Kamis, 19 Maret 2026
Amandit FM
Hiburan

Mengenang Prince: Si Mungil Berbaju Renda Penguasa Era 80-an

Hafizah Fikriah Waskan - Thursday, 19 March 2026 | 02:00 PM

Background
Mengenang Prince: Si Mungil Berbaju Renda Penguasa Era 80-an
Prince (Billboard.com/Prince)

Prince: Sang Jenius Ungu yang Terlalu Keren untuk Dunia Ini

Kalau kita ngomongin soal ikon musik pop tahun 80-an, biasanya otak kita otomatis bakal langsung kepikiran Michael Jackson atau Madonna. Tapi, ada satu sosok yang sebenernya level "dewa"-nya mungkin melampaui siapapun di generasinya. Sosok mungil, berambut kriting, sering pake sepatu hak tinggi, baju penuh renda-renda, dan identik banget sama warna ungu. Ya, siapa lagi kalau bukan Prince Rogers Nelson, alias Prince.

Prince itu bukan cuma sekadar penyanyi yang jago bikin lagu hits. Dia itu sebuah fenomena. Kalau diibaratkan makanan, Prince itu kayak paket komplit yang rasanya pedes, manis, asem, sekaligus gurih di saat yang bersamaan. Dia adalah bukti nyata bahwa seseorang bisa jadi maskulin dan feminin secara bersamaan tanpa kehilangan karismanya sedikit pun. Bayangin aja, dia bisa tampil di panggung pake celana ketat dan rumbai-rumbai, tapi begitu jarinya metik gitar elektrik, semua cowok macho di barisan depan langsung merasa minder.

Si Multi-Instrumentalis yang Agak "Sinting"

Satu hal yang bikin Prince beda dari popstar lainnya adalah skill musiknya yang di luar nalar. Di album debutnya yang berjudul For You (1978), Prince nggak cuma nyanyi. Dia memainkan 27 jenis instrumen musik sendirian! Mulai dari drum, bass, gitar, keyboard, sampai tetek bengek lainnya. Gila, nggak tuh? Musisi lain biasanya butuh satu band full buat rekaman, tapi Prince cuma butuh cermin dan segelas air putih (mungkin) buat nyelesaiin satu album.

Etos kerjanya juga bener-bener gila. Di rumah sekaligus studionya yang terkenal, Paisley Park, konon lampunya nggak pernah mati. Prince bisa bangun jam 3 pagi gara-gara dapet inspirasi, terus langsung lari ke studio buat rekaman. Kabarnya, ada ribuan lagu yang belum pernah dirilis yang tersimpan di sebuah "vault" atau brankas rahasia di sana. Prince itu ibarat keran air yang bocor; kreativitasnya ngalir terus tanpa henti sampai akhir hayatnya.

Lawan Arus dan Berani Ribut sama Label

Prince bukan tipe orang yang nurut-nurut aja sama kemauan industri. Masih inget nggak pas dia tiba-tiba ganti namanya jadi simbol yang nggak bisa dieja? Media akhirnya nyebut dia sebagai "The Artist Formerly Known as Prince". Itu bukan karena dia lagi pengen cari sensasi atau pengen terlihat filosofis, tapi itu adalah bentuk protes keras dia ke label rekaman Warner Bros.

Dia merasa kayak "budak" (dia bahkan pernah nulis kata SLAVE di pipinya pas lagi tampil) karena masalah kepemilikan master lagu. Di zaman itu, belum banyak musisi yang berani terang-terangan ngelawan raksasa industri kayak dia. Prince pengen punya kendali penuh atas karyanya. Dia pengen bebas ngerilis lagu kapan aja dia mau, tanpa harus nunggu jadwal marketing dari kantor pusat yang kaku. Ini yang bikin dia jadi pahlawan buat musisi-musisi independen di masa depan. Dia ngajarin kita kalau integritas seni itu harganya mahal dan harus diperjuangin mati-matian.

Gaya yang Mendahului Zaman

Ngomongin Prince nggak afdol kalau nggak bahas fashionnya. Kalau sekarang kita liat Harry Styles atau musisi Gen Z lainnya pake baju gender-fluid, Prince udah ngelakuin itu puluhan tahun lalu dengan level kepercayaan diri yang mentok langit. Dia bisa pake crop top, legging macan, atau baju transparan, tapi tetep keliatan sangat berwibawa.

Lagu "Purple Rain" bukan cuma sekadar lagu buat galau, tapi itu adalah lagu kebangsaan bagi siapa saja yang merasa "beda". Prince memberikan ruang buat orang-orang yang merasa nggak cocok sama standar masyarakat. Dia nunjukin kalau jadi "aneh" itu sebenernya adalah kekuatan super. Nggak heran kalau pengaruhnya masuk ke segala genre, dari funk, rock, R&B, sampe synth-pop. Dia itu kayak jembatan yang nyambungin banyak selera musik yang beda-beda.

Warisan yang Tak Tergantikan

Waktu Prince meninggal tahun 2016, dunia bener-bener berasa kehilangan warna ungunya. Banyak yang kaget karena selama ini Prince keliatan sehat dan penuh energi. Tapi ya itu tadi, sosok legendaris biasanya memang punya cara sendiri buat pamit. Dia pergi ninggalin warisan yang luar biasa luas, mulai dari lagu-lagu legendaris kayak "Kiss", "When Doves Cry", sampai "Little Red Corvette".

Jujur aja, di era sekarang yang serba digital dan penuh dengan settingan, kita butuh lebih banyak sosok kayak Prince. Sosok yang bener-bener murni berkarya karena cinta sama musik, yang nggak takut keliatan konyol demi eksperimen, dan yang selalu percaya kalau musik bisa jadi alat buat ngerubah dunia. Prince mungkin udah nggak ada secara fisik, tapi tiap kali kita denger raungan gitarnya yang seksi itu, kita tahu kalau si Jenius Ungu ini bakal tetep hidup selamanya. Jadi, kalau kalian lagi ngerasa kurang pede atau butuh suntikan semangat, coba deh dengerin satu album Prince. Dijamin, kalian bakal ngerasa jadi orang paling keren di ruangan itu.

Tags