Kamis, 25 Juni 2026
Amandit FM
Science & Technology

Mengenal Generasi Alfa: Para Penguasa Layar yang Bikin Gen Z Merasa Tua

Hafizah Fikriah Waskan - Wednesday, 13 May 2026 | 06:00 PM

Background
Mengenal Generasi Alfa: Para Penguasa Layar yang Bikin Gen Z Merasa Tua
Gen Alfa (Pexels.com/ Pavel Danilyuk )

Pernah nggak sih kalian lagi nongkrong di kafe, terus di meja sebelah ada bocah umur empat atau lima tahun yang anteng banget bukan karena dikasih buku mewarnai, tapi karena jarinya udah lihai banget nge-scroll TikTok atau YouTube Shorts? Kalau pernah, selamat, kalian baru saja berpapasan dengan anggota dari Generasi Alfa. Sebuah generasi yang lahir saat teknologi bukan lagi barang mewah, melainkan sudah seperti oksigen: ada di mana-mana dan nggak bisa hidup tanpanya.

Beberapa tahun lalu, kita mungkin masih sibuk ngomongin betapa "ajaibnya" kelakuan Gen Z dengan segala bahasa slang dan drama Twitter-nya. Tapi, waktu terus berjalan, dan sekarang takhta "si paling muda" mulai bergeser. Gen Z sekarang sudah mulai masuk dunia kerja, mulai pusing mikirin cicilan, dan tiba-tiba saja mereka merasa "jompo" ketika melihat adik-adik atau keponakan mereka yang masuk kategori Generasi Alfa ini punya cara hidup yang bener-bener beda.

Sebenarnya, Siapa sih Mereka dan Lahir Tahun Berapa?

Istilah Generasi Alfa pertama kali dicetuskan oleh Mark McCrindle, seorang analis sosial asal Australia. Menurut hitung-hitungannya, Generasi Alfa adalah mereka yang lahir di rentang tahun 2010 hingga 2024. Kenapa mulai dari 2010? Jawabannya simpel tapi puitis: 2010 adalah tahun yang sama ketika iPad pertama kali diluncurkan dan Instagram baru saja lahir. Jadi, Generasi Alfa lahir tepat di titik balik sejarah digital dunia.

McRindle memilih nama "Alfa" bukan tanpa alasan. Setelah Generasi Z selesai (yang merupakan huruf terakhir di alfabet Latin), dia merasa kita butuh awal yang baru. Maka, dipilihlah huruf pertama dari alfabet Yunani. Harapannya, generasi ini bakal jadi pembuka babak baru dalam sejarah manusia yang bener-bener berbeda dari generasi sebelumnya. Kalau dihitung-hitung, sekarang anak-anak tertua dari Generasi Alfa sudah mulai masuk masa remaja awal (sekitar umur 13-14 tahun), sementara yang paling bungsu masih berupa rencana atau baru saja lahir tahun ini.

Generasi "Glass" yang Nggak Kenal Dunia Tanpa Internet

Kalau milenial dulu masih ngerasain gimana ribetnya dengerin lagu dari kaset pita yang harus diputar pakai pensil, atau Gen Z yang masih sempat ngerasain masa-masa transisi ke smartphone, Generasi Alfa ini beda cerita. Mereka sering dijuluki sebagai "Generation Glass" atau Generasi Kaca. Kenapa? Karena interaksi utama mereka dengan dunia luar seringkali dimediasi oleh layar kaca—entah itu tablet, HP, atau TV pintar.

Bagi mereka, internet bukan sesuatu yang harus "dikoneksikan", tapi sesuatu yang "selalu ada". Bayangin aja, anak Alfa mungkin bakal bingung kalau dikasih telepon rumah yang ada kabelnya, atau lebih parah lagi, mereka mungkin mencoba "men-swipe" halaman buku fisik karena mengira itu layar sentuh. Kedengarannya lucu, tapi ini menunjukkan betapa dalamnya teknologi merasuk ke kognisi mereka sejak bayi.

Pandemi COVID-19: Ujian Mental Sejak Dini

Salah satu peristiwa yang paling membentuk karakter Generasi Alfa adalah pandemi COVID-19. Saat anak-anak generasi sebelumnya bisa lari-larian bebas di lapangan sekolah, sebagian besar anak Alfa harus menghabiskan masa-masa emas sosialisasi mereka di depan layar laptop lewat Zoom atau Google Meet. Mereka belajar mengeja, berhitung, bahkan berteman lewat kotak-kotak kecil di layar.

Efeknya? Jujurly, ini agak ngeri-ngeri sedap. Di satu sisi, mereka jadi jago banget pakai tools digital. Di sisi lain, ada kekhawatiran soal kemampuan empati dan interaksi sosial secara langsung. Mereka mungkin lebih nyaman ngobrol lewat fitur chat di game Roblox daripada harus menyapa tetangga depan rumah. Fenomena "Skibidi Toilet" atau meme-meme absurd lainnya yang hanya dimengerti oleh mereka adalah bukti betapa masifnya pengaruh budaya internet yang mereka konsumsi tanpa filter sejak dini.

Gaya Hidup dan Konsumsi: Bukan Lagi Korban Iklan TV

Jangan harap bisa merayu anak Generasi Alfa pakai iklan televisi yang muncul di sela-sela kartun hari Minggu. Mereka nggak nonton TV kabel! Mereka adalah penonton setia YouTuber cilik atau influencer mainan yang punya jutaan subscriber. Cara mereka mengonsumsi sesuatu sangat dipengaruhi oleh apa yang lagi trending di algoritma mereka.

Anak-anak Alfa juga punya kesadaran yang lebih tinggi soal isu global. Karena informasi begitu mudah diakses, jangan kaget kalau ada anak SD yang tiba-tiba tanya soal perubahan iklim atau kenapa plastik itu jahat buat penyu. Mereka tumbuh di era di mana dunia terasa sangat sempit dan masalah di belahan bumi lain bisa langsung mampir ke layar HP mereka. Mereka punya potensi jadi generasi paling terdidik sekaligus paling vokal di masa depan.

Tantangan Buat Kita (dan Para Orang Tua)

Menghadapi Generasi Alfa itu tantangan tersendiri buat orang tua mereka (yang rata-rata adalah milenial). Ada dilema besar: mau dilarang pakai gadget tapi sekolahnya butuh internet, mau dibebasin tapi takut kena dampak negatif konten sampah. Istilah "iPad Kids" seringkali dipakai secara negatif untuk menyindir anak-anak yang nggak bisa lepas dari layar, tapi jujur saja, kita semua punya andil dalam menciptakan lingkungan digital ini.

Pada akhirnya, Generasi Alfa bukan sekadar "generasi layar". Mereka adalah anak-anak yang lahir di masa transisi besar peradaban manusia menuju kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi. Mereka adalah orang-orang yang nantinya akan menganggap AI sebagai teman kerja biasa, bukan teknologi yang menakutkan.

Jadi, kalau besok-besok kamu ketemu bocah yang ngomongnya pakai bahasa yang nggak kamu ngerti atau mereka lebih jago benerin setelan Wi-Fi daripada kamu, jangan baper. Itu tandanya kamu memang sudah resmi jadi "senior". Tugas kita sekarang bukan cuma memantau mereka, tapi juga belajar memahami cara pikir mereka yang serba cepat. Karena suka atau nggak suka, masa depan dunia ada di jempol mungil mereka yang sekarang lagi asyik nge-scroll entah apa di layar kaca itu.

Tags