabannya sederhana: sistem reward. Di game, kalau kamu menang, kamu langsung dapat poin, naik rank, atau dapat skin baru. Ada kepuasan instan. Sedangkan di belajar? Kamu harus nunggu berbulan-bulan sampai ujian keluar cuma buat dapat selembar kertas bertuliskan angka. Jelas kalah jauh daya tariknya.

Pengaruh paling nyata dari game online terhadap prestasi belajar sebenarnya bukan terletak pada konten gamenya, melainkan pada durasinya. Waktu itu sumber daya yang paling adil sekaligus paling kejam; semua orang punya 24 jam. Kalau kamu pakai 6 jam buat mabar (main bareng), otomatis jatah buat belajar, istirahat, dan ngerjain tugas bakal terpangkas habis. Hasilnya? Besoknya di sekolah kamu bakal ngantuk berat. Otak yang kurang tidur itu kayak komputer yang RAM-nya sisa dikit; lemot banget buat diajak mikir materi pelajaran yang berat.

Prestasi yang Terjun Bebas atau Malah Terdorong?

Beberapa penelitian sebenarnya menunjukkan hasil yang menarik. Nggak semua gamer itu nilainya jelek. Ada lho mereka yang masuk kategori "pro" di game tapi tetap jadi bintang kelas. Rahasianya biasanya ada di disiplin yang super ketat. Mereka menjadikan game sebagai self-reward setelah beres ngerjain kewajiban.

Tapi bagi kebanyakan dari kita yang "iman"-nya masih goyah, game online seringkali jadi pelarian dari stres sekolah. Masalahnya, pelarian ini sering kebablasan. Fenomena "satu match lagi" adalah kebohongan terbesar yang sering kita katakan pada diri sendiri. Satu match berubah jadi lima, dan tanpa sadar matahari sudah terbit. Di titik inilah prestasi belajar mulai terancam. Konsentrasi menurun, tugas dikerjakan asal-asalan (yang penting kumpul), dan akhirnya pemahaman terhadap materi jadi nol besar.

Opini Jujur: Salah Gamenya atau Salah Kita?

Kalau kita mau objektif, nyalahin game doang itu rasanya nggak adil. Game online cuma media. Sama aja kayak orang yang kecanduan nonton drakor atau scroll TikTok sampai pagi. Masalah utamanya adalah kontrol diri yang seringkali setipis tisu. Kita hidup di era distraksi, di mana segala sesuatu dirancang untuk bikin kita betah lama-lama di depan layar.

Observasi saya di lapangan, anak-anak yang prestasi belajarnya turun gara-gara game biasanya bukan karena mereka "kurang pintar", tapi karena mereka kehilangan minat pada sistem pendidikan yang kerasa membosankan dibanding dinamika di dalam game. Sekolah terasa seperti "grinding" yang nggak ada ujungnya, sementara di game, progresnya kelihatan nyata.

Mencari Jalan Tengah di Tengah Gempuran Meta

Terus gimana dong solusinya? Apakah kita harus hapus semua game dari HP? Ya nggak juga, itu mah ekstrem banget dan biasanya cuma bertahan dua hari sebelum akhirnya di-download lagi. Kuncinya adalah moderasi. Berikut beberapa observasi ringan tentang cara survive jadi gamer sekaligus pelajar:

  • Tahu Batas: Pasang alarm atau batasi waktu main. Kalau sudah waktunya belajar, ya HP-nya ditaruh di ruangan lain.
  • Jadikan Game Sebagai Hadiah: Jangan main game sebelum tugas selesai. Rasanya bakal jauh lebih tenang main tanpa beban pikiran tugas yang numpuk.
  • Pilih Lingkaran Pertemanan: Kalau teman mabar kamu tipenya yang ngajak bolos demi push rank, mungkin saatnya cari teman mabar yang juga peduli sama pendidikan.
  • Tidur Itu Investasi: Serius, jangan korbankan waktu tidur buat game. Otak yang fresh jauh lebih berharga daripada rank Mythic atau Immortal sekalipun saat ujian tiba.

Pada akhirnya, game online dan prestasi belajar itu nggak harus jadi musuh bebuyutan. Keduanya bisa hidup berdampingan kalau kita tahu porsinya. Game bisa jadi sarana buat refreshing dan melatih logika, sementara belajar adalah bekal buat masa depan yang lebih pasti. Jangan sampai gara-gara terlalu fokus nge-push rank di dunia virtual, rank kamu di dunia nyata (alias masa depanmu) malah terjun bebas ke kasta terbawah. Ingat, di kehidupan nyata, nggak ada tombol "respawn" kalau kamu gagal di masa muda.

Tags